Tak Henti Melayani Orang dengan Gangguan Jiwa

342
Marianus Ronald Susilo.
[NN/Dok.Pribadi]
Tak Henti Melayani Orang dengan Gangguan Jiwa
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Menjadi dokter merupakan cita-citanya sejak kecil. Di tengah litani karyanya yang seabrek, dia masih memberikan perhatian dan merogoh kocek pribadi untuk kesehatan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Cita-cita menjadi dokter tertanam sejak Marianus Ronald Susilo masih amat belia. Pada waktu itu, dia sama sekali tak pernah mendengar masyarakat di kampungnya menyebut atau memanggil dokter bila ada yang sakit. Maklum, pada saat itu tak ada dokter yang membuka klinik atau praktik di tanah kelahirannya. Tenaga kesehatan yang tersedia sekitar 30 tahun lalu hanyalah bidan dan perawat yang biasa dipanggil bapak atau ibu mantri.

Situasi inilah yang menggelorakan semangatnya untuk menjadi dokter kelak. Pada suatu kesempatan, parokinya menyelenggarakan sebuah pentas seni. Kala itu Ronald masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Sulung dari tiga bersaudara ini tampil di muka umum membawakan sebuah persembahan. Dia membacakan puisi. Salah satu penggalan puisi yang dia bacakan berbunyi demikian, “Aku mau menjadi seorang dokter. Orang yang sakit apa saja, akan kuobati semua”.

Membantu Sesama
Cita-cita Ronald menjadi dokter sempat tersisih. Dia ingin menjadi imam. Maka, Ronald pun masuk SMP dan SMU Seminari Pius XII Kisol, Keuskupan Ruteng. Namun, begitu menuntaskan pendidikan di seminari menengah itu, putra pasangan Yohanes Yohan Susilo dan Theodora Susilo berubah. Ronald memilih untuk merealisasikan cita-cita masa kecilnya.

Dia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta. “Pengalaman itu membuat saya berefleksi, menjadi imam atau tidak, tugas kita di dunia ini yaitu membantu sesama yang membutuhkan,” ujar pria kelahiran Surabaya, 19 Juni 1981 ini seraya tersenyum.

Seusai menyandang gelar dokter, Ronald memilih untuk mengabdi di kampung halamannya. Tekadnya hanya satu mengabdi untuk kemanusiaan. Di sana ia mendapati kenyataan menyedihkan, banyak ODGJ dipasung oleh keluarganya lantaran tak tahu cara mengobati. Nuraninya tersentuh menyaksikan peristiwa marak tersebut. Suami Felicia Cynthia Yunita ini pun ingin terlibat langsung membantu mereka.

Gayung bersambut. Tahun 2012, Ronald mengetahui Tarekat Bruder Caritas (Fratrum e Caritate/FC) berencana membuka Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa di Ruteng. Sejak saat itulah, Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kabupaten Manggarai ini berperan aktif mewujudkan rencana pendirian Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa yang diberi nama Renceng Mose.

Ide pertamanya yaitu membangun sebuah museum untuk Klinik Renceng Mose. Pengagum mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini merasa perlu untuk mengarsipkan atau menyimpan bahan-bahan yang selama ini digunakan untuk pemasungan ODGJ.

“Sungguh sangat mengerikan jika melihat manusia yang terpasung. Saya berpikir, dengan membangun sebuah museum, kita bisa memberikan gambaran konkret betapa mengerikan pemasungan untuk orang lain bahkan untuk generasi setelahnya. Saya sangat mengharapkan suatu ketika dapat terwujud ‘Manggarai bebas pasung,” ujar Direktur Medis Klinik Jiwa Renceng Mose ini.

Ronald berhasil mewujudkan pendirian museum, namun seiring waktu, lantaran keterbatasan lahan yang dimiliki oleh panti, meseum tersebut beralihfungsi menjadi ruang tamu dan konsultasi dengan pasien dan keluarganya, serta pelayanan kesehatan. Museum dipindahkan ke ruang lain.

