Katarina Eka Prasetyawati : Memoles “Mutiara” dalam Sunyi

80
Katarina Eka Prasetyawati.
[Anna Marie Happy]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Usianya masih terbilang muda saat itu. Namun, tanggung jawab yang dipikulnya amat besar. Ia menjadi ibu asrama bagi anak-anak penyandang tunarungu.

Pagi itu, suasana di kedai Mute Area belum ramai. Katarina Eka Prasetyawati mengarahkan anak-anak binaannya untuk mempersiapkan menu makanan di kedai yang terletak di Jalan T Soerjohadikoesumo, nomor 21 A Sumberan, Wonosobo, Jawa Tengah. Bangunan itu berlantai dua. Lantai bawah untuk kedai, sementara lantai atas ada salon khusus perempuan.

Sesekali, Eka, demikian sapaan perempuan berkacamata itu, berbincang dengan pengunjung yang datang. Sulung dari tiga bersaudara ini mencoba untuk menjembatani komunikasi antara pengunjung kedai dengan anak binaannya. Mereka menyandang tunarungu. “Kadang terjadi miskomunikasi. Misal, karyawan salah menghidangkan makanan. Meski selama menimba ilmu di Lembaga Pendidikan Tuna Rungu (LPATR) Dena Upakara Wonosobo mereka sudah dilatih membaca bibir. Mereka tetap harus didampingi” ujar ibu dua anak ini sembari tersenyum.

Menurut Eka, masih banyak alumnus LPATR Dena Upakara dan Don Bosco kesulitan mencari pekerjaan. Padahal mereka mempunyai keterampilan yang memadai. Untuk itulah dibentuk Productivity and training Center for Deaf Alumni (Protecda). Protecda menjadi wadah untuk melatih para siswa maupun alumni LPATR Dena Upakara dan Don Bosco bekerja.

Bidang Usaha
Ada empat bidang usaha inti Protecda, yaitu: konveksi, kuliner, mekanik, dan salon. Usaha kuliner di antaranya kedai Mute Area itu. Kedai ini unik. Semua pelayan di sana adalah penyandang tunarungu.Tak hanya itu, di sudut kedai itu terdapat pojok Bisindo, akronim dari Bahasa Isyarat Indonesia. Di ruang tersebut, para pengunjung bisa belajar bahasa isyarat. Kelas Bisindo dibuka tiap Sabtu dan Minggu sore.

Tak terdengar musik di kedai itu. Saat ini, kedai itu juga tak memiliki koneksi wifi gratis. Tujuannya agar pengunjung dan karyawan bisa berinteraksi.

Kedai ini diberi nama Mute Area yang berarti tempat berkarya dalam diam. Unit usaha ini beroperasi mulai dari pukul 11.00-19.00. Menurut Eka, ada rencana kedai tersebut bakal buka hingga pukul 21.00.

Mute Area resmi beroperasi pada 24 Februari 2019. Setelah 17 tahun menjadi ibu asrama di LPATR Dena Upakara, Eka ditugaskan untuk membantu Sr Crescentia Tutut PMY, pemimpin Protecda. “Awalnya pekerjaan ini sungguh menyita pikiran dan tenaga saya. Saya harus mempromosikan keberadaan kedai tersebut bagi masyarakat sekitar, secara khusus muda-mudi Wonosobo,” ujar Eka.

Tanggung jawab itu tak gampang. Sebab, pada saat itu, istri Agustinus Nugroho Handoko ini memiliki bayi yang menuntut banyak kehadiran dan perhatian darinya. Beruntung, umat Paroki St Paulus Wonosobo, Keuskupan Purwokerto ini terbantu berkat kehadiran seorang karyawan kafe di sana sekaligus Ketua Komunitas Tuna Rungu Wonosobo.

Eka juga bersyukur, Ikatan alumni LPATR Dena Upakara dan Don Bosco yang tergabung dalam Adeco juga ikut membantu mempromosikan kedai itu.

