HIDUPKATOLIK.COM – Asia, dan secara khusus Indonesia, adalah ruang perjumpaan paling kompleks antara agama, budaya, etnis, dan kini juga teknologi digital.
Dengan lebih dari 17 ribu pulau, 700 bahasa daerah, dan enam agama resmi yang hidup berdampingan, Indonesia merupakan laboratorium nyata bagi kemanusiaan global dan sekaligus “miniatur dunia,”.
Tantangan kehidupan beriman yang muncul bukan lagi hanya soal pertentangan doktrin semata, melainkan soal bagaimana iman dihayati dan diwartakan di tengah kemajemukan, kemiskinan struktural, krisis ekologi, dan banjir informasi digital.
Paus Fransiskus dalam Veritatis Gaudium mengingatkan bahwa dunia perubahan zaman merupakan sebuah kairos yang menuntut lembaga pendidikan Gereja untuk keluar dari model berpikir yang tertutup dan monokultural.
Dalam konteks inilah, berteologi perlu menjadi model berpikir sinodal yang interkultural dan interdisipliner agar tetap relevan, membebaskan, dan menyentuh hidup nyata umat.
Berteologi interkulural dan interdisipliner merupakan jawaban terhadap seruan Paus Leo XIV dalam Magnifica Humanitas untuk menjaga martabat manusia sebagai pusat setiap refleksi di tengah percepatan perubahan teknologis.
Program Studi Doktor Teologi Interkultural berpijak pada keyakinan bahwa Allah sendiri telah hadir dan berkarya dalam budaya-budaya lokal jauh sebelum Injil datang secara eksplisit.
Veritatis Gaudium menegaskan bahwa kriteria pertama dan mendasar bagi pembaruan studi eklesiastik adalah kontemplasi spiritual, intelektual, dan eksistensial atas kerygma, yang kemudian harus berdialog di semua tingkat—dialog antaragama, antarbudaya, dan dengan setiap orang yang merindukan kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.
Di Asia, refleksi iman berdialektika dengan pelestarian kearifan lokal, seni, mitologi, dan struktur sosial masyarakat. Pendekatan interkultural menekankan model dialog dan inkulturasi sebagaimana yang dianjurkan Gereja pasca-Konsili Vatikan II.
Di Indonesia, berarti teologi berarti sebuah praksis dialog dengan tradisi Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, serta nilai-nilai Pancasila dan semangat gotong royong yang dilestarikan di berbagai komunitas lokal.
Fondasi ini penting agar Gereja tidak menjadi asing bagi bangsanya sendiri, tetapi sungguh menjadi Gereja yang berakar, berwajah lokal, dan mampu menjadi sahabat bagi semua—sebuah perwujudan konkret dari semangat “keluar” (exiit) yang digemakan Veritatis Gaudium bagi lembaga pendidikan Gereja di seluruh dunia.
Sementara itu, karakter interdisipliner menjadi jawaban atas kompleksitas kemanusiaan hari ini. Veritatis Gaudium secara eksplisit menempatkan interdisiplinaritas dan transdisiplinaritas sebagai kriteria kedua pembaruan studi teologi, sebab tak satu disiplin pun mampu menjawab sendirian persoalan-persoalan besar umat manusia zaman ini.
Persoalan anak di dunia digital, krisis iklim, kesehatan mental, migrasi, hingga etika kecerdasan buatan tidak bisa dijawab hanya dengan teks suci dan dokumen Gereja belaka. Magnifica Humanitas memperkuat urgensi ini dengan menegaskan bahwa kecerdasan buatan bukan sekadar tema tambahan atau krisis teknis yang harus dikelola, melainkan sebuah perubahan yang menantang kategori-kategori ajaran sosial Gereja dari dalam dan menuntut pengembangan lebih lanjut dalam kesetiaan pada Injil.
Teologi karena itu perlu berdialog dengan psikologi, antropologi, sosiologi, komunikasi, dan sains agar mampu membaca tanda-tanda zaman secara utuh. Seorang doktor teologi tidak cukup hanya menjadi ahli kitab, tetapi juga harus menjadi penerjemah iman yang cakap.
Sebagai contohnya, untuk merumuskan model pengembangan iman anak, seorang teolog perlu memahami algoritma media sosial dan teori perkembangan anak, sekaligus prinsip mistagogi dan teologi komuni, agar martabat manusia sebagai citra Allah, yang menjadi jantung Magnifica Humanitas, tidak tereduksi oleh logika instrumental teknologi.
Dengan demikian, Program Studi Doktor Teologi Interkultural dan Interdisipliner yang fondasional merupakan jawaban profetis atas kebutuhan Gereja dan masyarakat di Asia dan Indonesia, sekaligus perwujudan konkret dari visi pembaruan studi eklesiastik yang digariskan Veritatis Gaudium dan visi kemanusiaan yang dipertaruhkan dalam Magnifica Humanitas.
Program ini merupakan upaya membangun iklim berteologi secara sinodal untuk memfasilitasi para pemikir dan pemimpin pastoral yang mampu merefleksikan kemanusiaan secara integral: manusia sebagai citra Allah yang hidup dalam konteks budaya, menghadapi tantangan zaman di era digital, dan dipanggil untuk hidup dalam relasi serta persekutuan di tengah dunia yang kian terdigitalisasi.
Lulusan diharapkan menjadi jembatan antara iman dan budaya, antara Gereja dan masyarakat, antara tradisi dan inovasi, antara Injil dan dunia digital—menjadi, dalam bahasa Magnifica Humanitas, para “perajut harapan” di tengah zaman yang gelisah. Kontribusi terbesarnya adalah membantu Gereja di Asia dan Indonesia untuk semakin menjadi tanda dan sarana persatuan, berjalan bersama sebagai keluarga Allah menuju keselamatan dan hidup abadi.
C.B.Mulyatno, Pr
Dekan Fakultas Teologi USD





