DUA LELAKI YANG MENCINTAI IBU

135

HIDUPKATOLIK.COM – PERTAMA kali aku melihat lelaki jangkung berambut kelabu itu di rumah sakit tempat  ibu dirawat. Ia  duduk di sebelah ranjang dan bercakap-cakap dengan ibu. Sesekali ia mendekatkan  telinganya ke bibir ibu, lalu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Napasku sempat terhenti beberapa detik saat kulihat cara mereka saling menatap. Aku belum pernah melihat ibu menatap ayah dengan cara demikian. Tiba-tiba saja muncul rasa tak suka karena ada lelaki selain ayah yang terlihat istimewa di mata ibu.  Siapa lelaki ini? Apa istimewanya dia?

Lelaki itu memegang tangan ibu dan menempelkannya ke dahi, dada dan kedua pundak kiri dan kanan ibu. Tangan mereka saling menggenggam saat mata mereka sama-sama terpejam. Kudengar suara lirih lelaki itu mengucap doa di antara  napas ibu yang tersengal. Lelaki itu mengakhiri doanya dengan kembali membimbing tangan ibu untuk membuat tanda salib.

Saat ibu kembali membuka mata, aku melihat binar di matanya. Mereka masih saling menatap untuk beberapa saat hingga kemudian tangan lelaki itu mengusap tangan ibu dengan lembut dan kembali membisikkan kata-kata penyemangat.

Akhirnya aku tak bisa menahan diri untuk tidak mendekat. Lelaki itu menoleh ketika mendengar suara langkahku. Dari jarak  dekat aku bisa melihat sorot matanya yang tajam namun menenangkan. Aku tidak tahu apakah rasa tenang itu muncul dari matanya, atau lengkung bibirnya yang mengulas sebuah senyuman. Masih kutemukan sisa-sisa ketampanan masa mudanya di antara kerutan  wajahnya.

“Terima kasih sudah mendoakan ibu saya,” ucapku datar. Bagaimana pun aku tak bisa menyembunyikan rasa tidak rela karena ada lelaki lain yang dekat dengan ibu. Lelaki itu menganggukkan kepala sambil  memperlebar senyumnya. Matanya tak lepas menatapku

“Kamu sangat mirip ibumu,” katanya.

“Oh ya? Sepertinya Om sangat mengenal ibu saya,” tukasku merasa berkesempatan mendapat penjelasan tentang kedekatan mereka. Menyebalkan! Aku tak suka ayah mendapat  saingan. Ia tersenyum lalu mengangguk.

“Aku  teman lama  ibumu.” Nah benar kan? Pasti dia lelaki di masa lalu ibu! Aku mengatupkan gerahamku kuat-kuat.  melihat bagaimana mereka saling menatap, aku yakin mereka tidak hanya sekedar teman. Kalau bukan karena ingat kesopanan, ingin rasanya saat itu juga aku menanyakan hubungan lelaki itu dengan ibu. Namun aku menahan diri untuk tidak menanyakan itu hingga lelaki itu memutuskan untuk berpamitan.

“Ibumu butuh istirahat. Aku pamit dulu ya,” katanya lagi. Lalu ia membisikkan kata-kata pamit ke telinga ibu. Ibu mengangguk sambil berusaha tersenyum lemah.

“Jaga ibumu, Nak,” Ia menepuk pundakku lalu melangkah keluar kamar. Sesaat aku masih memandangi punggungnya yang  menghilang ke balik pintu.

Sepeninggal lelaki itu, ibu tampak lebih tenang. Napasnya mulai teratur saat memejamkan mata. Rasanya tak tega untuk mencecar ibu dengan pertanyaan tentang siapa lelaki itu dan seberapa istimewanya dia bagi ibu. Maka kembali kutahan keinginanku untuk bertanya. Barangkali setelah ibu terjaga dari tidur nanti aku bisa menanyakannya dalam kondisi lebih santai.

