Pangeran Gereja, Pelayan Umat Allah

1
Pelantikan Kardinal: Paus Fransiskus mengenakan biretta kepada Kardinal Gérald Lacroix, Uskup Agung Quebec, Kanada.
[hamiltondiocese.com]
Pangeran Gereja, Pelayan Umat Allah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Fransiskus menggelar konsistori perdana guna melantik 19 kardinal baru, sekaligus merefleksikan tema keluarga sebagai persiapan Sinode Para Uskup. Ia menegaskan, martabat kardinal bukan melulu pangeran Gereja, melainkan pelayan umat Allah

Terlihat beberapa umat tertegun dan menitikkan air mata sesaat sebelum Konsistori Pelantikan Kardinal Baru di mulai di Basilika St Petrus Vatikan, Sab tu, 22/2. Sebagian lain dengan ragu-ragu bertepuk tangan kecil. Sementara ratusan pasang mata mengarahkan pandangan kepintu samping Basilika dengan ekspresi terkejut.

Tak lama kemudian, kamerapun menyorot Paus Emeritus Benediktus XVI yang berjalan pelan dengan tongkat, masuk kedalam Basilika didampingi sekretaris pribadinya. Ia mengenakan jubah putih sederhana yang ditutup mantel putih panjang dengan zucchetto (solideo), penutup kepala berbentuk bulat yang berwarna putih. Dengan tenang ia duduk di kursi barisan depan di samping deretan Kardinal-Uskup, tepat di sebelah Patriakh Antiokhia Maronit Lebanon, Kardinal Béchara Boutros Raï OMM.

Dukungan Tulus
Kehadiran Paus Emeritus ini mengundang simpati umat yang hadir. Air mukanya terlihat bahagia menghadiri perhelatan besar pada Pesta Takhta St Petrus itu. Kala prosesi pembukaan mulai, Paus Fransiskus segera menghampiri pendahulunya itu. Tak di sangka, Paus Emeritus melepaskan zucchetto-nya, memeluk dan menyapa penerusnya dengan senyum. Inilah tanda kerendahan hati dan ketaatan pada Penerus St Petrus yang sedang bertakhta. Peristiwa yang sama terulang lagi dalam perarakan penutup usai Konsistori Pelantikan Kardinal Baru.

Peristiwa itu merupakan pemandangan pertama kali sejak 600 tahun terakhir, kala Gereja memiliki Paus Emeritus Gregorius XII (1406-1415) yang turun takhta dan digantikan oleh Paus Martin V (1417-1431). Kelangkaan inipun menjadi momen pertama kali munculnya Benediktus XVI dan Fransiskus bersama-sama dalam upacara liturgi secara publik. Ini menunjukkan suatu kontinuitas penggembalaan Gereja Universal yang sehat, sekaligus dukungan Paus Emeritus yang seakan mengamini pilihan Fransiskus atas 19 kardinal baru yang dilantik. Nama- nama mereka sudah diumumkan Fransiskus sejak 12 Januari lalu usai doa Angelus.

Meski sudah diumumkan pada awal agar umat tidak bertepuk tangan selama upa cara berlangsung untuk menjaga keheningan doa, ekspresi kebahagiaan umat seolah tak bisa dibendung. Tatkala wakil kardinal baru Kardinal Pietro Parolin– menyampaikan kata sambutan sebelum pelantikan, terdengar tepuk tangan umat membahana. Pasalnya, ia menyapa kehadiran Paus Emeritus itu, “Kami sangat bahagia atas kehadiran Anda di tengah-tengah kami”. Benediktus XVI hanya tersenyum dan melambaikan tangan kecil. Fransiskus pun menanggapi hal itu dengan senyum bersahabat.

Usai dilantik oleh Fransiskus, masing-masing kardinal baru menghampiri Be nediktus XVI sebagai bentuk penghormatan. Mereka menyapanya dan seakan meminta restu darinya, sebelum bersalam-salaman dengan para kardinal yang lain. Dengan wajah berseri Benediktus XVI pun menyambut mereka.

