PINTU NOMOR SEBELAS

166
3.5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – DI depan pintu rumah bernomor sebelas itu, Baskara berdiri mematung. Tatapannya tak lepas dari daun pintu yang tertutup itu. Dihirupnya napas dalam-dalam, seolah kemaruk dengan udara yang kini berlimpah ruah di  sekelilingnya. Setelah sepuluh tahun, hidup dalam tembok tinggi yang terpisah dari dunia luar, kebebasan ini adalah sesuatu yang mahal baginya.

Pintu bernomor sebelas itu adalah tujuan pertamanya, setelah sipir penjara membuka  gerbang tinggi, yang mengurungnya selama sepuluh tahun terakhir. Seraut wajah lembut bermata telaga, yang tak pernah berhenti menghiasi malam-malamnya saat di penjara kini, semakin jelas terbayang di pelupuk matanya. Adakah pemilik mata telaga itu masih mengingatnya? Hari-hari lampau yang mereka lalui bersama? Serta semua pengorbanannya?

***

Sepuluh tahun lalu…

“Kemarikan pisau itu! Cepat berikan padaku!” seru Baskara pada Sonia, perempuan yang sangat dikasihinya itu.

Sonia mengkerut  ketakutan dan gemetaran. Matanya membelalak dengan air mata yang mengalir deras. Bibirnya bergetar, rambutnya kusut masai dan pakaiannya berantakan serta robek di beberapa bagian, menampakkan sebagian tubuhnya yang paling rahasia. Perempuan itu menggenggam sebilah pisau, yang bahkan kilaunya tak lagi nampak karena telah berlumuran darah.

Di depan Sonia, sesosok lelaki dengan mulut berbau alkohol mengerang kesakitan, sambil memegangi perutnya yang terluka parah. Baskara tak kalah gemetarnya dengan Sonia. Ia sangat mengenal lelaki yang terluka parah itu. Lelaki itu yang seharusnya melindungi  Sonia. Namun, ia telah menjadi monster yang mengerikan. Dalam waktu singkat, Baskara langsung paham apa yang telah terjadi. Darah yang berleleran pada bilah pisau, lelaki setengah baya dengan perut koyak, serta pakaian Sonia yang berantakan sudah cukup menceritakan semuanya.

“Berikan pisau itu padaku Sonia, lalu pergilah sejauh mungkin. Kau akan melupakan kejadian ini. Kau harus lupakan semuanya! Kau tak pernah mengalaminya,” teriak Baskara lagi.

Lelaki itu lalu merebut pisau dari genggaman Sonia. Didorongnya pelan tubuh perempuan itu, agar menjauh dari sosok lelaki berlumuran darah yang masih berusaha menghirup sisa-sisa napas penghabisannya itu.

“Cepat pergi! Lupakan semuanya!” Baskara mengulangi perintahnya.

Pisau telah berpindah tangan. Sonia pun berlari meninggalkan tempat itu dengan hati hancur. Ia terpaksa meninggalkan sosok lelaki yang bersimbah darah, yang masih mengerang kesakitan itu. Sosok lelaki itu dulu pernah dibanggakan dan dihormatinya. Namun situasi hidup yang memporakporandakan keluarganya, membuat lelaki itu berubah. Sonia tak lagi mengenal ayahnya sendiri.

Baskara sadar apa yang telah dilakukannya. Cerita hidup di depannya, telah ia tulis sendiri. Sebilah pisau penuh darah yang digenggamnya itu akan membawa masalah besar. Ia sangat tahu hal itu. Sebuah keputusan telah dibuatnya. Ia tak rela, perempuan bermata telaga itu harus menanggung lukanya sendirian. Dengan dada serasa pecah dan tubuh gemetaran, ia memilih untuk menggantikan posisi Sonia.

Akhirnya semua orang pun melihatnya sebagai pembunuh. Pembunuh yang menghabisi nyawa seorang lelaki terhormat di kampung itu. Sepuluh tahun adalah waktu yang dibayarkannya demi Sonia. Baskara rela menjalani hari-hari suram dalam dinding tinggi, yang tidak menawarkan apa-apa selain kepedihan dan keputusasaan.

***

Kini, di depan pintu nomor sebelas itu, ia berharap, Sonia keluar dan mengenalinya, sebagai pahlawan yang telah menyelamatkan hidupnya. Terbayang lagi kehidupan yang ingin dijalaninya bersama perempuan itu. Ia ingin membangun semuanya dari awal, memperbaiki luka-luka bersama-sama.

Tak berapa lama pintu itu terbuka. Degup di dada Baskara semakin kencang. Perempuan itu! Masih seperti dulu. Manis dan mendebarkan. Mereka bertatapan. Sekilas, ia melihat bibir perempuan itu bergerak, namun tertahan.

“Sonia…,” sapanya dengan suara parau.

Mata mereka masih bertautan. Baskara  mencari-cari binar yang dulu bersemayam di mata telaga itu. Namun, ia tak menemukannya. Sonia menatapnya, seolah ia adalah orang asing.

“Sssiapaa…?” tanyanya dengan suara lirih.

“Aku Baskara Nia, masih ingat aku? Aku telah kembali. Aku sudah bebas.”

