Bagaimana Menghadapi Anak yang Suka Berbohong

61
Bagaimana Menghadapi Anak yang Suka Berbohong
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh rubrik Konsultasi Keluarga yang baik, bulan lalu saya dipanggil oleh guru Bimbingan Konseling putra saya–kini dia duduk di bangku SMA kelas II–. Dari pertemuan tersebut, saya mendapat informasi bahwa anak saya kerap berbohong baik kepada guru maupun teman-temannya. Saya amat kaget bercampur malu mendengar laporan tersebut. Sebab, terus terang, saya dan suami tak pernah memberikan teladan buruk seperti itu. Bahkan, saya dan suami selalu menekankan kejujuran dan keterus-terangan baik di antara kami berdua maupun dengan anak-anak. Entah, mengapa anak saya bisa berbohong? Bagaimana kami bisa memperbaiki sikapnya itu? Mohon bantuan Pengasuh rubrik ini. Terima kasih.

Magdalena Ariani, Malang

Ibu Magdalena Ariani yang baik, dari pertanyaan yang Ibu sampaikan, saya merasakan bahwa Ibu adalah orangtua yang sangat peduli dengan keluarga, terutama menyangkut nilai-nilai moral yang penting sebagai bekal seorang anak pada masa depan. Sangat dipahami kekecewaan yang Ibu dan suami alami karena telah terus-menerus berusaha menanamkan sikap jujur dalam keluarga.

Perilaku berbohong yang dilakukan oleh anak Ibu dapat disebabkan berbagai dorongan maupun tekanan psikologis, seperti: ketakutan akan hukuman; pengaruh peer-group atau teman bermain, atau kejenuhan karena berbagai faktor. Apa yang bisa dilakukan? Dari berbagai kemungkinan psikologis yang mungkin terjadi, ada beberapa hal yang dapat Ibu lakukan, antara lain:

Pertama, tetap berpikir positif tentang anak Ibu, namun perlu menyatakan bahwa tindakan berbohong tidak baik. Usahakan tak memberikan negative punishment kepadanya seperti umpatan atau caci maki karena ketahuan berbohong. Pemberian negative punishment berpotensi memunculkan stres kepada anak yang pada akhirnya bisa menimbulkan perasaan tak berharga dalam diri anak.

Guna mengatasi hal ini, iklim keterbukaan, dialog, dan diskusi bersama keluarga (misal diskusi saat makan malam bersama) menjadi hal penting, di mana dalam suasana yang akrab, anak dapat lepas dari ketakutan akan “penghakiman”. Dalam situasi ini pula, anak bisa menceritakan permasalahannya yang mungkin mendorongnya untuk berbohong dan orangtua bisa mengarahkan untuk menghadapi situasi tersebut.

Kedua, memaafkan dan merespon. Memaafkan kesalahan anak adalah hal yang baik bagi perkembangan psikologisnya, namun memaafkan saja takkan berdampak kepada perubahan perilaku jika tak diikuti dengan respon tindak lanjut. Respon tindak lanjut dalam hal ini dapat berupa nasihat-nasihat kecil terkait kesalahan yang dilakukan anak.

Ketiga, usahakan memberikan nasihat dan dukungan yang konsisten. Dalam psikologi, tidak ada rumus yang pasti bahwa sebuah pola asuh tertentu bisa menjamin keberhasilan anak. Tindakan yang bisa menjadi kunci adalah konsistensi. Nasihat dan dukungan perlu diberikan secara konsisten sesuai dengan porsinya pada setiap situasi yang memang memerlukan tindakan-tindakan tersebut.

Tindakan-tindakan ini bisa sederhana, misal mengucapkan selamat pagi, memberi semangat untuk bersekolah. Meski tampak sederhana, perhatian yang disampaikan secara tulus semacam ini bisa membuat anak merasa akrab, menghargai, dan menyayangi orangtuanya.

Selain ketiga hal di atas, satu hal yang perlu terus dijaga saat sang anak melakukan kesalahan adalah komunikasi yang efektif. Biasanya orangtua “malas” untuk berkomunikasi (cenderung diam) dengan sang anak setelah melihatnya melakukan kesalahan karena turbulensi emosi negatif yang dirasakan orangtua. Padahal, justru dalam momen seperti ini keteguhan hati dan komunikasi yang lebih intens sangat dibutuhkan lebih dari biasanya.

Saya turut mendoakan Ibu Magdalena dan keluarga dapat menghadapi situasi ini dengan baik, percayalah bahwa ketika keluarga menghadapi satu tantangan dan berhasil melewatinya,itu berarti keluarga telah mengalami peningkatan kualitas kehidupan sebanyak dua kali lipat. Mengapa demikian? Dengan menghadapidan menyelesaikan tantangan kehidupan, maka keluarga akan semakin kuat untuk menapak menuju masa depan.

Indro Adinugroho

HIDUP NO.44 2018, 4 November 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here