spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Budaya “Kan, Cuma Bercanda”

Rate this post

 HIDUPKATOLI.COM – “Jangan marahlah, Mas. Kan, cuma bercanda.” Kalimat itu memecah keheningan pada Jumat siang, ketika para seminaris Seminari Garum berjalan menuju ruang makan. Beberapa orang tertawa. Tetapi temanku tidak. Wajahnya terlihat masam. Tubuhnya yang kecil baru saja dijadikan bahan lelucon dengan julukan “tuyul”.

Peristiwa seperti itu kerap kita jumpai di mana saja dengan kalimat yang familiar “kan cuma bercanda”. Kalimat tersebut seolah-olah menjadi “tempurung” sosial yang membuat pelaku “aman” dari tanggung jawab moral.

Masalah selanjutnya yang dihadapi adalah respons korban. Korban yang menanggapi candaan tersebut dengan teguran malahan dianggap “tidak asik”, mudah tersinggung, dan tidak bisa diajak bercanda.  Korban selanjutnya dihindari sedangkan pelaku “aman” di balik tawa kelompoknya. Candaan berubah menjadi alat untuk menjatuhkan korban dan membenarkan pelaku.

Humor Afiliatif dan Agresif

Candaan merupakan bentuk komunikasi santai, melalui perkataan ataupun tingkah laku, untuk menghibur dan mencairkan suasana. Jenis humor yang biasa kita kenal, menurut psikologi, adalah humor afiliatif (affiliative humor). Jenis humor ini memiliki dampak yang baik ketika berinteraksi dengan sesama, misalnya mencairkan suasana tegang, menghangatkan hubungan, dan mengakrabkan dengan orang baru. Hal-hal itu membuktikan perlunya candaan.

Namun perlu diketahui tidak semua candaan bersifat afiliatif atau menghibur dan mencairkan suasana. Pada kasus temanku tadi, beberapa orang sedang bersenda gurau tentang fisik kecil temanku yang dikaitkan dengan “tuyul”, sesuatu yang berkonotasi negatif. Candaan semacam itu tidak lagi berfungsi menghibur dan mencairkan suasana, melainkan menjadikan seseorang merasa tidak nyaman.

Dalam psikologi, candaan yang berniat mengejek dan menghina orang lain disebut sebagai humor agresif (aggressive humor) (Frontiers in Psychology, 2022). Pelaku melakukannya dengan tujuan agar terlihat lebih unggul, lebih dominan, atau lebih “asik”.  Humor agresif menciptakan jarak antar sesama. Hal ini berbanding terbalik dengan humor afiliatif.

Kita perlu mengetahui dan menyadari perbedaan dua jenis candaan tersebut.

Humor yang baik membuat hubungan semakin erat,  bukan sebaliknya  menjauhkan dan menjatuhkan satu dengan yang lain.

Peristiwa yang dialami temanku memperlihatkan pola humor agrefif. Candaan seperti itu kerap dilontarkan, bukan sebagai bentuk penghinaan terang-terangan. Julukan “tuyul” mungkin dianggap sebagai bentuk panggilan akrab, guyonan kelompok, atau sindiran.

Baca Juga:  Andrea Bocelli: Jadikanlah Aku Alat Kehendak-Mu

Tetapi, ketika temanku menunjukkan ketidak-nyamanan, respons yang muncul bukan menanyakan keadaan maupun meminta maaf, tetapi pembelaan, “Kan cuma bercanda.” Sebuah bukti bahwa jenis humor tersebut merupakan hal lumrah di lingkungan pergaulan  pelaku.

Bentuk candaan berulang semacam itu dan umpan balik tawa dari orang-orang di sekitar membuat pelaku menganggap perilakunya wajar dan, secara perlahan, berubah menjadi kebiasaan. Dari situlah budaya “kan cuma bercanda” tumbuh.  Pelaku merasa wajar, orang lain ikut tertawa, sedangkan korban terpaksa  menyimpan rasa tidak nyaman seorang diri.

Di balik pelaku yang tertawa, muncul luka menganga. Dampak yang diakibatkan humor agresif tidak boleh dianggap remeh. Apa yang dirasakan oleh korban, belum tentu sama dengan yang dipikirkan pelaku. Dampak yang dirasakan korban secara langsung setelah dijadikan bahan lelucon dapat terlihat pada kasus temanku. Ia merasa malu, terhina, dan marah. Terlihat pada raut wajahnya yang menjadi masam.

Jika jenis candaan yang sama dilakukan berulang-ulang, harga diri korban dapat menurun. Secara tidak sadar ia melabel dirinya sama seperti yang dilontarkan pelaku. Lelucon tersebut tidak lagi serupa “badai berlalu” tetapi berubah menjadi cara korban untuk melihat diri sendiri.

Dampak tersebut bukan asumsi belaka. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa humor agresif  sama berbahayanya dengan perundungan. Hasil meta-analisis yang dilakukan  Ye et al. (2023) menunjukkan bahwa anak dan remaja korban humor agresif memiliki risiko depresi 2,77 kali lebih tinggi dibanding yang tidak mengalami. Sementara meta-analisis yang dilakukan PMC (2021) menemukan bahwa korban perundungan memiliki risiko sekitar 2 kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan dan depresi di kemudian hari.

Melihat dampaknya terhadap korban,  menurut saya dalih “Kan, cuma bercanda” utidak boleh dinormalisasikan sebagai “tempurung sosial” bagi humor agresif. Hal itu sama saja dengan membiarkan terjadinya perundungan verbal yang merendahkan korban.

