HIDUPKATOLIK.COM– Devil in a Skirt (Setan dalam balutan rok), “Medjugorje adalah sebuah penyesatan“—demikian bunyi beberapa tulisan yang pada Selasa (28/7) dini hari tampak menghiasi patung Bunda Maria yang biasanya berwarna putih bersih di Bukit Penampakan (Apparition Hill) di Medjugorje. Tempat yang menjadi pusat ziarah ribuan peziarah itu telah dinodai secara terang-terangan di hadapan publik.
Pada malam Senin (27/7) hingga Selasa (28/7), serangkaian aksi vandalisme mengguncang Medjugorje, tempat ziarah Katolik terbesar di Bosnia dan Herzegovina. Seorang tersangka telah berhasil ditangkap. Selain mencoret-coret patung-patung Bunda Maria, pelaku juga membakar altar luar ruang Gereja Paroki Santo Yakobus di pusat kota. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan bahwa sebelumnya ia menyiram altar tersebut dengan cairan yang mudah terbakar, lalu menyalakan api.
Sekitar pukul 04.30 polisi menerima laporan pertama mengenai aksi vandalisme tersebut. Kira-kira tiga puluh menit kemudian, altar luar ruang terbakar. Api berhasil dipadamkan dengan cepat sehingga kerusakan yang lebih besar dapat dicegah.
Saat melakukan olah tempat kejadian perkara, penyidik menemukan sebuah spanduk berbahasa Polandia. Pada spanduk itu tertulis nama-nama orang yang mengaku sebagai para pelihat (visionaries) yang sejak tahun 1981 mengalami penampakan Bunda Maria. Tulisan tersebut berbunyi, “Ivanka, Mirjana, Milka, Vicka, Ivan dan Jakov adalah penipu. Saya memiliki buktinya!!!”
Di sudut spanduk juga tertulis “Jer 14:10–17″, yang kemungkinan merupakan rujukan kepada Kitab Yeremia. Bagian Kitab Suci tersebut berbicara mengenai nabi-nabi palsu, penglihatan-penglihatan palsu, serta penghakiman Allah terhadap mereka yang menyesatkan umat (Yeremia 14:10–17). Selain itu, pada patung Bunda Maria yang dirusak juga ditemukan angka 1242. Hingga kini belum diketahui apa makna angka tersebut.
Tersangka Pernah Berziarah ke Medjugorje
Pada sore harinya, polisi berhasil menangkap tersangka. Menurut media setempat, beberapa pemuda berhasil melumpuhkan pria tersebut dan menahannya hingga polisi tiba. Para saksi mengatakan bahwa pada awalnya tersangka mengaku sebagai warga Polandia, tetapi kemudian mengoreksi ucapannya dan menyatakan bahwa dirinya berasal dari Belanda. Setelah itu ia melarikan diri, namun tidak lama kemudian berhasil ditangkap kembali. Polisi menduga dialah pelaku yang membakar altar luar ruang sekaligus mencoret patung-patung Bunda Maria di Bukit Penampakan.
Media lokal melaporkan bahwa tersangka adalah seorang warga negara Polandia berusia 31 tahun yang berasal dari Warsawa. Pada tahun 2017, setelah didiagnosis mengalami depresi, ia pernah berziarah ke Medjugorje. Dalam berbagai wawancara media saat itu, ia menceritakan masa kecilnya yang sulit, kemiskinan yang dialaminya, serta pergumulannya dengan alkohol, narkoba dan kriminalitas.
Ia bahkan berjalan kaki sejauh sekitar 1.300 kilometer dari Warsawa menuju Medjugorje dalam waktu 57 hari. Perjalanan itu didokumentasikan melalui halaman Facebook Z buta do Maryi (Berjalan Kaki Menuju Maria), dan kemudian dijadikan sebuah film dokumenter.
Kecaman Keras
Para pemimpin Gereja Katolik maupun komunitas keagamaan lainnya mengecam keras aksi vandalisme tersebut. Uskup Mostar-Duvno, Petar Palić, mengatakan kepada stasiun televisi N1, “Terlepas dari adanya berbagai pandangan mengenai persoalan-persoalan tertentu yang berkaitan dengan Medjugorje – yang dinilai Gereja secara hati-hati menurut caranya sendiri – tidak ada satu pun yang dapat membenarkan kebencian, kekerasan, ataupun penodaan terhadap tempat doa.” Beliau juga mengajak umat agar tidak menanggapi peristiwa tersebut dengan kebencian atau penghakiman, melainkan dengan doa, pengampunan, dan kepercayaan kepada Allah.

