Frater di Dunia Malam

76
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dunia malam adalah surga bagi semesta. Antara mimpi dan sadar semua menjadi satu. Kupu-kupu dan ular berkeliaran menuju peraduannya. Mereka mencari uang juga kepuasan. Malam dijadikan surga, siang dianggap neraka. Cinta yang tulus telah mati suri. Nafsu yang liar berkeriak membeludak.

Di perempatan jalan mereka ada. Di diskotik mereka ada. Di mana-mana mereka ada. Di ruang kudus mereka ada. Semua tempat dibilang layak bagi mereka. Tak ada ruang yang membatasi ruang gerak mereka. Semua karena mereka masih manusia yang ingin mempertahankan hidup.

“Kalian harus mampu masuk dalam dunia mereka. Jangan sungkan mengenal mereka secara pribadi. Untuk itulah kamu diutus,” ungkap Romo Rektor.

“Apakah Romo yakin tak terjadi apa-apa?” tanya Mario.

“Aku tahu perutusan ini banyak konsekuensinya. Kamu harus yakin akan dirimu sendiri. Jika kamu memiliki keyakinan semuanya akan berjalan dengan baik,” tegas Romo melanjutkan.

Selepas menerima arahan, kami meninggalkan ruang konferensi. Romo tetap di ruangan itu dan membereskan beberapa berkas yang akan kami bawa. Dari sorot matanya dia merasa yakin bahwa kami bisa menjalani perutusan ini. Dia seorang yang tegas dan prinsipil. Hal-hal yang berkaitan dengan akademik menjadi prioritas utama. Semua usulan berkaitan dengan kualitas studi selalu disambut gembira. Hal ini termasuk usulan kami untuk live-in di tempat prostitusi atau dunia hiburan malam.

Saudaraku, Lius mengusulkan rencana ini. Pengalaman kegiatan pengabdian sosial di Jakarta mendorongnya untuk masuk ke “dunia” lain. Dia mengusulkan kegiatan ini dalam pertemuan komunitas bulan lalu. Sebelum melempar usulan ke tengah-tengah komunitas, Lius sudah berbicara dengan beberapa saudara. Usulannya disambut baik oleh mereka. Namun, saat pertemuan komunitas banyak anggota yang menolaknya. Ada pro dan kontra di antara anggota komunitas.

“Apakah tak ada tempat lain untuk mengadakan live-in? Bagaimana pandangan orang atas kegiatan kita? Banyak tempat yang bisa kita hubungi terutama beberapa lembaga sosial, panti jompo atau panti asuhan. Kita perlu mempertimbangkan lagi usulan saudara Lius,” ungkap Fabi memberi masukan.

“Aku ingin menceritakan sedikit pengalaman live-in di Jakarta. Bersama saudara Angga, kami melakukan observasi di salah satu tempat hiburan malam. Di sana banyak orang ingin kembali ke hidup yang baik. Tuntutan ekonomi yang tinggi membuat mereka seperti itu. Kesaksian dari seorang yang kami jumpai saat itu mendorong aku mengusulkan kegiatan ini. Seorang pekerja dunia malam mengalami perubahan hidup saat melihat pelayanan para suster di lingkungannya. Dia merasa diperhatikan dan disapa secara baik,” ungkap Lius.

Banyak pro dan kontra dalam pertemuan itu. Adu argumen menghiasi pertemuan bulanan tersebut. Namun, hampir sebagian besar anggota komunitas menyetujui kegiatan itu. Selain menantang, komunitas belum pernah mengadakan kegiatan di dunia malam. Setelah mempertimbangkan dengan matang, romo superior dan beberapa romo setuju dengan kegiatan ini.

***

Selepas pertemuan itu aku menuju kamar. Saat tengah membereskan perlengkapan, seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku merapikan tempat tidur dan segera membukakan pintu.

“Eh, Lius. Silahkan masuk,” tawarku.

“Makasih, Ten. Aku ingin menceritakan sesuatu kepada kamu,” ungkapnya sambil menuju kursi dekat jendela kamarku.

“Apakah kamu sudah membereskan perlengkapan live-in?” tanyaku.

“Itulah yang ingin aku ceritakan ke kamu,” sambungnya dengan nada datar.

Aku mengambil sebuah bangku kecil dan bersandar di tembok. Meski semua perlengkapan belum beres, aku sempatkan waktu untuk saudaraku. Toh, hanya handuk yang masih tertinggal di jemuran. Lius sepertinya memikul beban yang amat berat. Tak seperti biasa, kali ini dia mengalami masalah.

“Aku tak yakin semua saudara akan bahagia dengan kegiatan ini. Banyak tantangan yang akan kita hadapi nanti. Tapi ini kesempatan yang baik untuk belajar tentang hidup yang sesungguhnya. Kita yang berkumpul di sini dipanggil untuk menjadi pelayan. Kegiatan ini membantu kita untuk bisa melayani dengan baik. Jika kita tak keluar menghadapi realitas tugas pelayanan kita tak membuahkan hasil,” ungkapnya dengan serius.