Kocek Pribadi
Banyak ODGJ datang ke Klinik Jiwa Renceng Mose diantar keluarganya dalam keadaan terpasung; ada yang dirantai, dipasangi balok kayu, diikat, dan berbagai cara lain. Pendatang baru tak bisa langsung disatukan dengan pasien yang kondisinya telah membaik. Karena itulah, pemilik Klinik Wae Laku-Ruteng ini berupaya untuk membangun dua ruangan khusus atau isolasi sementara untuk ODGJ yang dipasung.

Ronald berharap, setelah mendapat perawatan sekitar satu hingga dua bulan, mereka dapat dipindahkan ke ruang rawat inap untuk mendapat perawatan lanjutan bersama para ODGJ yang keadaannya cukup stabil. “Puji Tuhan, kedua bangunan ini telah selesai dikerjakan. Sekarang kami akan semakin gencar untuk menemukan para ODGJ yang sedang dipasung untuk kemudian kami membawanya ke ruangan baru tersebut,” ujar dosen tetap Sekolah Ilmu Kesehatan St Paulus Ruteng, penuh syukur.

Karya mulia ayah satu putra ini menemui kendala yang tidak mudah, yaitu terbatasnya tenaga perawat dan obat-obatan untuk ODGJ yang disediakan pemerintah. Mengatasi hal itu, dokter yang tergabung dalam Tim Audit Kematian Maternal-Neonatal Kabupaten Manggarai ini tak segan-segan mengeluarkan dana dari kocek pribadinya untuk menambah tenaga perawat dan apoteker.

“Saya berprinsip pelayanan kepada ODGJ tidak boleh berhenti selagi saya masih diberikan nafas oleh Tuhan. Dokter Katolik haruslah mempunyai hati dan aksi nyata menolong sesama dengan komitmen (iman) yang kuat”, ujar dokter yang sedang menempuh pendidikan Magister Management Rumah Sakit, di Universitas Pelita Harapan, Jakarta ini.

Menularkan Sastra
Sebagai dosen, dokter yang paling gemar dengan masakan istrinya ini merasa gundah karena banyak mahasiswanya minim membaca. Inilah yang membuat anak didiknya sulit berdiskusi atau mengemukakan pendapat dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Ronald lantas mengajak beberapa temannya untuk membuat klub buku demi menumbuhkan minat baca para mahasiswa. Komunitas tersebut dinamai Petra Book Club. Saat ini, komunitas tersebut fokus kepada karya sastra. Tiap anggota komunitas ini diwajibkan membaca minimal satu karya sastra Indonesia. Pada akhir bulan, mereka membedah bacaan masing-masing.

Kegiatan Petra Book Club sudah berjalan empat tahun. Sampai saat ini sudah 48 novel Indonesia yang telah mereka lahap. Para peserta pun telah akrab dengan sejumlah karya penulis beken, misal Ayu Utami, Umar kayam, Sapardi J. Damono, Leila S. Chudori, Pramoedya Ananta Toer.

Mulai Juni 2018, Ronald berencana mengajak ODGJ di Panti Renceng Mose untuk ikut membaca novel dan terlibat dalam diskusi buku. Sebab, pendapat-pendapat ODGJ tentang buku pasti unik dan layak didengarkan, sekaligus menanamkan rasa percaya diri mereka.

Terkait profesinya, Ronald mengatakan, menjadi dokter adalah menjadi pelayan bagi sesama, khususnya mereka yang tersingkir atau disingkarkan, seperti ODGJ. “Mari melayani sesama di mana saja kita ditempatkan,” ajak umat Paroki St Fransiskus Asisi, Karot, Ruteng, seraya tersenyum.

Ivonne Suryanto

2 COMMENTS

  1. Lanjutkan Karya yang sangat Mulia ini Dokter demi melayani kaum yang tidak tersentuh oleh perhatian demi menyelamatkan mereka dari mereka penderitaan doa kami kami semua selalu mengiringi Karyamu yang Fenomenai semoga Tuhan senantiasa memberi kekuatan dan kesehatan kepada dokter tercinta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here