Aroma Cendana dan Sepotong Kecemasan

73
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – AKU sudah merasakan kehadiranmu sejak beberapa hari terakhir ini. Iya itu memang engkau. Siapa lagi yang suka mengenakan parfum aroma cendana di rumah ini? Sejak kau pergi, aku tak pernah mencium aroma cendana itu lagi. Tak ada.

Aku tak akan pernah lupa saat  engkau menyemprotkan parfum cendana itu ke tubuhmu setiap selesai mandi. Dirimu dan aroma cendana itu begitu menyatu. Seperti tinta dan buku. Kau pernah mengatakan padaku bahwa aku akan selalu ingat padamu setiap mencium aroma cendana. Dan itu terbukti hingga saat ini.

Namun tahukah engkau, aroma yang sangat kuhafal itu membuatku cemas beberapa hari terakhir ini?  Meskipun aku berusaha menghibur diriku sendiri dengan berpikiran bahwa itu hanya caramu untuk melepas rindu, namun tak urung aku juga berpikir lain. Ada hal  yang membuatku takut menghadapi hari-hariku ke depan. Apalagi aroma itu muncul hanya di kamar ibu, tempat perempuan terkasih itu kini sedang terbaring  sakit.

Di sela kecemasanku, aku masih berharap apa yang kucemaskan tidak akan terjadi. Kau harus tahu bahwa saat ini aku masih sangat membutuhkan  ibu. Perempuan yang sama-sama kita cintai itu adalah penyemangat hidupku. Setelah kehilanganmu, aku tak ingin kehilangan ibu.

Pagi ini aroma cendana itu kembali menguar saat aku memasuki kamar ibu. Aku melangkah  menuju jendela.  Kubuka jendela lebar-lebar. Sempat kupikir barangkali tetangga sebelah juga menggunakan parfum yang sama denganmu lalu aromanya masuk melalui jendela kamar. Namun akhirnya aku meragukan kemungkinan itu setelah kurasakan di dekat jendela itu aromanya terasa lebih samar.

Aroma itu semakin menguat di dekat ranjang, tempat ibu  terbaring lemah beberapa waktu terakhir ini. Kulihat mata ibu masih  terpejam. Perut ibu bergerak naik turun seirama alunan napasnya yang perlahan. Di tangannya tergenggam seuntai rosario. Hanya benda itu yang tak pernah lepas dari genggamannya. Barangkali benda itu pula yang membuat ibu merasa lebih tenang dan pasrah.

Kondisi ibu belum membaik sejak sebulan lalu. Tubuhnya makin lemah dan kurus. Kini ditambah dengan munculnya aroma cendana itu, bagaimana mungkin aku tidak gelisah?

Aku tidak tahu apakah ibu juga mencium aroma itu.  Penyakit ibu memang agak mengurangi kepekaan panca indranya. Namun aroma cendana ini sudah melekat dengan jati dirimu. Ibu pasti juga langsung teringat padamu jika bisa mencium aroma ini,

Kadang aku berharap aroma cendana itu berasal dari ibu  yang bangun dari ranjangnya, lalu mengambil botol parfum cendana yang kau tinggalkan di lemari. Setelah itu ibu menyemprotkan ke tubuhnya untuk mengobati rindunya padamu. Jika benar demikian aku bisa berlega hati. Bukankah itu artinya ibu mulai pulih? Sementara  segala kecemasan yang menghantuiku beberapa hari terakhir sejak munculnya aroma cendana itu  pun tak berarti apa-apa lagi.

Namun sepertinya harapanku itu tidak terjadi. Kenyataannya ibu tidak bisa bangun sendiri. Jadi? Aroma itu memang bukan berasal dari botol parfum di dalam lemari. Bukan pula berasal dari rumah tetangga melalui jendela kamar yang terbuka lebar. Aroma itu memang berasal dari kehadiranmu. Memikirkan itu, kecemasanku pun mulai datang lagi.

“Tok?” Suara ibu membuyarkan lamunanku. Wajah ibu masih pucat. Namun aku melihat ada binar  di kedua matanya. Seketika aku menghela napas lega. Apakah ini pertanda ibu akan pulih kembali? Jika demikian maka aroma cendana pertanda kehadiranmu itu bisa kuartikan lain. Engkau hadir karena rindu pada ibu. Hanya itu.

“Ibu sudah bangun?” Aku  melangkah mendekati  ibu lalu duduk di kursi di sebelah ranjang. Kugenggam tangan ibu erat. Ibu mengangkat kepalanya  berusaha untuk bangun. Aku membantunya dengan menata beberapa bantal di punggungnya. Dengan posisi setengah duduk, ibu tersenyum memandangku.

“Ibu tadi mimpi ketemu ayahmu, Tok,” katanya. Aku tercenung. Mendengar dirimu disebut, mendadak kecemasan itu menggunung lagi. Kupandangi sekeliling kamar. Semua masih sama, kecuali mata ibu yang berbinar saat menceritakan segala hal tentang dirimu. Aku merasa engkau begitu dekat. Sedekat aroma cendana yang semakin menguat.

“Oh iya? Bagaimana ceritanya Bu?” Aku berusaha memasang wajah sumringah. Kusembunyikan semua kecemasanku serta gema detak jantungku yang kencang saat kurasakan udara kamar yang makin mendingin.

