Jodoh di Malam Natal

205
Jodoh di Malam Natal
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com –  BARUSAN, Mama mengirimkan paket ke kantorku di kawasan Sudirman. Isinya kopi Bengkulu asli dan lempuk durian kesukaanku. Di dalamnya juga ada surat, dan aku benar-benar gamang membacanya. Isinya, masih sama dengan surat-surat terdahulu, menanyakan; Kapan kau dapat jodoh, Ririan?!

Ingin sekali, surat Mama tak kubaca, tapi kubaca juga, karena jujur, aku kangen sekali sama Mama. “Natal tahun ini, pulanglah ke Bengkulu, Ririan. Mangga kita sedang berbuah lebat. Sudah dua kali Natal kau tak pulang, Nak. Mama dan Papa jadi sedih. Mama tahu, kau sengaja menghindar, karena kau malu pada kedua adikmu yang sudah melangkahimu.”

Aku semakin gamang, tapi surat tetap kubaca.
“Apa kau sama sekali nggak ada perasaan pada Paul? Kau pernah bilang, kau sangat suka padanya. Novel-novelmu yang belum kau terbitkan itu, semua berisi tentang perasaaan tersembunyimu pada Paul. 
Jujurlah, sebenarnya, kau mengharapkan Paul jadi jodohmu, tapi kau terlalu sombong mengakui perasaanmu, kan Nak?”

Segera kututup surat Mama. Aku takut Paul di sebelahku, tiba-tiba mengintip.
“Enak ya, dapat kiriman kopi terus,” komentar Paul, sambil matanya mengerling nakal ke paket kiriman Mama.
“Jangan cemberut dong, Tante, sebentar lagi Natal,” katanya berani. Ia terbiasa memanggilku Tante. Sapaan, yang sampai detik ini, membuatku terluka.

Mood ku sedang kacau, bujang lapuk!”
“Karena Mamamu, menyuruhmu lagi segera menikah?” Ia tertawa berderai.
“Itu kau sudah tahu!”
“Mamaku juga pengen aku segera punya jodoh, minimal di Natal tahun ini sudah punya calon. Tapi dengan siapa? Dengan kau? Kau pasti menolakku!”
“Itu kau sudah tahu!” kataku, dan berdua kami tertawa.

Paul, bukan orang baru bagiku. Sudah lima tahun kami bekerja di kantor yang sama, di divisi yang sama sebagai editor, dan punya nasib yang sama; belum laku!
Ia spontan memanggilku tante lima tahun lalu ketika aku seperti jeruk purut mengedit sebuah novel yang kacau bahasanya, dan sejak itu sampai sekarang, ia memanggilku Tante.

Panggilan itu, bagiku meleceh kan, sekaligus membunuh sebuah rasa yang pernah kusembunyikan untuknya.
“Entah di mana itu jodoh. Semakin aku berdoa, semakin kurasa jauh jodohku,” katanya, tiba-tiba berubah serius.
“Aku pulang duluan ya,” kataku beranjak.
Ini caraku menghindar dari pembicaraan yang mulai membuatku malu dan terpojok.

Selesai berkeluh kesah nanti, ia akan menyerangku dengan pertanyaaan yang mematikan itu, “Kau, kenapa belum laku-laku juga, Tante? Kau masih menunggu mantanmu yang tak jelas itu? Makanya, levelmu jangan terlalu tinggi!”

“Masih hujan, Tante!” serunya, sambil tertawa.
“Bukan urusanmu!”
“Jadi urusanku dong kalau kau sakit!”
Aku menganga.
“Maksudku, kalau kau sakit, semua pekerjaanmu mengedit, jadi tanggung jawabku. Repot kan aku?”
“Baiklah, tolong antar aku.”
“Asal, nanti di rumahmu, kau buatkan kopi Bengkulu untukku, dan dodol durian yang lezat itu kita makan. Oke, Tante?”
Aku geli juga, tidak kuat menahan tawa.

***

Paul mengantarku pulang ke apartemenku dengan mobil bututnya. Ini bukan yang pertama ia mengantarku, tapi sudah sering. Lima tahun sekantor dan sedivisi, membuatku mengenal karakternya.

Cuma hatinya yang tak kutahu, menginginkan wanita sehebat apakah jadi istrinya? Kalau tidak pilih-pilih tebu, tidak mungkin ia membujang begitu lama. Seperti biasa, ia menatap lama pada lukisan Bunda Maria di dinding di ruang tamuku. Lukisan itu, adalah pemberiannya, dan dia juga yang memajangnya di situ.

Kubuatkan dua gelas kopi Bengkulu. Aromanya yang khas kopi asli, seperti memperbaiki mood ku yang acak adul. Di luar, hujan masih turun.
“Kau, pernah
nggak berdoa, supaya dapat jodoh?” tiba-tiba ia menyerangku, dan kurasa matanya menatapku begitu lama.
“Aku malah sudah bosan berdoa saking seringnya,” jawabku ringan. “Dan kau?”
“Di Matius 18:20 dikatakan: Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka. Nah, kita berdua, senasib dan sepikir, kenapa kita
nggak berdoa bersama dengan sungguh-sungguh?”

“Tumben serius amat!”
“Dalam Matius 21:22 ditulis, “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.”
“Terus?” aku menantang, dan kurasa hatiku mulai kacau oleh tatapannya yang lama.
“Maukah kau kita berdoa bersama, supaya Tuhan segera memberi kita jodoh?”
Aku gelagapan.
“Ayolah, jangan malu-malu, Tante!! Aku yang pimpin,” ia menarik tanganku.

Aku tidak berdaya menolak. “Allah Bapa, kasihanilah kami berdua. Kami berdua belum juga dapat jodoh. Terlalu pemilihkah kami, Bapa? Atau terlalu sombongkah kami? Kami mohon ampun, Tuhan. Jika jodoh kami berdua tidak jauh, tunjukkanlah Tuhan, berilah tanda,
supaya kesepian kami berganti menjadi kebahagiaan.”

Doa itu, entah kenapa, membuatku merasa tertampar, tapi juga merasa bahagia. Adakah, ia pernah menyimpan sesuatu rasa untukku?
“Aku pulang dulu, ya Tante….”
Aku membuang muka. Tante lagi!
“Kau kenapa, Tante?”
“Aku bukan, Tantemu! Bisakah, sekali saja, kau tidak memanggilku Tante, Paulus Nugroho?!”
Tanganku gemetaran, menahan sakit di hati. Aku benci dipanggil Tante oleh Paulus! Aku berlari meninggalkannya di ruang tengah. Ia terus memanggilku, sampai hujan reda, sampai ia pamit pulang, aku tetap diam.

***

Di apartemenku yang sepi, kurayakan malam Natal dengan kesepian yang nyaris sempurna. Kuputar lagu Natal, kubuatkan kopi panas, dan kumakan kue-kue Natal
buatanku. Aku tak mau dimakan sepi. 

Di luar, hujan bulan Desember turun dengan lembutnya. Seseorang, mengetuk pintu. Itu Paul, aku sangat mengenal caranya mengetuk pintu. Sudah dua minggu, sejak berdoa bersama di sini, aku menjauhinya!

Lama, kami saling diam, tapi aku melihat wajahnya yang sangat bahagia.
“Aku ingin bicara, Ririan…” suara Paul bergetar.
Aku pura-pura memandang ke luar jendela.
“Besok, aku mau pulang ke kampungku. Aku mau Natalan di sana. Mama dan Papa sangat bahagia, karena akhirnya, aku dapat jodoh juga.”

Jujur, aku sangat kaget, sekaligus sakit luar biasa mendengarnya, tapi aku pura pura tersenyum.
“Kau tak ingin memberi selamat padaku?”
“Eh, selamat ya….” suaraku, tetap saja bergetar.
“Aku pamit dulu, ya, mau mempersiapkan barang-barangku untuk besok.”
Ia menjabat tanganku kuat-kuat, dan menatapku begitu lama. Sebentar lagi, airmataku pasti jebol!

“Cepat bobo ya, Ririan.” Airmataku, akhirnya jebol juga.
“Kau nangis, ya?”
“Ah, nggak! Ngapain?!
“Kau cemburu?”
“Nggak! Ngapain?!” aku pura-pura tertawa.
“Ririan, aku tunggu kau di bandara Soekarno-Hatta besok jam enam pagi. Jam tujuh pesawat kita terbang ke Bengkulu. Kita Natalan di kampungmu, setelah itu kita ke kampungku di Flores, kita rayakan Tahun Baru di sana. Orangtuaku sudah tak sabar memelukmu, kekasih hatiku.”

Aku menganga. Benar-benar seperti bermimpi.
“Semua rahasia hatimu sudah aku tahu, Ririan sayangku. Surat dari Mamamu, tak sengaja kubaca ketika kau marah selesai kita berdoa memohon jodoh malam itu.”
“Kau…”
“Tuhan sangat baik, menjawab doa kita.
Tuhan tahu, kita berdua tersiksa memendam perasaan cinta.”

Hujan menyanyi merdu di luar, ikut larut dalam kebahagian Natal. Lukisan Bunda Maria pemberiannya, kulihat tersenyum sangat manis kepada kami berdua. Terlalu indah malam Natal ini kurasakan. Terima kasih, Tuhanku…

***

Aku tak tahu harus bilang apa. Haruskah kukatakan bahwa aku benci panggilan Tante karena aku belum merasa tua?
“Tadi malam, selesai berdoa bersama, keajaiban tiba-tiba kurasakan. Tiba-tiba ada titik terang, dan alangkah bodohnya aku baru menyadarinya sekarang.”
“Maksudmu?”
“Tadi malam, aku baru sadar, bahwa kau terluka kupanggil Tante. Bodohnya aku. Seharusnya itu tak kulakukan. Seharusnya aku sopan padamu.
Aku menganga.
“Mengucap syukur, karena jodoh kita sebenarnya tidak jauh, jodoh kita berdua begitu dekat, kita saja yang bodoh, terlalu angkuh mengakui bahwa kita berdua sama sama mengharapkan.”
Aku merasa tertikam.

“Kenapa kau nggak pernah bisa mengerti, bahwa lima tahun ini aku mengharapkanmu, bodoh!”
“Apa?”
“Pria, yang memberi lukisan Bunda Maria, dan memajangnya di rumah seorang wanita, lalu mengajaknya berdoa bersama di dekat lukisan itu, apa artinya, kalau bukan sangat mengharapkannya jadi mataharinya?”

“Jadi?”
Kurasakan, ia memegang tanganku. Damai Natal luar biasa indahnya. Malam Natal ini, Tuhan telah menjawab doaku, memberi jodoh yang dipilih oleh Tuhan.

 

Wita Alamanda Simbolon
HIDUP NO. 51 2018, 23 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here