Namun ternyata aku tak memiliki kesempatan lagi untuk bertanya pada ibu. Kondisi ibu makin memburuk sejak itu. Penyakit yang diderita ibu  telah membawa ibu pergi untuk selamanya. Ada rasa sedih sekaligus menyesal karena ibu pergi membawa sebuah rahasia. Tentang siapa lelaki jangkung berambut kelabu yang membuat mata ibu berbinar itu tak akan kuketahui selamanya.

Namun saat aku mulai berniat untuk melupakannya, tak kusangka aku melihat lelaki itu muncul kembali  di pemakaman ibu. Ia berdiri agak jauh dari kerumunan pelayat yang mengelilingi liang lahat.  Keingintahuanku  tentang hubungannya dengan ibu pun menyeruak kembali.

Beberapa saat setelah upacara pelepasan jenazah selesai, aku melihat ia  mendekati ayah. Ia menepuk pundak ayah untuk  mengungkapkan rasa bela sungkawa. Dalam sorot matanya yang tajam itu, aku menemukan rasa duka  mendalam yang tak bisa ditutupinya. Mereka tampak  bercakap-cakap sejenak hingga akhirnya lelaki itu berpamitan dan lenyap di antara para pelayat. Aku semakin penasaran tentang hubungan ayah, ibu dan lelaki berambut kelabu itu.

Malam harinya usai acara doa arwah, aku mendapat kesempatan untuk menanyakan lelaki itu pada ayah.

“Ayah mengenal lelaki yang di pemakaman ibu tadi?” tanyaku.

“Lelaki yang mana?”

“Yang badannya tinggi, rambutnya kelabu. Ayah tadi berbicara dengannya,” jelasku. Ayah tampak berusaha mengingat-ingat lalu menganggukkan kepalanya.

“Iya…kenapa?”

“Dia pernah datang menjenguk ibu di rumah sakit,” lanjutku. Aku menunggu reaksi ayah. Barangkali ayah akan menampakkan rasa tak suka atau cemburu. Namun aku salah. Ayah sama sekali  tidak terlihat terkejut.

“Oh iya. Dia teman ibumu,” katanya santai

“Bukan hanya teman biasa kan?” tebakku. Ayah menatapku dengan pandangan menyelidik.

“Kamu tahu dari mana?”

“Dari…dari…ehh…dari cara mereka bicara waktu itu,” ujarku. Ayah  tersenyum.

“Kamu benar. Mereka pernah sangat dekat.”

“Mereka…sepasang kekasih?” desakku. Ayah kembali mengangguk.

“Sudah kuduga.” ucapku. Ayah tersenyum lagi.

“Memangnya kenapa? Apa yang salah kalau ibumu juga  memiliki masa lalu?”

“Tidak salah, Yah. Tapi kenapa tiba-tiba ia muncul  lagi? Lalu bagaimana ia tahu keadaan ibu yang sedang sakit parah saat itu? Apakah mereka masih…saling berhubungan?” tanyaku agak curiga. Tentu tidak ada gunanya mencurigai ibu yang sudah meninggal. Namun aku tak bisa menahan kaingintahuanku. Aku tak rela lelaki masa lalu ibuku mengganggu hubungan ayah dan ibu. Di luar dugaanku, ayah semakin lebar tersenyum. Heran, mengapa ayah sama sekali tidak terlihat keberatan dengan kehadiran lelaki masa lalu ibu itu?

“Ayah yang memberitahunya,” ujar ayah singkat. Kali ini aku terkejut.

“Apa? Jadi ayah  tahu kalau dia mengunjungi ibu?” tanyaku. Ayah mengangguk lagi.

“Tentu. Ayah tahu.”

“Kenapa ayah lakukan itu?”

