HIDUPKATOLIK.COM – Mentari perlahan semakin bergeser ke Barat. Lampu-lampu di Asilo Hermelink, Bandar Lampung mulai dinyalakan. Gemerisik lembut angin malam menggantikan sang mentari yang seharian bersinar panas.
Malam itu di aula gazebo Asilo Hermelink diadakan kenduri nasional. Sekitar 30 orang laki-laki duduk bersila di atas tikar pandan yang digelar. Mereka mengenakan pakaian adat Jawa. Diantara mereka adalah warga masyarakat sekitar beragama muslim.

Di atas meja diletakkan nampan besar beralaskan daun pisang berisi nasi tumpeng lengkap dengan ayam ingkung, urap, tempe kering, telur, sambal goreng kentang dll. Di dekat tumpeng itu ada sesaji yang dilengkapi dengan bunga tabur, air, kopi, dan kelapa muda. Di depan aula gazebo ada hiasan janur kuning dan hasil bumi.

Kenduri adalah sebuah tradisi leluhur yang terus dilestarikan. Kenduri juga sering disebut kenduren, adalah ritual doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Usai kenduri ada pembagian berkat – bungkusan makanan kenduri yang dibawa pulang untuk dibagikan kepada anggota keluarga di rumah.
Ungkapan syukur
Kenduri Nasional malam itu adalah salah satu rangkaian acara Hari Seni dan Budaya Keuskupan Tanjungkarang yang ditetapkan tanggal 25 Agustus. Menurut Koordinator Acara Hari Seni Budaya Keuskupan Tanjungkarang sekaligus Koordinator Asilo Hermelink, Pastor Yohanes Agus Susanto menjelaskan, kenduri nasional ini merupakan syukur atas berkat kepada bangsa dan tanah air Indonesia. Sekaligus silaturahmi, saling berjumpa, mengenal, dan mempererat persaudaraan sejati: lintas agama dan suku bangsa.

Kemudian ia menjelaskan, Hari Seni dan Budaya Keuskupan Tanjungkarang ditetapkan tanggal 25 Agustus karena bersamaan dengan bulan kemerdekaan. Menjadi momentum dalam melestarikan budaya Indonesia yang beraneka ragam tetapi tetap satu bangsa Indonesia.
Ia berharap, semua umat Allah khususnya Keuskupan Tanjungkarang berbondong-bondong melestarikan seni dan budaya. “Tidak hanya di tingkat Keuskupan, tetapi juga di paroki-paroki dan tingkat wilayah. Bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan guna melestarikan budaya dan memberikan wadah bagi para seniman, apa pun agamanya untuk bahu-membahu melestarikan budaya di nusantara,” katanya.
Tahun 2026 ini Hari Seni dan Budaya sebagian besar bernuansa Jawa. Tahun depan, budaya Lampung, tambahnya.
Mempersatukan keberagaman
Uskup Tanjungkarang Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo menjelaskan Keuskupan Tanjungkarang menetapkan Hari Seni dan Budaya sebagai sarana yang paling efektif untuk mempersatukan keberagaman.

Di tempat lain, kata Uskup, menggunakan sarana olahraga yang sering dipakai sebagai alat pemersatu. Namun, dengan seni dan budaya bisa masuk lebih dalam ke relung hati kita semua. Karena dengan seni yang indah dan budaya yang menarik kita bisa sampai pada harmoni antara manusia dengan alam yang sebetulnya diciptakan sangat indah bagi kita semua.
Kita ingin memaknai kemerdekaan yang sehati di negara kita bila kita sudah bersatu dan berjuang dengan cara mengutamakan kepentingan umum. Tidak pernah ada kesejahteraan umum tanpa yang paling miskin dan terlantar didahulukan. Ini sebagai bentuk keterlibatan Gereja Katolik khususnya Keuskupan Tanjungkarang.
“Manfaatkanlah momen yang berharga ini bahwa Gereja Katolik selalu siap dan hadir untuk membangun Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur seperti yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa kita,” ujar Uskup.
Sejak siang digelar pentas seni. Diantaranya: Tari Sigeh Pengunten, Tari Gambyong, Melukis, Solo Song Lagu Lampung, Tari Indonesia Menari, Tari Manuk Dadali, Tari Piring, Tari Kreasi, Tari Cendrawasih, Tari Papua, Tarian Garam dan Terang, Tari Tor-tor. Selain itu, Podcast Budaya dan Doa atas Bencana Alam di Flores, NTT.
Semakin malam para pengunjung semakin banyak. Malam itu adalah malam milik mereka bersama untuk saling berjumpa dalam persaudaraan. Para pengunjung menikmati sajian Campur Sari sambil menikmati soto dan kue-kue yang disediakan. Asilo Hermelink menjadi saksi indahnya hidup dalam persaudaraan sejati.

Sr. M. Fransiska, FSGM (Lampung)