Aku memahami apa yang dipikirkannya. Dia memikirkan perjalanan panggilan dari anggota komunitas. Jika melalui kegiatan ini ada yang gagal melanjutkan perjalanan suci ini, bebannya pasti akan berat. Melaksanakan kegiatan di dunia hiburan malam memang tidak gampang. Banyak hal yang harus disiapkan dengan matang. Aku percaya melalui kehidupan doa dan ekaristi yang rutin semuanya akan berjalan dengan baik.

“Aku ingin mendengar tanggapanmu, Ten,” tanya Lius.

Aku merasa seperti diteror di ruang pengadilan. Namun, inilah kesempatan yang baik untuk menguatkannya.

“Aku merasa senang dengan kegiatan ini. Kematangan panggilan dan pribadi seseorang akan dimurnikan. Terkadang situasi sulit akan menguji kesetiaanku dalam perjalanan panggilanku. Semuanya tergantung bagaimana kita memaknai kegiatan ini. Aku melihat momen ini sebagai cara untuk berelasi dengan orang lain. Jika Tuhan menghendaki kita untuk berkotor tangan, mengapa kita harus takut. Aku tidak takut pada ‘dunia’ lain yang akan kita masuki,” kataku meyakinkannya.

“Lalu, bagaimana dengan saudara-saudara yang lain? Mereka melihat kegiatan ini bisa mengganggu panggilan mereka. Sebenarnya kehidupan doa dan studi yang baik dalam komunitas mampu memurnikan panggilan mereka. Namun, aku takut mereka mengalami kekeringan rohani dan kehilangan arah hidup,” terangnya.

“Lius, kita dipanggil untuk semua orang, entah orang baik ataupun orang berdosa. Tinggal dalam kenyamanan hanya akan melemahkan kegairahan pelayanan kita. Motivasi kita berada di sini sangat jelas yakni menjadi pelayan Tuhan. Kita tidak dipanggil untuk memperoleh kedudukan dan kekuasaan. Kegiatan ini membantu kita untuk belajar menerima realitas hidup. Ingat, kaki kita dipersiapkan untuk berjalan di jalan terjal, berduri dan kerikil,” ungkapku penuh keyakinan.

Pembicaraan semakin hangat. Ada yang berubah dari raut wajahnya. Ketegangan tak lagi menyelimuti dirinya. Dia terlihat tegar kembali. Angin segar membangkitkan gairah misionaris dalam dirinya. Ketakutan yang dia rasakan kini menjadi kekuatan. Live-in di tempat prostitusi dan dunia hiburan malam menegaskan bahwa Injil untuk semua orang.

“Saudaraku, bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa. Kehadiran kita di tengah-tengah mereka menampakan kasih Tuhan yang begitu indah,” aku melanjutkan siraman rohani.

“Apakah semua saudara akan berpikir demikian?” tanya Lius.

“Mereka belum mengalami secara langsung beratnya hidup ini. Ilmu filsafat masih membawa mereka untuk berpikir secara ideal. Aku yakin setelah kembali mereka akan memiliki pola pikir yang berbeda. Pengalaman akan mendorong mereka melihat dari hati. Refleksi teologis akan mudah dipahami ketika masuk dalam kehidupan nyata. Kegiatan ini akan sangat berguna bagi perkembangan akademis mereka. Refleksi setelah kegiatan akan berbeda dengan refleksi sebelum kegiatan,” aku meyakinkannya.

“Aku juga berharap demikian. Aten, kamu seperti bapa rohaniku saja. Kamu memiliki karisma menjadi bapa rohani,” ucapnya dengan santai.

“Ah, Lius. Kita ini misionaris. Jadi kapan saja Gereja dan Kongregasi membutuhkan kita harus siap,” ungkapku sambil menepuk bahunya.

“Ya, termasuk perutusan di tempat prostitusi dan dunia malam,” dia menambahkan.

Tanggapan Lius menambah semangat dan motivasiku. Dalam tubuhnya yang kecil, ada api raksasa yang telah menyala. Pikirannya jenius dan penuh daya dobrak. Aku bersyukur memiliki saudara seperti dia. Kegelisahannya terhadap semua saudara menunjukkan kedewasaan panggilan. Aku perlu belajar banyak darinya.

Waktu menunjukkan pukul 22.30. Kami mengakhiri pembicaraan dengan berdoa bersama di kapela. Satu intensi yang kami panjatkan semoga Tuhan menuntun kegiatan live-in selama seminggu ke depan. Saat berdoa lampu kapela padam. Ruangan menjadi gelap. Lius dan aku kaget dan merasa takut.

“Lius, apa yang terjadi?” tanyaku serius.

“Aku tidak tahu? Apakah ini pertanda bahwa Tuhan tidak mengizinkan kegiatan live-in kita?” ungkapnya.

“Bagaimana mau masuk di dunia malam jika kegelapan di rumah Tuhan saja takut,” ungkap Gusto sambil tertawa.

Kata-kata Gusto membuat kami tersenyum. Di hadapan Tuhan kami memohon tuntunan dan perlindungan-Nya. Doa Santo Antonius Maria Claret menguatkan semangat panggilan kami.

“Ya, Allah buatlah aku mengenal-Mu agar Dikau dikenal, mencintai-Mu agar Dikau dicintai, melayani-Mu agar Dikau dilayani dan memuji-Mu agar semua makhluk memuliakan-Mu, Amin.”

Aten Dhey CMF

HIDUP NO.27 2019, 7 Juli 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here