HIDUPKATOLIK.COM – Bencana ekologis berskala besar yang melanda kawasan pegunungan Himalaya di perbatasan Nepal dan Tibet pada akhir Agustus 2026 menjadi titik krusial bagi kesadaran iklim di Asia-Pasifik. Gerakan Laudato Si’ bekerja sama dengen Federation of Asian Bishops’ Conferences – Office of Human Development (FABC-OHD) dan Radio Veritas menyelenggarakan Doa Solidaritas Lints Iman.
Berikut teks lengkap siaran pers yang diterima HIDUPKATOLIK.COM.
JAKARTA / KATHMANDU (15 September 2026) Bencana ekologis berskala besar yang melanda kawasan pegunungan Himalaya di perbatasan Nepal dan Tibet pada akhir Agustus 2026 menjadi titik balik krusial bagi kesadaran iklim di Asia-Pasifik. Menanggapi tragedi tersebut, Gerakan Laudato Si’ (LSM) berkolaborasi dengan Federation of Asian Bishops’ Conferences – Office of Human Development (FABC-OHD) dan Radio Veritas Asia menyelenggarakan Doa Solidaritas Lintas Iman bertajuk “With Nepal: A Prayer of Solidarity, Healing and Hope”.
Acara yang mempertemukan pemuka agama, tokoh spiritual, aktivis lingkungan, dan jaringan masyarakat sipil dari Indonesia, Myanmar, Korea Selatan, Filipina, Timor-Leste, hingga Nepal ini bukan hanya dimaksudkan sebagai ruang duka dan belasungkawa. Perhelatan ini menegaskan seruan moral dan kenabian bersama: bahwa krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan krisis kemanusiaan, keadilan, dan spiritualitas global yang menuntut tindakan mendesak.
Tragedi di “Kutub Ketiga” Dunia: Peringatan Ekstrem dari Himalaya
Perhelatan doa bersama ini berlatar belakang tragedi banjir bandang dahsyat dan tanah longsor yang terjadi pada 26 Agustus 2026. Kegagalan struktur lapisan batuan dasar (bedrock) dan melunaknya lapisan es di kawasan tinggi perbatasan Nepal-Tibet memicu runtuhnya material es dan batuan dalam skala masif. Peristiwa ini memicu luapan ekstrem pada sistem Sungai Bhote Koshi dan Trishuli, merobohkan infrastruktur fisik, memutus koridor ekonomi antar-negara, serta menelan ribuan korban jiwa dan warga yang hilang di Nepal hingga wilayah hilir di India.
Kawasan Pegunungan Hindu Kush Himalaya (HKH) yang dikenal secara internasional sebagai “Kutub Ketiga” Dunia karena menyimpan cadangan es terbesar di luar Kutub Utara dan Kutub Selatan, kini berada dalam kondisi darurat. Laju pemanasan suhu di HKH terjadi jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata kenaikan suhu global. Fenomena ini menyebabkan pencairan gletser yang pesat, melunaknya lapisan tanah beku (permafrost), serta ketidakstabilan geologis yang meningkatkan frekuensi bencana berantai (cascading hazards), seperti Banjir Luapan Danau Gletser (GLOF) dan tanah longsor mendadak.
Dampak ekologis kawasan Himalaya memiliki implikasi geopolitik dan kemanusiaan yang sangat luas:
- Ancaman Ketahanan Air dan Pangan Masif: Gletser Himalaya memberi makan 10 sistem sungai utama di Asia yang menjadi tumpuan hidup lebih dari 2 miliar jiwa. Penyusutan es secara konstan mengancam pasokan air bersih, irigasi pertanian, dan kedaulatan pangan regional.
- Krisis Keadilan Iklim (Climate Justice): Komunitas lokal dan masyarakat adat di kawasan pegunungan Nepal, yang jejak karbonnya sangat kecil, justru menanggung beban kehancuran paling berat akibat emisi industri dari negara-negara maju.
Suara Spiritual Antariman: Doa, Empati, dan Pertobatan Ekologis
Dalam ruang doa bersama ini, hadir perwakilan dari tradisi Islam, Kristen, Buddha, Bahá’í, serta tradisi spiritual lokal Kirat dari Nepal untuk memanjatkan doa serta menyampaikan pandangan teologis mengenai hubungan manusia dan alam:
1. Tradisi Islam: Perlindungan, Kesabaran, dan Keadilan
Mewakili perwakilan Islam Indonesia, Swary Utami Dewi mengawali doa dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan memohon perlindungan Ilahi bagi warga terdampak serta para relawan kemanusiaan:
“Ya Allah, kami memohon pertolongan dan perlindungan-Mu untuk saudara-saudari kami yang menghadapi bencana di Nepal. Berikanlah kekuatan dan kesabaran bagi keluarga yang kehilangan, lindungi para penyintas, serta mudahkanlah langkah para relawan kemanusiaan. Ringankanlah penderitaan mereka dan berikan tempat yang aman untuk membangun kembali kehidupan mereka. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.”