“Ada yang salah?” Ayah masih bersikap tenang. Aku semakin heran. Terbuat dari apa hati ayah? Lelaki mana yang rela mempertemukan istrinya dengan mantan kekasihnya? Ayah menghela napas panjang. “Namanya Marsudi. Ibumu mengatakan ingin bertemu mantan kekasihnya itu. Nak, selama menjadi istri ayah, ibumu selalu melakukan tugasnya dengan sangat baik. Ibumu itu istri sempurna di mata ayah. Dia tak pernah meminta apa-apa. Maka ayah tak mampu menolak saat ibumu meminta untuk bertemu dengan kekasih lamanya itu.” Ayah mengatakan itu dengan ekspresi wajah ringan seolah hanya sedang membahas soal cuaca.

“Aku nggak mengerti mengapa ayah rela melakukan itu?” tanyaku lagi.

“Ayah mencintai ibumu dan ingin meletakkan kebahagiaan ibumu di atas kebahagiaan ayah sendiri.  Apalagi ibumu sedang sakit waktu itu. Ayah tak ingin membuatnya kecewa,” lanjut ayah lagi.

Aku terdiam. Dalam hati aku agak kesal pada ibu. Untuk apa ibu mengajukan permintaan konyol itu? Bukankah itu artinya ibu menyakiti hati ayah? Namun benarkah ibu memang menyakiti ayah? Mengapa ayah tidak tampak tersakiti?

“Bagaimana ayah bertemu ibu?” tanyaku lagi.

“Ayah melamar ibumu setelah ibumu  berpisah dengan kekasihnya itu. Ayah tak peduli seberapa besar cinta yang bisa diberikan ibumu pada ayah.  Sepanjang menjadi istri, ibumu selalu melakukan tugasnya dengan baik. Itu sudah cukup membuat ayah bahagia.”

“Meskipun hati ibu masih untuk Om Marsudi?” tanyaku. Ayah hanya tersenyum.

“Nak, ayah tidak memaksa ibumu untuk mencintai ayah sedalam yang dia berikan pada kekasih masa lalunya itu. Cinta itu tidak bisa dipaksa. Ia hanya bisa diberikan. Ibumu bersedia menjadi istri ayah. Itu sudah cukup,” jelas ayah. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha memahami sikap ayah. Meskipun terdengar indah, namun aku tahu itu tidak mudah.

“Mengapa ayah tidak khawatir mereka akan menjalin hubungan lagi?”

“Tidak mungkin, Nak. Marsudi meninggalkan ibumu karena ia memilih untuk memenuhi panggilannya menjadi gembala umat. Marsudi itu seorang pastor, Nak. Panggil dia Romo Marsudi, bukan  Om Marsudi,” jelas ayah lagi sambil tersenyum. Aku ternganga. Rupanya bagian ini yang sama sekali tak kuduga. Lelaki masa lalu ibu  seorang pastor? Tiba-tiba aku  merasa bersalah karena telah menduga lelaki itu melakukan sesuatu yang tidak terhormat. Pantas saja! Romo Marsudi datang untuk mendoakan ibu, bukan untuk membangkitkan kenangan masa lalu. Menyadari itu aku menjadi malu.

“Jadi…jadi…” Aku tak melanjutkan kata-kataku.

“Kebetulan ia sedang menjadi romo tamu di paroki kita. Itu sebabnya ayah bisa  memberitahu keadaan ibumu padanya. Minggu ini Romo Marsudi  akan memimpin misa pagi. Kita ajukan intensi misa arwah untuk ibumu ya.” Ayah menutup percakapan malam itu. Aku  mengangguk. Rasa lega mulai menelusup hatiku.  Betapa beruntungnya ibu memiliki dua lelaki hebat dalam hidupnya. Ibu memiliki suami yang mencintainya dengan tulus, dan Romo Marsudi, kekasih masa lalunya yang memberikan cintanya dalam bentuk yang lebih luas. Misa pagi nanti aku akan mendoakan mereka bertiga: ibu, serta dua lelaki hebat yang mencintainya.

Oleh Tantrini Andang     

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here