“Ayahmu tampak gagah dan ganteng sekali. Ia menggandeng tangan ibu. Kami berdua berjalan-jalan di tepi pantai seperti saat kami masih pacaran dulu. Kamu tahu kan Tok, ayahmu dulu menyatakan cintanya pada ibu di tepi pantai?” tanya ibu sambil mengulas senyum lagi. Aku mengangguk. Cerita tentang keromantisanmu sering kudengar sejak kecil. Bahkan setelah kau pergi pun, cerita itu masih mengalir dari mulut ibu.  Dari cerita ibu itu aku belajar bagaimana seharusnya seorang lelaki memperlakukan perempuan yang dicintainya. Kau punya seribu cara untuk membahagiakan ibu. Tak heran ibu tampak sangat  kehilangan sejak  kepergianmu.

“Hukk…hukkk…” Ibu terbatuk-batuk karena terlalu bersemangat bercerita. Napas ibu terengah-engah.  Aku mengelus punggung ibu untuk menenangkannya. Lalu kuambil segelas air putih di meja. Ibu meminumnya beberapa teguk sebelum akhirnya kembali bernapas lega.

“Apa yang dikatakan Ayah, Bu?” tanyaku kemudian.

“Ayahmu tidak mengatakan apa-apa. Ayahmu memeluk ibu lama sekali. Lalu ibu berjanji untuk mengikuti apa pun yang ayahmu inginkan. Kamu tahu kan Tok, selama hidup, ayahmu tak pernah meminta apa pun pada ibumu ini?” Ibu berhenti  untuk mengatur napasnya lagi. Aku berusaha untuk tersenyum. Namun dadaku terasa sesak. Kecemasanku kembali merebak. Engkau memang tidak menjanjikan apa pun. Namun ternyata ibu yang berjanji untuk  menuruti apa pun keinginanmu. Bagaimana kalau ibu menuruti keinginanmu saat ini? Keinginan yang ditandai dari kehadiranmu beberapa hari terakhir  ini lewat aroma cendana di kamar ibu?

“Ibu membutuhkan sesuatu?” tanyaku. Ibu menggelengkan kepalanya. Pandangannya masih menerawang jauh. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku yakin engkaulah yang ada dalam pikiran ibu.

“Ibu kangen sekali pada ayahmu  Tok,” lanjut  ibu lagi. Kuhela napas panjang. Ada genangan di mata ibu, pertanda bahwa perempuan itu sangat merindukanmu. Seketika rasa haru menyeruak di dadaku. Perlahan kurebahkan kepalaku di dada ibu. Tangan ibu mengelus kepalaku dengan lembut. Kupejamkan mataku. Rasanya nyaman sekali tidur di dada ibu seperti ini. Seperti mengulang masa kecilku yang selalu terlindungi. Bagaimana aku sanggup kehilangan elusan lembut perempuan ini?

“Antok juga kangen pada Ayah, Bu,” ucapku tulus. Kuakui aku tak pernah berhenti merindukanmu. Engkau lelaki pertama yang mengajariku tentang banyak hal. Darimu aku belajar bahwa menjadi lelaki tidak cukup sekedar kuat dan cerdas, namun juga harus lembut dan tabah.

Entah berapa lama aku dan ibu berada dalam posisi itu. Kami hanya diam sambil mengenangmu dalam ingatan kami masing-masing. Sampai akhirnya  kusadari bahwa tangan ibu telah berhenti mengelusku. Perlahan kuangkat  kepalaku dari dada ibu. Kulihat ibu memejamkan matanya  dengan senyuman tertinggal di bibirnya. Senyuman bahagia. Seolah ia benar-benar telah bertemu denganmu.

Lalu kurasakan aroma cendana semakin menguat. Aku memandang berkeliling. Kurasakan kehadiranmu begitu dekat. Jantungku kembali berdegup kencang. Kecemasanku memuncak.

Ceklek. Kreeekkk.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan sendirinya. Entah mengapa aku merasa ada yang berkelebat keluar dari kamar menuju ruang tengah. Penasaran, aku bangkit dan melangkah  keluar kamar. Kupandangi ruangan tengah. Tak ada siapa-siapa. Sepi dan dingin.

“Siapa?” tanyaku. Lalu kusadari kebodohanku. Bukankah memang tak ada siapa-siapa di rumah ini selain aku dan ibu? Lalu aroma cendana itu kembali tercium  di seputar ruangan itu. Awalnya begitu kuat namun beberapa saat kemudian terasa samar lalu lenyap. Seakan hanya numpang lewat. Semua terjadi begitu cepat. Aneh. Biasanya aroma itu hanya tercium  di kamar ibu. Lalu kenapa kini…?

Blam!

Aku tersentak. Pintu kamar ibu tertutup sendiri.

Dengan langkah cepat aku  kembali masuk ke kamar ibu. Kulihat ibu masih memejamkan matanya. Kuusap pipi ibu yang keriput itu dengan tangan gemetar.  Kulit wajah ibu begitu  dingin. Kuraba seluruh tubuhnya. Semuanya dingin. Sangat dingin.

“Ibu… Ibu…” Dengan panik kupanggil ibu berkali-kali sambil menggoyangkan tubuhnya. Namun ibu tetap tak bereaksi. Matanya tetap terpejam rapat. Wajahnya begitu damai dan tenang.

“Ibuuuu…” Aku melolong dengan rasa kehilangan yang dalam.  Ada yang tercabut paksa dari dadaku. Sakit sekali. Kecemasanku beberapa hari terakhir ini telah benar-benar terjadi. Kau membawa ibu pergi.

Oleh Tantrini Andang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here