2. Tradisi Bahá’í: Perlindungan di Tengah Cobaan
Mewakili Bahá’í International Community, Desytia Nawris menegaskan pentingnya perlindungan Tuhan di saat manusia diliputi rentetan bencana:
“Wahai Tuhanku! Engkau tahu bahwa manusia dikelilingi oleh kesakitan dan bencana, serta diliputi oleh kesulitan. Tiada tempat berlindung baginya selain di bawah naungan perlindungan, pemeliharaan, dan penjagaan-Mu. Lindungilah kami dari segala marabahaya, cobaan, dan penderitaan.”
3. Tradisi Buddha Theravada: Kedamaian dan Pembebasan dari Penderitaan
Dari Myanmar, Venerable Ashin Nandasara memanjatkan berkah dari ajaran Buddha Theravada bagi keselamatan seluruh makhluk:
“Semoga segala perlindungan dan berkah menyertai Anda sekalian. Dengan kekuatan para Buddha, Dhamma, dan Sangha, semoga semua makhluk senantiasa hidup bahagia dan terbebas dari penderitaan.”
4. Tradisi Spiritual Adat Kirat (Nepal): Penghormatan pada Suara Alam
Tokoh spiritual tradisi lokal Kirat dari Nepal, Nabin Lingden, memanjatkan doa khusus dengan menyebut nama gunung dan sungai suci di Himalaya:
“Wahai Penguasa Alam Semesta, Pencipta Langit, Angin, Api, Air, dan Bumi, peliharalah manusia, alam, dan seluruh makhluk hidup dari gempa, banjir, dan tanah longsor. Kiranya jiwa-jiwa yang gugur dalam bencana 26 Agustus menemukan kedamaian dalam pelukan Sang Pencipta, dan berikanlah kekuatan serta kehidupan yang panjang bagi mereka yang bertahan.”
5. Tradisi Katolik: Panggilan Kenabian dan Pertobatan Ekologis
Uskup Allwyn D’ Silva, Ketua FABC-OHD, yang juga uskup emeritus Mumbai, menyampaikan refleksi teologis yang menekankan pertobatan ekologis nyata dalam momentum Season of Creation (Musim Ciptaan):
“Banjir bandang dahsyat ini adalah pengingat pahit bahwa kita telah menguji kesabaran Alam melampaui batasnya. Menanggapi ‘Musim Ciptaan’, kita dipanggil untuk tidak hanya memberikan simpati, tetapi mengambil tindakan kenabian yang nyata, termasuk transisi ke energi terbarukan, efisiensi energi, dan pengurangan emisi karbon secara serius.”
Sejalan dengan refleksi tersebut, perwakilan Laudato Si’ Movement Indonesia, Lilik Krismantoro, menegaskan keterhubungan ekologis seluruh Asia:
“Kerusakan ekologis tidak mengenal batas administratif negara. Apa yang melanda puncak Himalaya hari ini berdampak langsung pada kestabilan iklim dan ekosistem di seluruh wilayah Asia. Solidaritas kita tidak boleh berhenti pada doa, tetapi harus diwujudkan dalam transformasi gaya hidup dan advokasi kebijakan iklim yang adil.”
Solidaritas Keadilan Ekologis Lintas Agama
Melalui kegiatan ini seluruh umat beriman juga diundang untuk bersama-sama mewujudkan tiga domain aksi mendesak:
- Mitigasi Berbasis Kemitraan Regional & Komunitas: Mendesak pemerintah di kawasan Asia untuk memperkuat kerja sama pemantauan gletser lintas batas dan membangun sistem peringatan dini bencana (early warning system) yang berbasis pada kapasitas komunitas lokal.
- Transformasi Sistemik dan Demrokratisasi Energi: Menuntut negara-negara penghasil emisi besar serta pemangku kebijakan global untuk mempercepat penghentian ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memfasilitasi transisi berkeadilan menuju energi terbarukan.
- Komitmen Kemanusiaan dan Pemulihan Berkelanjutan: Memastikan bahwa bantuan rehabilitasi pascabencana di Nepal dan kawasan sekitarnya tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik sementara, melainkan memulihkan daya tahan sosial, ekonomi, dan psikologis masyarakat lokal secara jangka panjang.
Tentang Penyelenggara:
Kegiatan ini diinisiasi oleh Laudato Si’ Movement (LSM) simpul Asia-Pasifik bersama FABC Office of Human Development (FABC-OHD) dan Radio Veritas Asia, serta didukung oleh jaringan antariman dan organisasi masyarakat sipil lintas negara di Asia-Pasifik.
Kontak Media dan Informasi Lanjutan:
- Gerakan Laudato Si’ Indonesia, Lilik 082135632002, [email protected]
- email : asiapacific@laudatosimovement.org




