spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Ketua Lembaga Biblika Indonesia Pastor Albertus Purnomo, OFM: Saling Mendoakan sebagai Murid Kristus

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 17 Mei 2026. Hari Minggu Paskah VII. Kis.1:12-14; Mzm.27:1,4,7-8a; 1Ptr.4:13-16; Yoh.17:1-11a

“TRADISI Kristiani dengan tepat menyebut doa ini sebagai doa ‘Imam Agung’ Yesus. Inilah doa dari Imam Agung kita, yang tidak terpisahkan dari pengurbanan-Nya, serta dari perjalanan (Paskah)-Nya menuju Bapa, tempat Ia sepenuhnya dikuduskan”. Kutipan dari Katekismus Gereja Katolik (art. 2747) ini merujuk pada doa Yesus dalam Injil Yohanes 17.

Doa terpanjang yang tercatat dalam Perjanjian Baru ini, disebut sebagai ‘Doa Imam Agung’ karena Yesus tampil sebagai imam yang menjadi pengantara doa antara Bapa-Nya dan para murid-Nya. Doa ini diucapkan oleh Yesus, persis pada malam sebelum ia dikhianati dan ditangkap untuk kemudian mengalami sengsara, wafat, dan kebangkitan.

Terlepas dari persoalan bagaimana doa yang panjang ini dicatat, doa ini pertama-tama menyingkapkan keinginan Yesus yang terdalam bagi diri-Nya sendiri, bagi para murid-Nya, dan bagi setiap orang percaya kepadanya di masa yang akan datang, termasuk kita, para murid-Nya sekarang ini.

Baca Juga:  Pernyataan Sikap Jaringan Antar Iman Indonesia Tolak Perdagangan Orang (JAITPO): Darurat Perdagangan Orang: Negara Absen, Sindikat Berkuasa, Rakyat Dijual

Dalam kutipan doa itu (Yoh. 17:1-11), Yesus berdoa pertama-tama untuk diri-Nya sendiri dan kemudian untuk para murid-Nya. Kepada Bapa-Nya, Yesus memohon untuk kemuliaan-Nya: “…permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” Bagaimana, kapan dan di mana Yesus dipermuliakan? Jawabannya adalah di atas salib. Alih-alih sebuah doa permohonan, ini sesungguhnya adalah ungkapan kesediaan Yesus secara bebas untuk masuk ke dalam rencana Bapa-Nya, yang digenapi dalam sengsara dan kematian, serta akhirnya tergenapi dalam kebangkitan-Nya.

Di salib, seperti seorang imam, Ia menjadi pengantara sekaligus kurban bagi Bapa-Nya, yang memberikan keselamatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Salib adalah puncak kasih, ketaatan dan penyerahan diri Yesus kepada kehendak Bapa-Nya. Inilah kemuliaan Yesus, yang serentak kemuliaan Bapa.

Setelah itu, dengan penuh belas kasih, Yesus berdoa bagi kelompok kecil, yaitu para murid yang percaya dan setia kepada-Nya. Ia menyadari, kelompok kecil ini adalah anugerah dari Bapa kepada-Nya. Itulah sebabnya, ia bertanggung jawab atas keselamatan mereka. Namun, ia tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa pemuliaan diri-Nya di salib akan membuat mereka terpisah secara jasmani dengan diri-Nya. Mereka yang masih rapuh, akan ditinggalkan di tengah dunia yang jelas-jelas memusuhi mereka.

Baca Juga:  Yang Terbaru dari Majalah HIDUP Edisi Nomor 20

Dalam doa ini, seperti layaknya seorang gembala yang memperhatikan kawanannya, Yesus juga memperhatikan para murid-Nya dengan mendoakan mereka. Di hadapan Bapa-Nya, Yesus menyatakan, karena para murid-Nya adalah milik-Nya, maka mereka juga adalah milik Bapa. Karena itu, Yesus berdoa agar Bapa melindungi mereka dari segala kejahatan yang mengancam mereka.

Inspirasi rohani apa yang ditemukan dalam doa Yesus ini bagi kita, para murid-Nya sekarang ini? Seperti Yesus yang mendoakan keselamatan para murid yang menjadi tanggung-jawab-Nya, demikianlah juga kita hendaknya mendoakan mereka yang dianugerahkan kepada kita dalam keluarga, persahabatan, komunitas, Gereja, dan masyarakat.

Saat kita menerima Sakramen Pembaptisan, kita berpartisipasi dalam imamat Kristus. Karena tugas utama imam adalah sebagai perantara doa bagi Allah dan manusia, maka salah satu wujud nyata partisipasi dalam imamat Kristus adalah mendoakan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk mereka yang memiliki relasi dan memberikan pengaruh dalam kehidupan kita.

Baca Juga:  Caritas Indonesia Perkuat Kolaborasi Respons Kebencanaan dengan Lembaga, Organisasi, Rumah Sakit, dan Kongregasi/Tarekat

Mengapa sebagai sesama murid Kristus kita hendaknya saling mendoakan? Sebab, kita masih berada di dunia, yang penuh dengan ancaman dan bahaya dari kejahatan. Untuk para murid-Nya, Yesus tidak berdoa agar kejahatan itu lenyap, tetapi agar mereka diberikan kekuatan rohani, ketabahan untuk bertahan hidup di tengah dunia ini.

Demikian pula dengan kita, kita saling mendoakan supaya memiliki ketabahan dan ketekunan untuk terus berjalan maju dalam jalan Tuhan, dan bukan melarikan diri dari dunia yang bercokol ancaman si Jahat yang menghancurkan. Seperti Yesus berdoa kepada Bapa, marilah kita juga mohon kepada Bapa, semoga kita sebagai murid Kristus, selalu diberikan perlindungan dan kekuatan spiritual supaya kita tetap setia di jalan Tuhan dan mencapai kemuliaan bersama Kristus.

Wujud nyata partisipasi dalam imamat Kristus adalah mendoakan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles