Pastor Yosep Kristanto Sekretaris Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia : Buka Mata dan Berdasarkan Data

256
Pastor Joseph Kristanto.
[NN/Dok.Pribadi]
Pastor Yosep Kristanto Sekretaris Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia : Buka Mata dan Berdasarkan Data
1.5 (30%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Sejumlah pastor mengembangkan karya langsung menyentuh persoalan umat dan masyarakat. Tak melulu hanya mengurus layanan spiritual. “Imam yang kreatif, yang terbuka matanya, akan melakukan karya di situ, tak hanya karena keinginan atau hobi, tetapi bekerja berdasarkan data.”

Beberapa imam berhasil mengembangkan karya mereka, tak hanya di seputar altar. Mengapa ada pastor yang bisa seperti itu?

Apa yang dilakukan imam, turun ke pasar, adalah pastoralnya. Ada imam yang karyanya memang di luar gereja, misal ada imam yang berkarya di Sekolah Mangunan di Yogyakarta. Ia tak memegang (urusan) paroki, itu adalah pastoralnya. Pastoral itu kan karya yang menangani suatu pekerjaan. Ada pastor yang bisa seperti itu bisa saja karena minat mereka misalnya dalam dunia mengajar dan menulis.

Imam itu dibagi dua: imam diosesan atau imam keuskupan dan imam tarekat. Tarekat ini mempunyai spiritualitas dan karya tertentu. Sementara keuskupan mempunyai daerahnya dalam keuskupan itu dan mempunyai karya tertentu. Tarekat hadir dalam keuskupan untuk berkarya. Misalnya kekhasan dari spiritualitas Jesuit adalah dalam bidang pendidikan. Di Keuskupan Agung Semarang, Jesuit berkarya melalui Universitas Sanata Dharma, ATMI Surakarta, SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Adakah aturan atau ajaran Gereja tertentu yang berkaitan dengan pengembangan karya imam di masyarakat?

Semuanya ada aturannya. Jadi bisa mengembangkan tapi karya-karya di situ banyak sekali ya kita harus dukung. Harus dibedakan, pimpinan imam diosesan adalah uskup dan imam tarekat adalah provinsial kongregasinya. Kalau imam itu adalah imam diosesan maka harus seizin uskup atau uskup yang memberi tugas. Bisa juga dua-duanya: imam mempunyai minat, lalu meminta izin kepada uskup. Romo Mangun, misalnya, ia memang diberi tugas oleh Bapa Uskup Agung Semarang untuk mencari pendidikan itu dan sekarang diteruskan supaya orang kecil bisa mengenyam pendidikan. Sekarang karyanya itu diteruskan oleh imam-imam diosesan Keuskupan Agung Semarang.

Imam diosesan itu membantu karya-karya keuskupan di mana ia diinkardinasikan. Jadi para imam bisa melakukan pengembangan karya, apalagi karya-karya di keuskupan banyak, itu harus didukung.

Saat ini, umat tergolong sudah cukup mandiri. Urusan administrasi sebenarnya bisa ditangani oleh sekretaris atau dewan paroki. Mengapa masih banyak imam justru lebih sering berada di pastoran?

Namanya saja pastoran berarti memang tempat pastor di situ. Sudah lama pastor tidak memegang urusan sekretariat ini. Dulu, sebelum punya sekretaris, memang menangani sendiri. Imam lebih sering berada di pastoran ya karena imam itu memang tinggal di pastoran. Kalau pastor paroki kan kerjanya memang di pastoran. Semua pelayanan sakramen itu yang boleh memberikan hanya pastor.

Saya pernah menjadi pastor paroki. Mulai habis Misa pagi sampai siang, tamu datang silih berganti; ada yang datang minta uang, konsultasi masalah, kanonik, padahal saya belum sempat makan pagi. Lalu ada yang minta Minyak Suci, yang lain ada pemakaman. Sorenya kunjungan keluarga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here