spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Hebat di Luar, Heboh di Dalam; Uskup Mandagi: Kalau Keluarga Katolik Kacau, Gereja Kacau

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Kelompok Kaum Bapa Katolik Keuskupan Agung Merauke (KAMe) sukses menggelar kegiatan pembinaan dan penyegaran rohani yang mengangkat tema menggelitik namun sarat makna, yakni “Hebat di Luar, Heboh di Dalam”. Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan rohani ini dilaksanakan di Rumah Bina Kelapa Lima, Merauke, dan dihadiri oleh 63 pasangan suami istri (pasutri) Katolik yang antusias menggali makna panggilan hidup berkeluarga.

Acara ini menjadi sangat istimewa dengan kehadiran langsung Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC yang bertindak sebagai pemateri utama. Turut hadir mendampingi dan memberikan dukungan penuh dalam kegiatan ini adalah dua imam keuskupan, yakni Pastor Tio Refwutu dan Pastor Roy Sugianto. Kehadiran 63 pasutri dalam kegiatan yang digagas khusus oleh Kaum Bapa Katolik KAMe ini menunjukkan komitmen dan kerinduan umat untuk terus mengevaluasi serta memperbaiki kualitas kehidupan rumah tangga mereka di tengah tantangan zaman.

Baca Juga:  "Catatan Kecil" Menyambut Harkitnas: Pemimpin, Bangkitlah Memihak Rakyat

​Dalam sesi pengajarannya, Mgr. Mandagi mengupas tuntas realitas kehidupan keluarga Katolik masa kini. Tema “Hebat di Luar, Heboh di Dalam” disoroti sebagai peringatan keras terhadap fenomena hipokrisi, di mana seseorang, terutama figur seorang bapa, mungkin terlihat sukses, berwibawa, dan sangat aktif di tengah masyarakat maupun lingkungan gereja, namun justru gagal menghadirkan kedamaian di dalam rumah tangganya sendiri.

​”Gereja tidak bisa hidup tanpa keluarga-keluarga. Kalau keluarga Katolik kacau, Gereja kacau,” tegas Uskup Mandagi. Ia menekankan doktrin Gereja bahwa keluarga adalah Ecclesia Domestica atau Gereja Kecil. Dari keluarga yang baiklah lahir para imam, pelayan Tuhan, dan umat yang tangguh.

​Lebih lanjut, Uskup yang dikenal dengan gaya bicaranya yang tegas dan blak-blakan ini membedah tiga ancaman utama zaman modern yang sering memicu “kehebohan” dan merusak ikatan sakramen perkawinan: egoisme (mementingkan diri sendiri), materialisme (mengutamakan harta/uang), dan hedonisme (mengutamakan kesenangan duniawi).

Baca Juga:  Dari Kamp Pengungsi ke Grand Prix Taekwondo Dunia, Kesempatan Bertemu Paus Leo

​Selain menyoroti dinamika internal keluarga, Mgr. Mandagi juga memanfaatkan momentum perjumpaan dengan tokoh-tokoh umat ini untuk menyerukan pentingnya menjaga kesatuan Gereja di Keuskupan Agung Merauke. Ia mengingatkan dengan keras agar tidak ada pihak, baik imam maupun awam yang mencoba memecah belah dan merusak persatuan Gereja hanya demi kepentingan politik praktis atau ekonomi sesaat.

Sebagai penawar dan solusi atas segala krisis dan pertengkaran dalam rumah tangga, Uskup Mandagi memberikan satu kunci pamungkas yang harus dipegang teguh oleh ke-63 pasutri yang hadir: Amor Omnia Vincit (Cinta mengatasi segala-galanya).

​Ia berpesan bahwa karena tidak ada manusia dan keluarga yang sempurna, maka cinta harus diwujudkan dalam bentuk yang paling nyata, yaitu pengampunan. “Pengampunan adalah obat penyembuh jiwa dan kunci kebahagiaan. Saling memaafkan itu wajib,” pesan Uskup seraya membagikan kesaksian hidup keluarganya sendiri yang bersahaja dari Kamangta, Manado.

Baca Juga:  Pesan Paus Leo pada Hari Komsos Sedunia: Teknologi Harus Melayani Manusia, Bukan Menggantikannya

Kegiatan di Rumah Bina Kelapa Lima ini ditutup dengan semangat pembaruan janji dan komitmen dari para peserta. Melalui prakarsa Kaum Bapa Katolik KAMe ini, para suami diharapkan semakin menyadari peran vital mereka: bukan hanya untuk menjadi sosok yang hebat, sukses, dan dihormati di luar rumah, tetapi yang paling utama adalah menjadi gembala yang mampu menghadirkan cinta kasih, pengampunan, dan kekudusan di dalam keluarganya sendiri.

Pastor Roy Sugianto (Merauke)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles