Wujud Kepedulian Seratus Tahun Katedral Bandung

56
Tampak luar Katedral Bandung
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Sebagai City Church, pelayanan Paroki Katedral Bandung diperuntukan bagi semua kalangan. Tanpa terkecuali!

JIKA berkunjung ke Katedral St. Petrus Bandung, suara kereta api sangat jelas terdengar. Lokasi paroki sangat dekat dengan rel kereta. Tidak sedikit, warga yang bermukim di pinggiran rel kereta tersebut. Hal ini yang menggerakan Paroki Katedral melayani sekitarnya tanpa pandang buluh.

Selama ini, pelayanan yang diberikan menyasar ke semua, mulai dari umat paroki lain sampai masyarakat umum. Ketua Seksi PSE Katedral, Elisabeth Susana menerangkan berbagai kegiatan sosial selama ini sudah dilaksankan, walaupun ada yang tersendat karena pandemi.  Selain menjual sembako murah, mereka mempunyai program rutin yakni Nasi Pincuk.

Nasi Pincuk

Sudah belasan tahun program nasi pincuk ini dilaksanakan. Setiap Sabtu pagi, paroki menjual nasi seharga Rp 2.000. Susana menerangkan, sebelum pandemi, mereka biasanya makan di tempat (di aera gereja) agar ada interaksai dengan umat. Dengan begitu jadi tahu kesulitan mereka. Nasi pincuk adalah satu cara pendekatan untuk warga. Kebanyakan yang membeli nasi ini adalah warga yang tinggal di pinggiran rel.

Kegiatan Nasi Pincuk Paroki Katedral Bandung.

“Awal terjadi pandemi Covid, sempat ditunda dulu, karena gereja ditutup. Nah sekarang sudah dilaksankan kembali, setiap hari Sabtu pagi tapi nasinya dibungkus dan dibawa pulang, agar tidak terjadi kerumunan. Kenapa nasi tidak digratisan agar mereka menghargai juga. Mereka beli nasi ini dengan hasil jerih payahnya. Kalau secara cuma-cuma, kadang ada yang enggak suka, nanti langsung dibuang,” tambah Susana.

Ketika lonjakan Covid naik, Katedral malah menjemput bola. Ketika program nasi pincuk ditunda, mereka mengirimkan sembako dan nasi bungkus secara gratis ke beberapa ruas daerah gereja. Mereka juga dibantu dengan kehadiran Serikat Sosial Vinsensius (SSV) Katedral. Mereka juga bergabung ke PSE.

Tepat Sasaran

Katedral Bandung sudah dikenal mempunyai umat yang terbilang sedikit. Gereja yang kerap dikenal dengan sebutan The City Church, memberikan pelayanan tidak hanya untuk umat Katolik, juga untuk warga, tidak melihat ras, suku dan agama. Fokus Seksi PSE adalah melihat kebutuhan mereka.

Bagi Sub Seksi Sosial Karitatif dan Sembako Murah, Ignatius Tjetjep Hidajat Herlangga kepedulian Gereja diwujudkan dalam bentuk bantuan keuangan, yakni ada bantuan hidup, santunan untuk lansia, bantuan pendidikan, kesehatan, dan ada bantuan yang sifatnya tidak berkelanjutan (sesekali).

Ignatius Tjetjep Hidajat Herlangga

Biasanya, Tjetjep menjelaskan, untuk bantuan biaya hidup cenderung untuk diperuntukan bagi mereka yang sangat membutuhkan, kebanyakan  para janda, punya anak dan tidak bekerja. Tidak penuh karena banyak yang PSE bantu dan biaya ini rutin dikeluarkan.  Uang bantuan kesehatan misalnya, bahkan ada yang sampai dirawat di rumah sakit. Untuk rumah sakit, kerja sama dengan Rumah Sakit St. Yusuf. Mereka juga membantu Panti jompo yang kesulitan dan memberikan bantuan secara bulanan. Itu pun bukan milik institusi gereja.

