HIDUPKATOLIK.COM – Bulan Oktober telah berlalu, namun semangat misi tidak pernah memudar. Selama satu bulan misi lalu, Karya Misi Kepausan Indonesia Keuskupan Sintang (KMKI KESI) mengadakan beberapa rangkaian kegiatan untuk memeriahkan bulan misi, seperti rosario misioner live di Instagram, talkshow misi remaja Katolik dan Nanga Pinoh Mission.

Dalam rosario misioner yang dilakukan mulai dari 1-31 Oktober 2026 lalu, para remaja yang tergabung dalam Teens School of Mission (T-SOM) angkatan V live rosario misioner di Instagram kmki_keuskupansintang. Usia mereka direntangan 12-14 tahun dan masih bersekolah di SD kelas enam hingga delapan. Proses pendampingan untuk rosario misi ini hanya dilakukan dua kali dan setelahnya mereka belajar sesuai arahan yang diberikan. Mereka mengambil tugas sebagai host dan mengajak teman dan komunitas untuk duet bersama mereka. Meski sempat terkendala sinyal, mati lampu dan susah masuk akun Instagram, mereka selalu mencoba menemukan solusi untuk tetap melayani.
Menurut Feby Efronsina seorang remaja yang terlibat rosario misioner secara live, ketika pertama kali mendapatkan kesempatan memimpin doa rosario ia sangat deg-degan karena dilihat banyak orang, ditambah lagi banyak teman-teman remaja dari keuskupan yang berbeda ikut bergabung. “Meski diawal deg-degan, pengalaman selama sebulan menumbuhkan rasa kepedulian universal, kedisiplinan spiritual, serta kesadaran akan panggilan menjadi saksi iman di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Selanjutnya, dalam rangkaian puncak merayakan 100 Tahun Hari Minggu Misi Sedunia dengan tema: One in Christ, united in mission, tim KMKI Kesi mengadakan talkshow misi remaja Katolik yang dihadiri sekitar 750 remaja perwakilan berbagai sekolah tingkat menengah pertama dan atas di Kota Nanga Pinoh pada 24 Oktober 2026 di Aula Santa Maria Ursulin Nanga Pinoh. Talkshow ini dimulai dengan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh RD.Patrisius Piki sebagai Direktur Diosesan (Dirdios) KMKI KESI dan dilanjutkan dengan mendengarkan pengalaman dua remaja yang terlibat aktif dalam pelayanan, perwakilan orangtua, pendamping dan Dirdios.
Pada sambutan singkat, Sr.Betty, OSU sebagai Ketua Panitia menyampaikan bahwa para remaja dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, menjadi misioner di sekolah masing-masing sebagai orang Katolik. “Jangan sampai anak-anak Katolik melakukan sesuatu yang tidak memberikan contoh yang baik. Ini kesempatan baik bagi kita semua untuk menyimak seluruh acara hari ini,” pesannya.

Di kesempatan yang sama, Pastor Patrisius Piki mengungkapkan Gereja berkembang karena karya-karya misi yang telah dilakukan dan merayakan 100 tahun misi berarti misi tidak hanya berhenti pada perayaan 100 tahun, tetapi misi terus dan tetap berkelanjutan sampai selama-lamanya. “Misi itu ada ditangan kita masing-masing, karena kita adalah pelaku misi Kristus dalam kehidupan kita. Untuk bermisi kita tidak perlu menyebrangi sungai, pulau atau negara lain, cukuplah saat ini kita bermisi di tempat masing-masing. Misi artinya berani keluar dari zona nyaman kita, bergerak untuk melakukan sesuatu, untuk menampilkan wajah Tuhan melalui karya-karya baik kita dari hal sederhana dan melakukannya dengan cinta yang besar. Maka, misi menjadi berarti bagi diri kita,” ungkapnya pada para remaja.
Semangat misi ini tercermin dalam dua remaja yang menjadi narasumber dalam talkshow misi remaja Katolik Alexandra Sharbelia alumni TSOM Nasional 2024 dan Yoseva Flora Quinza anggota misdinar dan sakristi. Menurut Alexandra Sharbelia atau yang akrab disapa Abel, pengalaman di TSOM mengajari dia cara melayani, berteman dan public speaking. “Yang seru dalam TSOM, kami tidak membeda-bedakan, teman-teman dari mana saja kami rangkul dan jadikan teman,” cerita Abel. Sedangkan Yoseva berbagi perubahan yang ia rasakan ketika aktif melayani sebagai misdinar dan putra-putri sakristi yakni rasa peka terhadap hal-hal di sekitar. “Aku dulu cukup peduli tapi tidak peka-peka sekali, semenjak pelayanan misdinar dan sakristi rasa peka itu makin meningkat. Misalnya ada teman yang perlu bantuan tapi tidak bilang dan ketika aku melihatnya aku langsung membantu dan mereka mengucapkan terima kasih,” ungkapnya.

Kegiatan terakhir adalah Nanga Pinoh Mission. Para remaja yang tergabung dalam TSOM angkatan V mengikuti Nanga Pinoh Mission sebagai rangkaian keempat pendampingan TSOM Keuskupan. Dalam kegiatan ini mereka menyampaikan presentasi dari refleksi ajaran sosial gereja yang mereka terapkan di paroki masing-masing dan live rosario bersama. Selanjutnya mereka melakukan aksi misi di rumah sakit, pasar, tempat wisata dan wisma Emaus selama setengah hari untuk menghayati secara mendalam makna misi dalam hidup sehari-hari.
Angela Januarti





