Keselamatan Adalah Sebuah Pilihan

218

HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Minggu, 22 Agustus 2021 Minggu Biasa XXI, Yos.24:1-2a,15-17,18b; Mzm 34:2-3,16-17,18-19,20-21,22-23; Ef. 5:21-32; Yoh.6:60-69.

“KEHENDAK Allah tidak bersifat otomatis. Dia membiarkan kita untuk membuat pilihan. Banyak hal yang terjadi dalam hidupmu bukanlah kehendak Allah. Kita semua harus memilih antara kehendak Allah dan kehendak kita.” Kutipan khotbah dari Rick Warren, seorang  penulis ternama dan pendeta Kristen Evangelis ini mengingatkan, dari hari ke hari setiap orang beriman selalu dihadapkan pada sebuah pilihan yang paling dasariah: setia dan berkomitmen kepada Tuhan atau tidak? Pilihan semacam ini bukan hanya untuk umat beriman zaman ini, melainkan juga pernah untuk umat beriman zaman dahulu. Alkitab menceritakan bagaimana dua tokoh besar dengan dua nama yang sama meskipun dalam dua zaman yang berbeda mengangkat kembali pilihan untuk selalu setia kepada TUHAN. Mereka adalah Yosua (Ibrani: Yehoshua) dan Yesus (Ibrani: Yehoshua).

Dalam kitab Yosua dikisahkan, menjelang kematiannya, Yosua mengumpulkan semua suku Israel di Sikhem (pusat sosial, politis dan religius suku-suku Israel pada zaman itu). Ia ingin mengetahui sejauh mana kadar loyalitas bangsa Israel kepada Tuhan setelah mereka diberikan Tanah Terjanji. Ia memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih: apakah mereka akan beribadah kepada para dewa negeri Mesopotamia (di seberang Sungai Efrat) dan para dewa negeri Kanaan (dewa bangsa Amori) atau beribadah kepada Tuhan, seperti yang dilakukan oleh klan Yosua sendiri.

Jawaban mereka tegas: “Jauhlah dari pada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada allah lain!” (Yos. 24:16). Mereka menjawab demikian karena mereka telah mengalami bagaimana Tuhan telah membebaskan dari perbudakan, melindungi selama perjalanan menuju Tanah Terjanji dan menyelamatkan mereka dari berbagai bahaya. Pengalaman rohani akan Tuhan yang menyelamatkan menjadi dasar pilihan mereka untuk setia kepada-Nya dan tetap mengakui Tuhan adalah Allah mereka.

Peristiwa yang kurang lebih serupa juga dialami oleh para murid Yesus. Yesus menawarkan mereka sebuah pilihan: setia untuk mengikuti diri-Nya atau tidak. Yesus tahu, beberapa murid-Nya sudah tidak sanggup lagi untuk mendengarkan ajaran Yesus yang menuntut komitmen dan pengorbanan yang besar. Perkataan-Nya dianggap keras. Menariknya, sekalipun banyak murid akhirnya meninggalkan Yesus, beberapa murid, termasuk kedua belas murid-Nya masih saja bertahan. Sebab, mereka percaya, Yesus adalah Yang Kudus dari Allah dan Sabda-Nya menuntun pada hidup yang kekal. Sama seperti bangsa Israel, pengalaman hidup bersama dengan Yesus, menjadi dasar mengapa memilih setia kepada Yesus apapun yang terjadi.

Pilihan untuk tetap setia kepada Tuhan, kehendak dan ajaran-Nya atau untuk mengikuti kecenderungan ego dan nafsunya ibarat ujian harian umat Kristiani. Mau menjadi pengikut Kristus yang sejati atau abal-abal adalah pilihan kita. Mau menjadi manusia beriman yang berkualitas premium atau palsu, itu juga pilihan kita.

Hanya dua hal dalam hidup, kita tidak bisa memilih: kelahiran dan kematian kita. Itu semua sudah ada dalam rencana Tuhan yang misterius. Tetapi, jalan hidup sesudah dilahirkan dan sebelum kematian adalah pilihan kita sendiri. Kahlil Gibran pernah berkata “Orang tua membawa kita ke dunia ini, tetapi pada akhirnya, seperti apa kita nanti adalah tanggung jawab kita.” Jadi, bagaimana menjalani hidup supaya hidup kita dalam suasana harmonis dan damai (shalom) alih-alih kekacauan (chaos) sekali lagi adalah pilihan kita sendiri.

Pandemi Covid-19 ini mungkin saja konsekuensi dari pilihan keliru dari kita sebagai satu bangsa manusia. Terlepas dari teori konspirasi atau kebocoran laboratorium, Covid-19 mungkin muncul karena kita sudah memilih untuk tidak setia kepada Tuhan dalam arti melanggar perintah-Nya: menjaga, merawat dan mengembangbiakan alam ciptaan Tuhan. Sebagian besar manusia lebih memilih untuk menurut nafsu serakahnya: mengeksploitasi alam besar-besaran demi ‘perut’ dan kesenangan kita. Karena itu, tidak bijak jika buru-buru menyalahkan Tuhan dan mengklaim kehendak atau takdir dari Tuhan atas segala kesulitan hidup, penyakit atau penderitaan yang dialami. Akhirnya, penting disadari, keselamatan adalah sebuah pilihan.

Pilihan untuk tetap setia kepada TUHAN, kehendak dan ajaran-Nya atau untuk mengikuti kecenderungan ego dan nafsunya ibarat ujian harian umat Kristiani.

Romo Albertus Purnomo, OFM
Pengajar Kitab Suci STF Driyarkara, Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here