Baca Juga:  Andrea Bocelli: Jadikanlah Aku Alat Kehendak-Mu

Teladan Santo Fransiskus Asisi

Tahun Yubileum Santo Fransiskus 2026 mengingatkan kepada kita soal hubungan dengan sesama sebagai makhluk hidup. Santo Fransiskus Asisi, seperti yang kita ketahui, adalah orang kudus yang lekat dengan cinta kasih universalnya terhadap seluruh ciptaan. Banyak nilai kasih yang dapat kita teladani dari pendiri Ordo Fransiskan ini, terutama pada hubungan kita dengan sesama manusia. Salah satu yang dapat diteladani adalah cara kita untuk berkomunikasi, terlebih pada candaan.

Santo Fransiskus memposisikan dirinya sebagai saudara bagi semua orang. Ia memandang sama semua orang tanpa melihat latar belakang mereka.  Hal ini patut dijadikan cara pandang dalam melontarkan candaan yang sehat.

Fransiskus dari Assisi

Meneladani Santo Fransiskus Asisi dalam konteks candaan sehat, berarti berhenti bercanda ketika ada orang yang merasa tidak nyaman. Kita juga tidak perlu ikut tertawa bila sasaran candaan itu kelemahan orang lain; berani membela korban bila candaan tersebut berlebihan; dan berani meminta maaf bila candaan yang dilontarkan terlalu sensitif.

Santo Fransiskus dapat memeluk orang yang dianggap paling hina pada zamannya. Kita pun dapat belajar untuk menganggap semua orang lain sama, tidak layak dijadikan bahan lelucon.

Solusi melalui Fratelli Tutti

Spiritualitas Fransiskus tentang persaudaraan universalnya ini terdapat dalam ensiklik Fratteli Tutti dari Paus Fransiskus (2020). Ensiklik ini menawarkan petunjuk dalam etika bercanda lewat tiga prinsip.

Pertama, penghormatan kepada martabat setiap orang. Ensiklik ini kembali mengingatkan bahwa setiap orang memiliki nilai martabat yang pantas untuk dihormati. Candaan yang tidak sehat, berarti menyasar pada kelemahan orang lain. Karena itu, perlu ditegakkan komitmen komunitas ataupun masyarakat soal batas-batas candaan.

Imama Besar Istiqlal Nasaruddin Umar mencium kening Paus Fransiskus saat bertemu di Masjid Istiqlal pada kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia 3-6 September 2024. (Foto: Dok Panitia)

Kedua, rasa persaudaraan sebagai tanggung jawab bersama. Fratteli Tutti menjelaskan bahwa persaudaraan dapat terjadi jika dibangun melalui aksi nyata. Dalam konteks candaan, berarti kita perlu aktif menyadari adanya kejadian humor agresif. Ikut tertawa atau diam saja berarti kita memberikan kontribusi bagi perundungan lewat candaan. Persaudaraan berasal dari aksi nyata kita lewat teguran, permintaan maaf, dan cara bercanda.

Baca Juga:  Andrea Bocelli: Jadikanlah Aku Alat Kehendak-Mu

Ketiga, menolak “budaya membuang”. Paus Fransiskus mengkritik kecenderungan masyarakat modern untuk “membuang” orang yang dianggap tidak berguna, berbeda, atau merepotkan. Humor agresif yang dilakukan berulang-ulang menjadi tanda bahwa korban secara halus dibuang dari lingkaran pergaulan. Kembali lagi, dituntut aksi nyata dari kita menolak dengan tegas perilaku tersebut.

Candaan yang merendahkan juga ditindak tegas oleh Alkitab.  Dalam 1 Yohanes 4:20 dikatakan, “Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya”

Manusia diciptakan secitra dengan Allah.  Jika kita mengejek sesama lewat apapun bentuknya, maka itu sama saja dengan menghina Allah. Menghina Allah sama saja dengan melanggar perintah Allah yang pertama.  Karena itu besarlah dosa bila kita melontarkan humor agresif yang disertai dengan pembelaan “kan, cuma bercanda”.

Refleksi Pribadi

Peristiwa yang menimpa temanku mengingatkan diriku kembali soal interaksi dengan sesama selama ini. Saya terkadang masih meremehkan dan kerap kali tidak menyadari candaan agresif tersebut. Lingkungan pergaulan menjadi salah satu penyebabnya. Ketika mendengar lelucon tersebut dilontarkan kepada teman, sering kali saya  ikut tertawa ataupun diam saja karena rasa gengsi dan takut  menjadi korban selanjutnya.

Tuhan mengingatkan kita lewat Matius 25:40 soal mengasihi orang lain yang lebih lemah. Saya harus benar-benar meninggalkan perilaku penormalan humor agresif tersebut. Namun, berkata saja mudah. Dalam kenyataannya dapat saja terjadi hal sebaliknya.  Karena itu saya memerlukan tuntunan-Nya agar berani bertindak benar di antara keburukan-keburukan yang dinormalisasikan di lingkunganku. Sebab mengasihi itu tidak merendahkan orang lain dan tidak menghancurkan hidup orang lain. (Editor: MTFS)

Dionisius Reynard Putra Hartono
Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo Garum, Blitar
Juara I Sayembara Penulisan Artikel untuk Seminari Menengah 2026

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles