Panggilan Pendamping “Siswa Negeri”

140
Wadah iman: Para siswa Katolik bersekolah di SMA Negeri yang tergabung dalam Persink.
[HIDUP/Aprianita Ganadi]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tugas guru Agama Katolik di SMA Negeri adalah memastikan iman siswa tetap bertumbuh meski dihimpit aneka tantangan. Keteguhan iman dapat ditimba dari pelajaran agama, juga hidup sebagai satu komunitas seiman.

Suatu ketika, seorang remaja non-Katolik mengejek seorang remaja Katolik. Katanya, “ih, Tuhanmu kok punya anak?” Mula-mula remaja Katolik itu berusaha menjelaskan tentang Allah Bapa dan Allah Putra berdasarkan iman dan keyakinannya. Tapi, ia terus diejek. Remaja Katolik itu pun naik pitam, sebab merasa sakit hati. Ia menantang remaja non-Katolik itu untuk berkelahi. Meski perkelahian itu tidak terjadi, namun masih ada rasa tak puas dalam diri si remaja Katolik itu.

Saat pelajaran agama di kelas, ia mengeluhkan kejadian itu kepada guru agama. “Saya panas, Bu. Sudah saya jelaskan tapi dia nggak mau ngerti!” keluhnya. Menanggapi keluhan itu, sang guru hanya menasihati si remaja itu, dan juga teman yang lain agar tidak menanggapi hal-hal seperti itu dengan marah. “Mengatasi masalah dengan marah hanya akan menambah masalah baru. Kalau kamu jelaskan ia tidak mau dengar, buktikan saja dengan tindakan. Itu akan membuat dia berhenti mengejekmu,” pesan sang guru. Inilah sekelumit kisah yang pernah terjadi di SMA Negeri (SMAN) 98 Cijantung, Jakarta Timur, seperti dilontarkan Guru Agama Katolik SMAN 98, Maria Goretti Soelistijowati, yang akrab disapa muridnya dengan sebutan “Bu Lis”.

Di bawah pohon
Lis mengisahkan, dalam memberi kan pelajaran agama di sekolah, ia meng utamakan cara untuk menyeimbangkan teori dan praktik. Terkadang pula para siswa harus dibantu dalam menyelesaikan persoalan atau kekurangan yang mungkin mereka alami di sekolah. Lis yang sudah hampir 20 tahun mengajar di SMAN 98, pada setiap tahun ajaran baru dimulai, selalu mengusulkan agar disediakan satu ruang khusus agar bisa melaksanakan ke giatan rohani setiap Jumat siang. Namun, sampai hari ini usulan itu belum ter penuhi. “Itu tak masalah. Saya mengajarkan siswa agar selalu berpikir positif. Jika ruangan belum ada, tidak masalah. Toh, kita bisa berdoa di bawah pohon dan belajar agama di taman. Dulu Yesus juga mengajar para murid di bawah pohon,” ungkapnya.

Untuk mengatasi keterbatasan itu, Lis menyewa sebuah ruang yang tak jauh dari SMAN 98, agar ia bisa menyimpan perlengkapan kegiatan rohani, seperti gitar, buku-buku, dan yang lain. Pada waktu senggang atau liburan, tempat ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman antarsiswa dan Lis.

Sikap serupa juga ditunjukkan Guru Agama Katolik SMA Negeri 33 Cengkareng, Jakarta Barat, Romanus Sugiantoro. Semula, ruang yang mereka pakai untuk belajar agama hanya berukuran tiga kali tiga meter. Namun, ruangan itu telah diperbesar menjadi lima kali tiga meter. Dalam ruangan ini tak tersedia meja dan kursi. Saat pelajaran agama Katolik berlangsung, para siswa duduk lesehan beralaskan karpet. Ruang itu juga dibagi dua untuk kelas agama Kristen dan Katolik.