Konsistori Pertama
Pelantikan 19 kardinal baru ini menjadi upacara konsistori pertama Fransiskus sejak bertakhta sebagai Paus. Konsistori merupakan istilah khas Gereja Katolik yang berakar dari Bahasa Latin “consistorium”, yang secara harafiah berarti “ruang pertemuan”. Dalam tradisi, konsistori digunakan untuk menyebut pertemuan formal Kolegium Kardinal yang dipimpin langsung oleh Paus. Pertemuan semacam ini dapat dikategorikan dalam dua jenis. Pertama, konsistori biasa atau umum yang biasanya dihadiri para kardinal yang berada di Roma. Kedua, konsistori luar biasa yang harus dihadiri seluruh anggota Kolegium Kardinal. Konsistori pengangkatan kardinal baru termasuk dalam kategori konsistori biasa.

Dalam konsistori pengangkatan kardinal baru ini, Paus memakaikan zucchetto dan biretta berwarna merah darah pada para kardinal baru. Biretta ialah topi atau baret berbentuk persegi empat dengan tiga ‘tanduk’ atau puncak dari tiga sudutnya yang menyatu di satu titik tengah perseginya. Ia juga menyematkan cincin pada masing-masing kardinal baru.

Selain itu, Paus menganugerahkan gelar tituler pada setiap kardinal baru sesuai tingkatannya. Gelar tituler itu di ambil dari nama gereja yang ada di Roma. Kali ini, tiga kardinal baru dianugerahi gelar Kardinal-Diakon biasanya yang memegang pimpinan salah satu dikasteri dalam Kuria Roma. Sementara 16 kardinal baru digelari sebagai Kardinal-Imam. Ternyata, tiga gelar tituler Kardinal-Imam yang di anugerahkan diambil dari nama-nama gereja yang pada hari itu juga diresmikan sebagai gelar tituler baru. Ketiga gelar baru itu ialah Santi Simone e Giuda Taddeo a Torre Angela, San Gia como in Augusta, dan Sant’Angela Merici.

Bukan Promosi
Dalam homilinya Paus Fransiskus menegaskan bahwa martabat kekardinalan bu kan sebuah promosi jabatan dan previlese karena masuk dalam bilangan Pa ngeran Gereja. Ia sama sekali tidak menyinggung makna warna merah darah (Latin: porpora) yang menjadi warna pakaian khas seorang kardinal, sebagaimana lazim dilakukan para pendahulunya dalam konsistori pengangkatan kardinal baru.

Fransiskus justru dengan lugas menandaskan apa yang dibutuhkan Gereja dari para kardinal baru. “Gereja sangat membutuhkan belarasa Anda, terutama pada saat sekarang ini, di saat banyak negara di dunia mengalami penderitaan. Gereja membutuhkan Anda untuk menjadi pembawa damai, yakni membangun perdamaian melalui karya, harapan dan doa Anda. Oleh karena itu, marilah kita memperjuangkan perdamaian dan rekonsiliasi bagi mereka yang kini mengalami kekerasan, ketersingkiran dan perang,” paparnya seperti dilansir nrc.org (22/2).

Hal senada diungkapkan Fransiskus sehari sebelum upacara pelantikan kardinal baru dalam sambutan singkatnya (21/2). Ia menyapa secara khusus dua kardinal dari Ukraina yang sedang menghadapi chaos di negaranya, yakni Uskup Agung Mayor Emeritus Kiev (Kyiv-Halye), Kardinal Lubomyr Husar MSU, dan Uskup Agung Emeritus Lviv, Kardinal Marian Jaworski. Ia juga mendorong usaha damai di Sudan dan Nigeria yang terus dilanda konflik.

Paus pun menggarisbawahi pengantar refleksi dari Kardinal Walter Kasper yang disampaikan sehari sebelumnya (20/2) pada pembukaan rangkaian acara konsistori terutama tentang sensus Ecclesiae, mengutip ajaran St Ignatius Loyola. Ia menegaskan makna sensus Ecclesiae sebagai perspektif berteologi dalam balutan totalitas cinta pada Gereja. Fransiskus mengajak para kardinal untuk tidak masuk dalam intrik dan gossip dalam menjalankan fungsi reksa kegembalaan bagi Gereja. Dorongan untuk ikut ambil bagian dalam membenahi carut marut birokrasi Kuria Roma pun sempat disinggung.

