spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

40 Tahun Doa Perdamaian Dunia di Kota Assisi

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM –  SALAH satu monumen besar yang ditinggalkan Paus Yohanes Paulus II kepada kita adalah doa perdamaian dunia di Assisi. Inisiatif yang pertama kali dilaksanakan di Assisi pada 27 Oktober 1986 kini telah berjalan selama 40 tahun, dan masih berjalan hingga kini, walau dalam dinamika yang berbeda. Kita tahu, bahwa pada awalnya Kardinal Josef Ratzinger agak keberatan, namun toh sebagai Paus Benediktus XIV dia menjalankan inisiatif terpuji tersebut. Di tahun 2026 ini peristiwa itu pun tetap berlangsung, namun Paus Leo XIV hanya bisa menyampaikan pesan video, karena tidak bisa hadir mengingat kondisi kesehatannya.

Perdamaian merupakan suatu upaya dan gerak langkah bersama, itulah yang mendasari Yohanes Paulus II mengundang berbagai kalangan agama serta kepercayaan berkumpul di Assisi, untuk berbincang, berefleksi dan terutama berdoa bagi perdamaian dunia. Hal serupa diyakini pula oleh Leo XIV bahwa semangat Asisi untuk menolak perang, bahkan pembenaran religius akan perang, perlu terus dikobarkan. Tidak ada perang yang suci, hanyalah perdamaian itu yang suci. Demikian ditegaskan Paus Leo XIV. Maka menurutnya perlu ada refleksi kontemplatif yang melibatkan semua pihak untuk berdoa, berdialog dan menyusun langkah bagi pelayanan bagi perdamaian. Doa itu sendiri adalah dialog, dengan Allah, sesama dan seluruh ciptaan.

Baca Juga:  Ketua Presidium Pusat ISKA Luky A. Yusgiantoro Lantik DPD dan DPC ISKA DIY 2026 - 2030, Serukan Komitmen Bersama untuk Gereja, Bangsa, dan Kelestarian Lingkungan

Semangat Assisi, itulah kata yang dikumandangkan terus-menerus oleh para Paus. Tentu kita mengingat Santo Fransiskus Assisi, yang menyusun langkah dan gerak menjalin dialog bagi perdamaian, membangun jembatan di tengah berbagai perbedaan yang ada.  Identitas dasar Gereja Katolik dan kesadaran diri akan identitas serta perutusannya dihidupkan dan dinyalakan di Assisi, demikian dikatakan Yohanes Paulus II di tahun 1986. Semangat Vatikan II itulah yang dinyalakan oleh Paus di dalamnya. Paus Fransiskus melanjutkan itu, dengan menaruh harapan agar peristiwa Asisi tidak sekedar menjadi suatu acara, namun menjadi momentum yang terus selalu dikobarkan dan disebarkan. Itu pula yang diharapkan oleh Leo XIV, mengutip Magnifica Humanitas-nya, agar umat menusia keluar dari lingkaran kekerasan.

Baca Juga:  PESPARANI II Sumsel 2026 Sukses Besar: Kota Palembang Sabet Juara Umum, Gaungkan Terobosan Strategis Menuju Nasional 2027

Empat tahun setelah peristiwa Assisi yang pertama, di tahun 1990 Yohanes Paulus II mengeluarkan ensiklik tentang misi, Redemptoris Missio, di mana dikatakan di dalamnya bahwa semangat Asisi untuk bahwa berbagai upaya bagi terwujudnya perdamaian, bahkan doa bagi perdamaian, merupakan bagian dari misi Gereja. Di tahun 2011, Paus Benediktus XVI tidak saja mengundang kaum beragama, namun mereka semua yang berkehendak baik, walau tidak memeluk agama atau kepercayaan. Dia menantang kaum beriman untuk memurnikan penghayatan dan pewujudan imannya, sejauhmana iman dijalankan apakah menyingkapkan wajah Allah perdamaian, atau malahan merusak wajah Allah.

Yohanes Paulus II tentang acara di Assisi tersebut mengatakan bahwa kita semua berkumpul bersama untuk berdoa, bukan berdoa bersama. Dengan mengatakan ini, dia mengakui adanya perbedaan ajaran maupun penghayatan iman. Kita bersama-sama saling berdoa dan saling mendoakan, menapaki langkah berangkat dari sumber dasar iman, yakni Allah, melangkah bersama dalam mewujudkan dunia kehidupan bersama yang lebih baik, damai, adil dan sejahtera.

Baca Juga:  Yang Terbaru dari Majalah HIDUP Edisi 44

Gereja Katolik ada dan berada bersama yang lain. Perbedaan diakui. Dialog adalah langkah jalan yang ditempuh Gereja, sebagaimana dikumandangkan sejak Vatikan  II, bahkan oleh Paulus VI dalam ensiklik pertamanya, Ecclesiam Suam. Itulah yang diyakini Gereja, bahkan Paus Leo XIV pun mendorong dialog seluruh umat manusia, apapun perbedaannya, pun dialog bagi perdamaian dunia. Dunia kini ditandai dengan budaya kekerasan dan kultur kekuasaan yang lebih menumbuhkan perpecahan dan bahkan perang, maka Paus pun mengajak kita terus mengobarkan semangat Assisi: doa dan dialog bagi perdamaian.

Saat pertama kali terpilih sebagai Paus, Leo XIV menyatakan perdamaian adalah salah kata kunci penggembalaan di masa kepausannya. Tidak mengherankanlah kalau semangat Assisi baginya merupakan sesuatu yang penting, dan apalagi dia menempatkannya ini di tengah peringatakan kita akan Yubileum Fransiskus.

Pastor T. Krispurwana Cahyadi, SJ,teolog tinggal di Girisona.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles