Mengalami Kasih

216
Judul : Berjalan dalam Kasih Penulis : Rm Simon Rande OCarm. Penerbit : Karmelindo, November 2018; Tebal : 92 halaman.
Rate this post

HIDUPKATOLIK.com –  PERJALANAN menuju kasih menuntut pertumbuhan rohani. Sebagaimana tubuh mempunyai pola pertumbuhan, demikian pula jiwa atau roh. Proses perkembangan kesadaran dimulai sejak manusia lahir.

Manusia rindu akan perubahan dan pemahaman lebih mendalam tentang dirinya dan tempatnya di dalam dunia. Untuk menemukan jalan dituntut pengenalan diri. Jawaban manusia atas kasih ialah membalas kasih Allah. Kasih adalah anugerah Allah.

Sifatnya kasih seorang anak karena kita adalah anak-anak Allah (1Yoh 3:1) dan lahir dari Allah (Yoh 3:9). Kasih adalah panggilan yang menentukan kehidupan manusia. Semangat kasih membawa kita untuk saling mengasihi.

Di dalam relasi dengan Allah, kasih itu menjadi sempurna. Maka Yohanes menulis, tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita; Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Barangsiapa mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.

Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita (1Yoh 4:12-13; 15-16). Inilah proses yang terjadi di dalam menempuh jalan kasih, persatuan dengan Allah. Maka kasih menjadi paling utama dan tidak ada satu pun anugerah Allah yang lebih besar dari kasih.

St. Paulus menegaskan bahwa anugerah sehebat apa pun bila tanpa kasih, tidak ada gunanya. Tuntutan kasih dinyanyikan di dalam hymne tentang kasih yang amat terkenal itu kepada jemaat di Korintus (1Kor 13:1-13).

Kasih adalah jawaban atas kebutuhan-kebutuhan besar dunia. Sayang, anak-anak dunia telah hidup tanpa kasih dan tidak lagi mampu menyadari bahwa dari sekian banyak kebutuhan besar mereka, kebutuhan yang paling besar dan dasar sejatinya adalah kebutuhan akan kasih Allah.

Kasih Allah adalah dasar dari segalanya, unsur tertinggi dari kehidupan. Makin banyaknya orang yang hidup tanpa Allah, Dia yang adalah kasih (1Yoh 4:8 dan 16), telah membuat mereka tidak mampu mengasihi sesamanya, bahkan dalam lingkup orang-orang terdekat. Benar demikian?

Para murid Yesus zaman ini dipanggil untuk berjalan dalam kasih. Panggilan ini adalah panggilan dengan sepenuh hati dan seumur hidup. Maka, renungkan panggilan injili ini melalui buku “Berjalan dalam Kasih”.


Yesaya Singgih Ocarm
HIDUP NO. 52 2018, 30 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here