Kondisi ini tak menyurutkan Toro untuk memberi pelajaran yang maksimal kepada para siswa. Bahkan, para siswa bisa bercanda tawa dengan duduk melingkar di lantai sembari mendengar pelajaran.

Wadah berbagi
Bagi siswa-siswi Katolik yang bersekolah di sekolah negeri, kehadiran teman seiman sangat membantu untuk saling meneguhkan di tengah dinamika kemajemukan. Saling menguatkan dan semakin memperdalam pengetahuan tentang kekatolikan bisa diperoleh dari pelajaran agama di sekolah atau terlibat dalam komunitas-komunitas Katolik.

Di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), salah satu komunitas yang dapat menjadi pilihan untuk berkumpul bagi siswa-siswi Katolik yang belajar di sekolah non-Katolik adalah Persaudaraan Siswa-Siswi Negeri Katolik (Persink). Pendamping Persink, Fr Harry Kristanto SJ mengemukakan, pada retret akhir 2013, anggota Persink yang ikut sekitar 120 orang. Selain mendampingi Persink, Fr Harry juga menjadi guru agama di SMAN 8 Jakarta. Ia membantu Paulus Mujiman yang adalah guru agama Katolik di sekolah ini. Bersama Mujiman, Fr Harry mengarahkan 18 remaja Katolik di sekolah ini agar ikut belajar hidup sebagai satu komunitas dan berorganisasi lewat Persink.

Di beberapa keuskupan, wadah serupa juga dibentuk untuk melayani dan berpastoral di tengah siswa yang menempuh pendidikan di sekolah negeri. Seperti di Keuskupan Banjarmasin, wadahnya diberi nama Organisasi Pelajar Katolik (OPK). Komunitas yang baru terbentuk tahun ini melayani para siswa-siswi Katolik yang belajar di sekolah negeri dari jenjang sekolah dasar hingga SMA.

Upaya paroki
Sejak 1998, Paroki St Agustinus Karawaci, Tangerang telah memberi perhatian kepada para siswa yang belajar di sekolah negeri dan swasta non-Katolik. Para katekis di paroki ini membentuk wadah bernama Persink St Agustinus. Mereka mengumpulkan anak-anak dan mulai mengajarkan pelajaran agama Katolik. Persink St Agustinus beranggotakan para siswa dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Kini jumlah mereka sekitar 298 orang.

Pendampingan serupa juga diadakan Paroki St Anna Duren Sawit, Jakarta Timur. Ketua Seksi Pendidikan Paroki Duren Sawit, Emmanuel Nanang Prijambodo, menjelaskan, sudah lima tahun, seksi pendidikan paroki ini menggelar retret bagi siswa-siswi sekolah dasar negeri dan swasta non-Katolik. Retret tahun ini, rencana akan diadakan pada 23-24 Agustus 2014 di Wisma Samadi Klender, Jakarta Timur. “Setiap tahun, peserta yang ikut retret sekitar 15 sampai 30 orang. Sejauh ini belum ada wadah untuk anak yang belajar di sekolah negeri, maka kami terpanggil untuk mendampingi iman mereka,” tutur Nanang.

Pendampingan iman bagi mereka yang belajar di sekolah negeri juga diupayakan Pertemuan Mitra Kategorial (Pemikat) KAJ. Pada Jumat-Minggu, 11-13/7, Pemikat KAJ bersama Komisi Kateketik (Komkat) KAJ mengadakan Camping Rohani Pemikat KAJ 2014 yang diikuti para siswa Katolik di jenjang sekolah menengah pertama (SMP) negeri. Kegiatan yang diadakan di Lembah Karmel Cikanyere, Jawa Barat ini ini diikuti sekitar 300 peserta. “Semoga mereka menjadi garam di tengah kehidupan dan selalu dipenuhi sukacita,” kata ketua panitia acara ini, Maria Joanna Fransisca.

Stefanus P. Elu
Laporan: Aprianita Ganadi/Ignatius Dwi Sudiyono/Y. Pius Sonny

HIDUP NO.32, 10 Agustus 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here