Pun dalam khotbahnya pada Misa bersama dengan kardinal baru pada Minggu, 23/2, Bapa Suci kembali menyerukan ajakan untuk mengikuti jejak Kristus sebagai patron dalam mengemban karya perutusan. Yesus telah memberikan teladan bagaimana cara bersikap sesuai kehendak Bapa. Secara sederhana ia mencontohkan sikap kelemah-lembutan pada siapapun yang berbuat jahat dengan mendoakannya; melupakan perbuatan buruk yang telah di lakukan orang lain. Seolah Fransiskus sedang memahat ceruk-ceruk reformasi di kalangan elit gerejani dengan kata-katanya yang begitu sederhana dan penuh simpati.

Gereja Keluarga
Sebenarnya konsistori yang dihadiri 150 kardinal dari seluruh dunia ini, sudah dimulai sejak Kamis, 20/2. Selama dua hari sebelum pelantikan kardinal baru, Paus bersama Kolegium Kardinal merefleksikan tema “Evangelisasi Keluarga” sebagai persiapan Sinode Para Uskup pada Oktober 2014. Presiden Emeritus Dewan Kepausan untuk Kesatuan Umat Kristiani, Kardinal Walter Kasper ditu gaskan untuk menyampaikan pengantar mengenai tema ini.

Dalam konferensi pers, Juru Bicara Vatikan Pastor Federico Lombardi SJ menegaskan, presentasi Kardinal Kasper dan hasil pembahasan dalam forum Kolegium Kardinal bukanlah dokumen awal untuk Sinode Para Uskup. Namun, re fleksi para kardinal ini ingin mempersiapkan secara serius dan mendalam Sinode Para Uskup nantinya, seperti dilansir Radio Vatikan (21/2).

Pertama, Kardinal Kasper membukanya dengan menggali kembali dasar-dasar biblis dan ajaran Gereja tentang keluarga dalam perspektif rencana keselamatan Allah bagi dunia. Kedua, dipaparkan bagaimana problem, tantangan dan tegangan yang dihadapi keluarga masa kini. Isu perkawinan kedua, keretakan rumah tangga, aliena siperempuan dalam keluarga, dll, diungkap sebagai sebuah struktur keberdosaan yang harus disikapi secara tegas sekaligus lembut, dicarikan solusi yang dewasa, bijaksana serta penuh iman akan Kristus dalam Gereja-Nya. Ketiga, dielaborasi lagi tentang langkah-langkah evangelisasi melalui katekese bagi keluarga kristiani, sekaligus memotret gambaran ideal terciptanya keselamatan keluarga. Dalam hal ini, keluarga tetap dilihat sebagai Gereja mini dimana basis refleksinya dipungut dari realitas sehari-hari yang dihadapi, lalu dimaknai dalam terang Sabda Tuhan.

Dalam kesempatan ini Bapa Suci mengumumkan tiga kardinal sebagai Presiden Sinode Para Uskup yang mewakili tiga benua, yakni Uskup Agung Paris, Perancis, Kardinals Andre Vingt-Trois; Uskup Agung Manila, Filipina, Kardinal Luis Antonio Gokin Tagle; and Uskup Agung Aparecida, Brazil, Kardinal Raymundo Damasceno Assis.

Kardinal Tertua
Dalam konsistori kali ini, seorang kardinal baru tak bisa hadir, yakni Kardinal Loris Francesco Capovilla. Artinya, upacara konsistori ini hanya di hadiri oleh 18 kardinal baru. Prelat Emeritus Loreto, Italia itu tidak bisa mengikuti upacara pelantikan lantaran usianya yang sudah lebih dari 98 tahun dan alasan kesehatan. Meski tidak hadir, Paus tetap mengangkatnya sebagai Kardinal-Imam Santa Maria in Trastevere (creatio in absentia). Zucchetto, biretta dan cincin akan dikirimkan oleh utusan Paus pada mantan Sekretaris Pribadi Paus Yohanes XXIII (1958-1963), yang kini menjadi kardinal tertua menggeser posisi Kardinal Fioren zo Angelini (97).

Selain itu, ada seorang kardinal baru yang dilantik di atas kursi rodanya, yakni Uskup Agung Abidjan, Pantai Gading, Kardinal Jean-Pierre Kutwa. Pauspun harus turun dari altar mendatanginya untuk menyematkan zucchetto, biretta, dan cincin.

R.B.E. Agung Nugroho

HIDUP NO.10 2014, 9 Maret 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here