Baskara berusaha memulihkan ingatan perempuan itu. Namun, ia tak menemukan senyum sedikit pun di wajah Sonia. Ada apa dengan perempuan itu? Mengapa ia tak mengenalinya lagi?

“Aku…Aku…tak tahu.”

Lalu, Sonia terlihat ketakutan. Perempuan itu segera berlari menuju pintu dan menutupnya dengan tergesa. Ditinggalkannya Baskara yang masih termangu ditelan kerinduan dan luka.

Bagaimana mungkin Sonia melupakannya? Baskara telah mengorbankan waktu dan hidupnya di balik dinding penjara hanya untuk membela perempuan itu, melindunginya dari kesia-siaan hidup. Sonia telah mengalami kekejaman luar biasa yang dilakukan ayah kandungnya sendiri.

Perempuan itu juga menanggung beban rasa bersalah yang luar biasa berat karena telah menghilangkan nyawa ayahnya sendiri. Baskara lah yang membuatnya tetap bisa berdiri di luar tanpa cemoohan orang-orang, tanpa label “pembunuh” yang akan selalu melekat setiap saat, bahkan setelah selesai menebusnya.

Baskara telah merelakan itu semua, menelan penderitaan selama sepuluh tahun dalam penjara. Lelaki itu rela disiksa para tahanan lain, diperlakukan tidak adil, serta mengalami pelecehan-pelecehan yang tak terhindarkan. Apakah semua itu belum cukup, untuk sekadar terbayarkan dengan sebuah ingatan?

Baskara merasa terluka. Ia melangkah pulang dengan gontai. Dadanya terasa nyeri. Namun, ia belum menyerah. Ia tak rela semua pengorbanannya sia-sia. Baskara kembali ke rumah itu di hari berikutnya. Ia setia menunggu Sonia dan berusaha mengembalikan ingatan perempuan itu tentang dirinya.

“Kamu ingat kan waktu itu? Kamu memegang pisau berdarah itu. Aku yang melihatmu. Tak ada orang lain. Aku yang menggantikanmu.”

Baskara berusaha mengembalikan ingatan Sonia. Mata perempuan itu membelalak, bibirnya gemetaran. Ia menggelengkan kepalanya. Ada genangan yang hampir tumpah di sudut matanya.

“Tidaak…Tidaaakk!”

Sonia menjerit histeris lalu berlari masuk ke dalam rumah.

“Sonia, tunggu!” seru Baskara.

Namun pintu itu telah tertutup. Baskara menelan kembali rasa kecewanya.

Tak berapa lama pintu kembali terbuka. Keluarlah seorang laki-laki dari dalam rumah. Wajahnya tampan namun tidak ramah. Ia menatap Baskara dengan pandangan tak suka.

“Kenapa kamu datang kemari? Dasar pembunuh!” bentak lelaki itu. Baskara menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak! Aku bukan pembunuh! Aku hanya…”

“Lalu apa namanya kalau menghilangkan nyawa orang lain?” potong lelaki itu penuh dengan kemarahan.

“Gara-gara kamu, istriku mengalami depresi luar biasa. Apakah tidak cukup bagimu untuk membuat istriku menderita selama sepuluh tahun ini? Ia sudah kehilangan ayahnya yang terbunuh secara kejam dan mengenaskan. Kini, ia hampir melupakan semuanya. Jangan ganggu dia lagi! Enyahlah!  Kembalilah pada hidupmu sendiri!” sambung  laki- laki yang  mengaku sebagai suami Sonia itu.

Baskara terdiam mematung, napasnya tersengal, dadanya kembali seperti ditusuk puluhan belati. Apa tadi yang dia bilang? Pembunuh? Ia tidak membunuh! Ia hanya memegang pisau yang berdarah itu. Mulutnya seakan ingin meneriakkan itu. Namun, ia ingat Sonia. Ia tak akan rela membebani perempuan yang dicintainya itu dengan berbagai perkara.

Perasaannya bergolak hebat. Ia sangat mencintai perempuan itu. Bahkan, ia tak pernah melupakannya sehari pun, selama sepuluh tahun di dalam penjara. Mengapa hanya seperti ini akhirnya? Mengapa hanya penghinaan dan kekecewaan yang didapatnya?

“Pergi kamu! Atau kulaporkan polisi agar kamu kenali ke penjara lagi?” Suami Sonia kembali mengancam.

Baskara menunduk lesu. Ia pun berbalik arah, melangkah gontai sambil membawa  hati remuk berkeping-keping. Lelaki itu berusaha tegar untuk  menahan perih dari luka di dadanya. Lelaki  yang sedang hancur  itu tak tahu, tak akan pernah tahu bahwa, dari balik korden pintu rumah nomor sebelas itu, Sonia mendesiskan namanya dengan hati tak kalah terlukanya,

“Baskara, maafkan aku. Aku terpaksa berpura-pura melupakanmu, meskipun sesungguhnya aku tak pernah mampu. Aku harus belajar untuk sungguh-sungguh melupakanmu. Aku tak mungkin menyakiti hati suamiku. Ia yang membuatku bangkit dari keterpurukanku. Ia juga  yang telah mencintaiku dan  mengikatku dalam sakramen suci. Kuharap kamu menemukan seseorang lain yang melebihi segalanya dariku. Biarlah kamu tetap tinggal dalam hatiku, namun tidak di hidupku.”

Oleh Tantrini Andang

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here