Keluarga Yang Membantu Pembantu

124
Kuliah: Eni setelah mengikuti studi banding dari kampusnya.
[NN/Dok.Pribadi]
Keluarga Yang Membantu Pembantu
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Ada keluarga yang membiayai pembantunya kuliah. Petugas masak di biara ikut sedih kalau ada frater keluar. Mereka seperti keluarganya.

Sejak 10 tahun yang lalu, Maria Annunciata Eni Priyatin menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT) di kediaman pasutri Agnes PR Handayani dan Stefanus MS Sadana. Bagi pasutri Agnes dan Sadana, setiap orang berhak mengembangkan talentanya, termasuk PRT. Prinsip 4 E (enjoy, easy, excellent, dan earning) pun dipegang pasutri itu.

Awal bekerja, Eni mengatakan bahwa ia tidak suka anak kecil, tidak bisa memasak maupun melakukan pekerjaan rumah lainnya. Berkat kesediaan Eni untuk belajar dan kedisiplinan serta ketekunan yang ditanamkan Agnes, banyak hal dengan cepat dipelajari Eni. Misalnya, pekerjaan rumah mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, dan memasak. Setelah pasutri Agnes dan Sadana menambah satu pekerja baru, mulailah mereka mengajari Eni sesuai kesukaan (enjoy)-nya: urusan kecantikan (menata rambut, memadu-padankan pakaian), urusan keuangan (pembayaran, transfer, setor, tarik), atau belanja rumah tangga.

Setahun berselang, Eni mendapat kesempatan mengikuti pendidikan kejar paket C (sekolah setara SMA) yang dibiayai pasutri Agnes dan Sadana. Waktu tiga tahun yang mestinya ditempuh untuk pendidikan, bisa diselesaikan Eni dalam waku satu setengah tahun. Eni tak melalaikan pekerjaan utamanya. Bahkan ia menjadi konsisten dalam mutu dan waktu.

Selesai mengikuti kejar paket C, Eni mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di Jurusan Manajemen Administrasi, Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) Ciledug, Tangerang. Biaya kuliah juga ditanggung pasutri Agnes dan Sadana. Sementara biaya transportasi ke kampus menjadi tanggung jawab Eni.

Eni berjuang untuk menyelesaikan kuliahnya. Ia juga berusaha untuk membagi waktu antara pekerjaan sebagai PRT, kuliah dan kegiatan kampus. Eni merasa bersyukur karena mendapat kesempatan untuk kuliah. “Ini kesempatan langka menurut saya. Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan akan kuliah. Puji Tuhan, Ibu dan Bapak Sadana memberi saya kebebasan mengatur waktu untuk bekerja dan kuliah. Saya selalu komunikasikan jadwal kuliah. Kalau misalnya jadwal kuliah pagi, pekerjaan saya selesaikan nanti,” kisah Eni.

Eni merupakan sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai tukang kayu, sedangkan ibunya menjadi PRT. Eni membantu sebagian biaya kuliah adiknya dan ekonomi keluarganya. “Setelah lulus, saya akan men cari pekerjaan lain, saya akan mencarikan ganti saya di tempat saya kerja. Saya ingin hidup lebih baik. Saya juga ingin menjadi pembawa Kabar Gembira, Kabar Sukacita dimanapun saya berada,” ujar Eni.

Melihat Eni yang terus berkembang, bertumbuh, dan bertanggungjawab membuat pasutri Agnes dan Sadana gembira. Eni juga gembira bisa bekerja di keluarga itu. “Saya dianggap seperti keluarga oleh Ibu dan Bapak.”

“Harapan kami, Mbak Eni dapat menjadi contoh yang terbaik (excellent) bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya. Juga bisa memperoleh pendapatan (earning) yang lebih baik. Kiranya kita dapat terus saling memberi inspirasi karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi kita, terutama orang yang percaya.”

Bagian keluarga
Para PRT yang bekerja di biara atau kongregasi pun memiliki kisah sendiri. Satinah Budiarti melayani di Wisma Padua OFM, Cempaka Putih, Jakarta sebagai juru masak sejak 2000. Jemaat GKP ini bertugas memasak makan siang dan malam bagi para frater dan romo di Wisma Padua Cempaka Putih. Hari Minggu dan tanggal merah ia libur.

“Saya senang bekerja di sini. Selain karena saya senang memasak, saya dianggap seperti orangtua sendiri oleh anak-anak di sini,” katanya. ”Saya dianggap seperti keluarga sendiri. Mereka ada yang memanggil saya Bu, ada Mom.”

Perempuan kelahiran Jakarta, 27 Januari 1964 ini juga kerap diajak berlibur atau rekreasi bersama para penghuni Wisma Padua. “Kadang keluarga saya juga diajak,” katanya. “Hati saya bahagia ketika melihat mereka dari masih belajar kemudian bisa menjadi romo.”

Hal senada diungkapkan Aloysius Lumaris bersama istrinya, Theresia Kartini. Mereka bekerja di rumah pembinaan para calon imam Serikat Saverian di Jakarta. Aris bertugas membersihkan kamar para pastor, mengurus kebun, dan kadang membantu sang istri di dapur. “Saya bekerja dari Senin sampai Sabtu, sejak pukul 07.00-13.00. Minggu saya libur,” ungkap pria yang pada tahun 2015, genap berkarya selama 25 tahun di sana.

Sementara istrinya berkarya di tempat itu, saban hari. Masuk pukul 04.30, lalu pulang siang bersama sang suami. Namun, pukul 16.30, ia kembali lagi ke wisma untuk menyiapkan makan malam bagi anggota komunitas itu. “Syukur, rumah kami dengan wisma tidak jauh. Sehingga bisa ditempuh dengan jalan kaki,” ungkapnya. Sebelum bekerja di Skolastikat Xaverian, Aris sempat setahun bekerja di Paroki St Petrus dan St Paulus Mangga Besar, Jakarta (1989-1990). Di sana, ia menangani urusan rumah tangga.

Aris dan istrinya mengangap para frater dan romo di Wisma SX seperti saudara dan anak-anak sendiri. Mereka bergembira ketika ada frater yang berhasil ditahbiskan menjadi imam. Namun, sebagai seorang manusia, mereka ‘terpukul’, sedih, dan kecewa bila ada frater yang keluar. “Bukan karena anak-anak gagal menjadi imam, tetapi terutama suka ada yang pergi begitu saja tanpa pamit,” katanya. Keluarga Aris juga mendapat perhatian dan bantuan dari Provinsial SX Indonesia di Padang yang membantu meringankan beban hidup dan pendidikan anak-anak mereka.

Maria Pertiwi/Yanuari Marwanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here