Meskipun demikian, media sosial dengan cepat dipenuhi ujaran kebencian, polarisasi politik lokal serta berbagai teori konspirasi mengenai identitas, motif dan asal-usul tersangka, meskipun uskup maupun pihak paroki telah mengimbau agar masyarakat tidak berspekulasi.
Pastor Paroki Medjugorje, dalam pernyataan pertamanya, menyatakan keprihatinan yang mendalam dan menyebut peristiwa itu sebagai tindakan vandalisme terhadap sebuah tempat doa.
Bagian-bagian yang dirusak segera dibersihkan dan diperbaiki agar para peziarah tetap dapat berkunjung. Pada saat yang sama, umat diajak untuk berdoa. Menurut pihak paroki, pekerjaan pembersihan dimulai sejak pagi hari dan berlangsung hingga malam. Altar luar ruang yang rusak pun telah diperbaiki pada hari yang sama sehingga program doa malam dapat tetap dilaksanakan sesuai jadwal.
Dewan Antaragama Bosnia dan Herzegovina juga mengutuk keras tindakan tersebut. Menurut dewan itu, aksi vandalisme ini merusak perdamaian, sikap saling menghormati dan martabat manusia di negara yang dihuni oleh berbagai kelompok etnis tersebut. Dewan juga mendesak agar pihak berwenang segera mengungkap kasus ini serta mengingatkan masyarakat untuk menghindari spekulasi dan ujaran kebencian yang hanya akan memperdalam perpecahan.
Terjadi Menjelang Festival Kaum Muda
Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari sebelum dimulainya Mladifest, festival kaum muda yang menarik lebih dari 50.000 orang muda dari seluruh dunia ke Medjugorje. Tahun ini, kegiatan tersebut akan dimulai 1 Agustus dan kembali diharapkan kedatangan banyak peziarah dari lebih dari 30 negara.
Lampu Hijau, Tetapi dengan Sebuah Catatan Penting
Selama lebih dari empat puluh tahun, umat beriman dari seluruh dunia terus berdatangan ke Medjugorje.
Pada 25 Juni 2026, para peziarah dari lebih dari 30 negara memperingati 45 tahun sejak dugaan penampakan pertama Bunda Maria. Menurut kesaksian para pelihat – yang saat itu masih anak-anak atau remaja – rangkaian penampakan tersebut dimulai pada tanggal 25 Juni 1981. Hingga kini, tiga dari mereka masih menyatakan bahwa mereka mengalami penampakan setiap hari.
Menurut data paroki, sejak tahun 1981 lebih dari 50 juta orang telah mengunjungi tempat ziarah ini. Dengan demikian, Medjugorje kini menjadi salah satu pusat ziarah Katolik terbesar di dunia.
Gereja Katolik mengizinkan umat berdevosi kepada Bunda Maria di Medjugorje, namun hingga kini belum mengakui bahwa penampakan-penampakan tersebut benar-benar berasal dari peristiwa adikodrati.
Pada tahun 2024, Dikasteri untuk Ajaran Iman Vatikan yang dipimpin oleh Víctor Manuel Fernández memberikan penilaian pastoral yang positif terhadap devosi di Medjugorje. Namun, Roma berkali-kali menegaskan bahwa penilaian positif tersebut bukan berarti mengakui asal-usul adikodrati dari penampakan tersebut. Bahkan, berdasarkan norma baru Vatikan mengenai dugaan penampakan Maria yang diperbarui pada tahun yang sama, Gereja tidak lagi memberikan keputusan definitif mengenai apakah suatu penampakan benar-benar bersifat adikodrati.
Medjugorje terletak sekitar 100 kilometer di sebelah barat daya Sarajevo dan sejak tahun 1981 telah dikenal jauh melampaui kawasan Balkan. Vatikan telah beberapa kali menyelidiki laporan mengenai penampakan tersebut. Pada tahun 2017, Paus Fransiskus mengutus seorang Visitator Apostolik ke Medjugorje. Sejak November 2021, tugas itu dijalankan oleh Aldo Cavalli.
Tugas utamanya adalah mendampingi pelayanan pastoral di sebuah tempat yang memiliki makna rohani bagi jutaan umat Katolik. Kini tempat itu, untuk satu malam, bukan menjadi berita karena pesan damainya, melainkan karena aksi vandalisme yang menggemparkan dunia.
Diterjemahkan dari media katholisch.de

Bene Xavier (Kontriuor, Wins-Austria)





