Mario Botta : Gereja, Puncak Karya Arsitektur

92
Mario Botta.
[myswitzerland.com]
Mario Botta : Gereja, Puncak Karya Arsitektur
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Ia menemukan inti arsitektur dalam setiap bangunan suci yang ia buat. Baginya arsitektur tidak hanya sekadar indah, di dalamnya harus membantu manusia menemukan dirinya.

Gereja St Yohanes Pembaptis terletak di atas perbukitan di Desa Mogno, Ticino, Swiss. Bangunan yang dibangun antara tahun 1994-1996 ini dibangun di atas bekas sebuah gereja yang sudah ada sejak tahun 1626. Bangunan sebelumnya habis tersapu longsoran salju pada tahun 1986.

Gereja St Yohanes Pembaptis ini dirancang oleh seorang arsitek bernama Mario Botta yang juga berkebangsaan Swiss. Untuk gereja ini, Mario menggunakan marmer dan granit yang ia dapatkan dari lembah-lembah daerah itu. Batu-batu granit itu ia susun dengan susunan yang cenderung simetris, dengan begitu, batu itu akhirnya tersusun rapi.

Berbeda dengan kebanyakan gereja yang mengambil gaya gotik maupun barok, Mario memilih gaya modern dalam setiap karyanya. Dengan gaya ini, ia ingin menunjukkan, bahwa sebuah gereja adalah puncak arsitektur. “Di gereja, manusia menjadi di dalamnya, bahkan jika dia tidak pernah mengatakan apa-apa,” ujarnya suatu kali.

Sejak Remaja
Botta mendesain bangunan pertamanya pada usia 16 tahun. Saat itu, ia merancang sebuah rumah untuk dua keluarga di Morbio Superiore di Ticino, Italia. Dalam bangunan itu, terlihat pengaturan ruang yang tidak konsisten. Namun, karya ini sudah terlihat akan menjadi gaya arsitekturnya.

Dari karya-karyanya, terlihat bahwa bangunan yang dibuat Mario cenderung mencakup unsur-unsur geometri yang kuat. Ia sering mendasarkan bentuk karya arsitekturnya dengan sangat sederhana. Namun, pilihan ini justru menciptakan volume ruang yang unik. Mario pun memilih membangun karyanya dari batu bata, meski dalam setiap karya, ia cenderung memakai banyak material yang beragam, dan unik.

Gaya ini terlihat di Katedral Kebangkitan Evry, Paris, Perancis (Cathédrale de la Résurrection d’Évry). Untuk katedral ini memiliki tembok berwarna coklat yang jelas memperlihatkan unsur batu bata pada materialnya.

Gaya ini, Mario dapatkan dipengaruhi kebersamaannya dengan Luis Kahn saat ia bekerja di rumah Arsitektur Le Corbusier, Vinesia. Ia bekerja di sana tak lama setelah ia menyelesaikan pendidikan di jurusan arsitektur di Università Iuav (IUAV) Venesia pada tahun 1969.

Sejak itu, batu bata menjadi bahan utama dalam bangunan-bangunan hasil kreatifnya. Satu lagi yang menonjol dari karya Mario adalah nilai spiritual di dalamnya. Ia menunjukkan pentingnya arsitektur sebagai sarana ekspresi manusia.

Tahun 1970, Mario mengawali juga karier mengajar. Kini, ia adalah dosen tamu di Ecole Polytechnique Fédérale EPFL, Swiss. Ia juga mengajar di Yale School of Architecture, New Haven, Connecticut, Amerika Serikat, di Swiss Federal Institute of Technology (EPFL).

Karena sumbangannya bagi karya arsitektur ini, terutama beberapa karya bangunan bernuansa spiritual, Mario akhirnya dianugerahi Ratzinger Award 2019 dari Vatikan. Saat menganugerahkan penghargaan ini, Paus Fransiskus menyampaikan, bahwa komitmen seorang arsitek, yang telah menciptakan ruang sakral, adalah karya bernilai tinggi, dan harus diakui. “Gereja akan terus mendorong karya ini, terutama ketika manusia kadang lupa pada dimensi spiritual dalam hidup mereka,” kata Paus.

Gereja, Sinagoga, Masjid
Karya Mario yang memiliki nilai spiritual tidak hanya sebatas gereja. Ia bahkan melampaui batas-batas Kristianitas dengan bersedia merancang Sinagoga Cymbalista di Tel Aviv, Israel. Di dalam bangunan ini, kembali Mario menggunakan batu bata sebagai material utama.

Setelah jadi tahun 1998, tempat ini berhasil menjadi tempat kontemplasi, cahaya dan doa. Di sini, komunitas Yahudi dapat berkumpul dan diskusi tentang imannya. Sejak itu juga, editor dan kritikus, menilai bangunan ini sebagai contoh luar biasa sebuah karya arsitektur kontemporer.

Mario juga sedang menyiapkan rancangan sebuah masjid yang akan dibangun di Yinchuan, Tiongkok. Di karya yang terakhir ini, ia akan membangun sebuah tempat ibadah bagi umat muslim yang berbeda dengan masjid yang terlihat di dunia Arab. Bangunan dengan sebuah menara ini akan menjadi salah satu penanda baru di kota itu.

Saat memikirkan sebuah tempat ibadah, Mario selalu berada di puncak kemampuannya sebagai seorang arsitek. Baginya, proses menghasilkan sebuah karya “bangunan suci” selalu menghadirkan rasa keinginan tahuan yang sangat besar. Dalam kehidupan manusia yang secular, ia berusaha menemukan makna yang lebih dalam. Ketika menyiapkan rancangan sebuah bangunan suci, ia menemukan inti arsitektur. “Saya memulainya dengan unsur-unsur arsitektur yang biasa. Dalam masyarakat yang secular saya menemukan makna yang lebih dalam. Di sinilah, inti dari arsitektur itu sendiri.”

Mario Botta

Lahir : Mendrizio, Swiss, 1 April 1943
Profesi : Arsitek

Pendidikan :
Sekolah Menengah Liceo Artistico di Milan Jurusan Arsitektur Università Iuav di Venezia (IUAV), Venesia

Penghargaan :
• Grand Offi cer dari Presiden Republik Italia tahun 2006
• Javier Carvajal dari Universidad de Navarra, Spanyol tahun 2014
• Ratzinger Award 2019

Beberapa Karya :
• Monastero dei Santi Apostoli Pietro e Andrea, Leopoli (Ucraina), 2014
• Cappella Granato, Penkenjoch, Zillertal (Austria), 2013
• Biblioteca della Tsinghua University, Pechino (Cina), 2011
• Nuova parrocchia del Santo Volto, Torino (Italia), 2006
• Chiesa, Seriate (Italia), 2004
• Chiesa di San Giovanni Battista, Mogno (Svizzera), 1998
• Chiesa Beato Odorico, Pordenone (Italia), 1992
• Biblioteca del convento dei Cappuccini a Lugano (Svizzera), 1979

Yulius Yulianto

HIDUP NO.36 2019, 8 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here