HIDUPKATOLIK.COM – KABAR pertama setelah gempa mengguncang Flores adalah tentang gereja dan kapela yang rusak: tembok retak, plafon berjatuhan, bangunan yang tidak lagi aman dipakai. Rumah umat banyak yang lebih parah. Bagi kita gereja bukan sekadar gedung; ia dibangun bertahun-tahun dari hasil kebun, kayu, dan tenaga tanpa upah, dan di dalamnya anak-anak dibaptis serta orang tercinta diantar untuk terakhir kali. Karena itu melihatnya rusak selalu menyakitkan. Namun kemudian muncul pertanyaan lain: jika bangunannya tidak dapat digunakan, di manakah Gereja berada?
Batu yang Jatuh, Batu yang Hidup
Jawabannya saya temukan bukan di dalam gedung gereja, melainkan di bawah tenda, di posko pengungsian, pada tangan yang mengobati luka, dan di tengah kelompok kecil yang berdoa ketika tanah masih berguncang. Surat Pertama Petrus 2:5 menyebut umat beriman sebagai batu-batu hidup yang dibangun menjadi rumah rohani, dan Lumen Gentium memakai gambaran yang sama. Pada 1 April 2026, Paus Leo XIV kembali menyebut kaum awam sebagai batu hidup dan saksi di dunia. Beberapa bulan kemudian tanah Flores berguncang, dan gambaran itu berhenti menjadi kiasan. Saya tidak menganggapnya sebagai pertanda yang dikirim Tuhan, sebab bencana tidak boleh dipermudah menjadi kode ilahi; tetapi bencana dapat menyingkap apa yang selama ini luput dari perhatian. Saya melihat batu bangunan jatuh, dan pada saat yang sama batu hidup berdiri. Itu terjadi pada orang yang rumahnya sendiri rusak tetapi masih bisa menolong tetangganya, anak muda yang mau menjadi relawan, dan umat yang bahu-membahu mengatur distribusi sembako. Semuanya menjadi tanda Gereja sebagai batu hidup.
Saya Menemukan Gereja Sudah Berada di Sana
Sebagai uskup, naluri pertama saya adalah datang, mendengarkan, memberkati. Saya berangkat dengan pikiran sederhana: umat sedang menderita dan gembala mereka harus hadir. Namun setelah beberapa kunjungan, saya menyadari bahwa saya tidak sedang membawa Gereja kepada para korban. Gereja sudah lebih dahulu berada di sana — pada umat yang saling menjaga, pada dapur umum yang menyala sejak subuh, pada mereka yang kehilangan banyak hal tetapi masih menyediakan tempat bagi penderitaan orang lain. Di hadapan seorang ibu yang kehilangan rumah atau keluarga yang baru saja menguburkan anggotanya, jabatan apa pun terasa kecil; yang tersisa adalah kenyataan bahwa kami sama-sama murid Kristus yang berjalan dalam kerapuhan yang sama. Kata Santo Agustinus, “Untuk kamu aku seorang uskup; bersama kamu aku seorang Kristiani.” Saya berangkat untuk menguatkan umat, dan justru merekalah yang menguatkan saya.
Di Mana Tuhan ketika Tanah Berguncang?
Bencana selalu melahirkan pertanyaan tentang Tuhan, dan saya tidak berani memberi jawaban mudah. Kamar saya sendiri rusak; plafon berjatuhan dan sebuah bingkai besar roboh ke arah tempat tidur ketika saya tidak berada di sana. Namun saya tidak berani mengatakan bahwa Tuhan memilih menyelamatkan saya sementara orang lain tidak. Iman bukan kewajiban mengetahui semua jawaban; kadang ia adalah keberanian tinggal bersama pertanyaan tanpa meninggalkan mereka yang menderita. Kata Paus Fransiskus, luka Kristus masih dapat dijumpai pada saudara yang terluka; di sanalah Gereja harus berada.
Kristus Bangkit dengan Luka
Masa tanggap darurat akan berakhir, tenda dibongkar, kamera berpindah — tetapi korban tidak otomatis selesai menjadi korban. Rumah dapat dibangun kembali dalam beberapa bulan, luka batin bisa bertahun-tahun; ada anak yang takut masuk rumah, ada keluarga yang harus belajar menjalani meja makan dengan satu kursi yang selamanya kosong. Karena itu kita perlu berhati-hati dengan kata “bangkit”. Kristus bangkit, tetapi luka-Nya tidak lenyap. Kepada Thomas Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya. Bangkit bukan berarti kita tidak pernah terluka; bangkit berarti luka tidak lagi memegang kata terakhir atas hidup kita. Kita tidak perlu menyembunyikan air mata agar disebut beriman. Maka Gereja yang berjalan bersama para korban pun harus menjadi Gereja yang tidak takut melihat, mengingat, dan menyentuh luka.
Jangan Hanya Membangun Kembali Gedung
Perhatian terhadap luka itu juga menentukan cara kita membangun kembali. Rumah harus diperbaiki, gereja dan kapela dibuat lebih aman, sekolah dan fasilitas kesehatan lebih tangguh, sistem mitigasi diperkuat. Semua itu tidak dapat ditawar. Tetapi apakah yang hendak kita bangun kembali hanya gedungnya? Paroki perlu mempunyai kesiapsiagaan bencana, kelompok rentan perlu dikenali sebelum keadaan darurat, Caritas tidak boleh baru bekerja ketika musibah datang, dan pendampingan trauma mesti menjadi bagian pelayanan pastoral. Dan terutama, Ekaristi yang kita rayakan di dalam gereja harus terus mempunyai jalan menuju manusia yang menderita di luar gereja. Kita bisa membuat gedung tahan gempa, tetapi pekerjaan yang lebih sulit adalah membuat umat di dalamnya tidak mudah jatuh kembali ke dalam sikap tidak peduli.
Gereja Setelah Gempa
Saya tidak tahu berapa lama pemulihan ini berlangsung, tetapi kita tidak boleh sekadar kembali menjadi Gereja seperti sebelum 15 Agustus 2026. Kita telah melihat bahwa ketika altar tidak dapat dipakai iman tetap dirayakan, ketika gedung rusak persekutuan tetap hidup, dan ketika batu bangunan jatuh, batu-batu hidup dapat berdiri. Rahmat dari masa yang menyakitkan ini barangkali bukan jawaban mengapa gempa terjadi, melainkan penemuan kembali siapa kita: bukan pertama-tama pemilik gedung, melainkan Tubuh Kristus. Kita akan membangun kembali dinding yang roboh, tetapi pekerjaan yang lebih besar adalah memastikan bahwa ketika dinding itu berdiri, hati kita tidak kembali menjadi tembok.