Tempat Bersandar
Kendati tak ada musik dan koneksi internet di kedai tersebut, mata para pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan indah. Sambil menikmati aneka hidangan, termasuk makanan khas Wonosobo seperti teh tambi dan carica (pepaya), pengunjung bisa menikmati panorama pegunungan Diengnan eksotis.

Eka berencana untuk menjalin kerja sama dengan para rahib Trapis atau OCSO (Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae) di pertapaan Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah. Selain itu, ia juga bercita-cita membuat wisata edukasi seperti membuat tanaman hidroponik dan mengenal budaya tunarungu. “Program ini sudah ditawarkan ke sekolah-sekolah, komunitas-komunitas, dan masyarakat umum. Semoga banyak peminatnya,” harap Eka, yang juga aktif sebagai prodiakon di paroki ini.

Hampir separuh hidup Eka diabdikan untuk para penyandang tunarungu. Perkenalannya dengan dunia tunarungu bermula dari orangtuannya. Ibunda Eka bekerja sebagai ibu asrama di LPATR Don Bosco. Karya karitatif itu dikelola oleh Kongregasi Bruder Karitas (Fratrum Caritatis/FC). “Sejak kecil saya terbiasa menemani ibu jaga malam di asrama. Sehingga sudah mengenal kehidupan anak-anak tuna rungu,” jelas kelahiran Wonosobo, 26 April 1982 ini.

Impian Eka untuk kuliah pupus karena terganjal persoalan ekonomi. Maka setamat SMKN Wonosobo, ia memberanikan diri menghadap Sr Marga PMY, pimpinan Yayasan Dena Upakara waktu itu. Ia mengajukan lamaran untuk bekerja di sana. Eka pun diterima sebagai ibu asrama. Para murid LPATR Dena Upakara yang terdiri dari PraTK, TKLB, SDLB, SMPLB, hingga Sanggar kerjatinggal di asrama.

Eka mulai mengajari anak-anak mengurusi diri sendiri seperti mandi, membersihkan tempat tidur, menata lemari, mempersiapkan jadwal pelajaran. Anggota kelompok kor St Thomas Paroki Wonosobo yang sering didapuk menjadi dirigen ini juga menyediakan bahunya untuk anak-anak bersandar kala mereka rindukan keluarga.

Setelah dianggap cukup mampu mendampingi anak-anak kecil, Eka diberi tanggung jawab untuk mendampingi remaja tunarungu. Pada saat itulah, wanita yang kadangkala tampil sebagai pemandu acara ini mesti berperan ekstra sebagai ibu sekaligus sahabat. “Mereka kadang menceritakan jika sedang menyukai lawan jenis. Saya mengarahkan mereka agar tetap rajin belajar dan mampu menjaga diri. Bila mereka sedang galau, saya menyediakan hati dan pundak saya untuk mereka,” ujar putri sulung pasangan Supawitno dan Kartikawati ini.

Cinta, Kebersamaan
Dukungan suami dan ibundanya kian memantapkan langkah Eka untuk mendampingi para penyandang tunarungu. Eka menganggap mereka seperti anak kandungnya sendiri. Ia juga menyebut nama mereka dalam setiap doanya. Tak pernah terlintas di benak Eka melepas karyanya itu. “Cinta dan kebersamaan. Itulah yang membuat saya kerasan bekerja bersama dan untuk penyandang tunarungu. Kami merasa seperti satu keluarga besar,” ceritanya penuh haru.

Eka selalu bangga dengan anak-anaknya yang istimewa itu. Meski hidup dalam sunyi, mereka mempunyai karunia berbeda-beda. Eka selalu mendukung segala profesi yang dilakoni mereka, asal positif. “Anak-anak tunarungu ibarat mutiara yang tersembunyi di dasar laut. Tugas para guru dan pendamping untuk memoles bakat mereka supaya dapat berkilau bak mutiara,” pungkasnya.

Ivonne Suryanto

HIDUP NO.16 2019, 21 aPRIL 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here