Tjetjep mengatakan, bantuan-bantuan
harus tepat sasaran.  “Ada orang yang memang kemudian ujug-ujug datang ke paroki minta bantuan, ya kami lihat, kebutuhannya. Biasanya yang datang tiba-tiba itu yang butuh untuk beli obat, buat makan, atau buat balik kampung untuk para mantan narapidana.  Intinya pasti kami berikan bantuan. Kami juga melihat kembali, kadang ada yang kembali minta bantuan dengan alasan yang serupa. Cara menolak seseorang pun harus hati-hati. Jangan sampai mereka tersinggung. Kalau sampai tersinggung, mereka bisa jadi menilai Gereja bukan ke pribadinya. Kami kebanyakan mengalah untuk menang,” tuturnya terkekeh.

Susana menambahkan, tantangan yang dihadapi adalah harus berani negosiasi dengan warga. Setidaknya memberikan mereka ongkos jalan. Susana dan Tjetjep tidak pernah membiarkan seseorang pergi dengan tangan kosong.

Bersukacita

Tjetjep dan Susana merencanakan suatu kegiatan yang memberikan modal kepada pedagang. Tapi perlu ada orang yang mendampingi.  Mereka mengakui kekurangan personil, khusunya orang muda. “Rata-rata orang muda di lingkungan Katedral adalah para pekerja. Jadi yang bergerak adalah orang-orang dewasa usia lanjut.  Orang muda pilih aktif di kor dan sebagainya. Untuk kegiatan seperti PSE, enggak ada waktu mereka,” terang Susana.

Elisabeth Susana

Kendati demikian, terus terang, mereka merasakan banyak sukacita dalam menjalani tugasnya di PSE. Mereka melihat secara jelas begitu banyak warga yang membutuhkan bantuan dan Gereja sangat mengusahakan.Kami bersyukur masih dipercaya dan dapat membantu mereka,” ungkap Tjetjep.

Kegembiaraan juga dirasakan Susana. “Sangat senang melihat anak-anak terus mengenyam pendidikannya. Lebih senang lagi bisa bantu mereka dapat kerjaan. Kami mendukung dan mengarahkan mereka, misalkan mengambil sekolah kejuruan. Saya teh ikut prihatin kalau mereka enggak didukung keluarganya dan akhirnya putus sekolah,” tuturnya.

PSE juga menyelenggarkan beberapa pelatihan dan kursus seperti kursus membuat kue, menjahit sampai pelatihan Bahasa Inggris, Mandarin, Belanda. Ada pula seminar untuk cari kerja.

Sebagai warga Katedral, Tjetjep berkeinginan untuk selalu bermanfaat bagi masyarakat. Baginya, apalah arti 100 tahun tapi tidak bisa melayani masyarakat yang membutuhkan. Semoga apa yang kami usahakan ke depan dapat terlaksana. Begitu juga dengan Susana. Secara pribadi, ia berharap suatu saat Gereja mempunyai rumah singgah bagi orang yang tidak punya tempat tinggal.

Peduli Pendidikan Anak

Selain gerakan sosial, Paroki Katedral dikenal kerap membuka diri. Ketua Bidang Persaudaraan Bonaventura, Ady Hartanto menerangkan adanya kegiatan open house yang mengundang para tokoh lintas agama dan pemerintah setempat. Tujuannya bersilahturahmi. “Sebelum pandemi, kami kerap mengadakan kunjungan ke pesantren,” tambahnya.

Kepala Paroki Katedral Bandung, Pastor Barnabas Nono Juarno, OSC (kanan) dan anak-anak.

Sapaan ini juga dilakukan dalam rangkaian kegiatan diselenggarakan sebelum menuju acara puncak di tanggal 19 Februari 2022. “Aneka kegiatan kami adakan seperti kunjungan ke panti wreda, panti sosial, panti asuhan, khitanan massal. Di Bulan Januari 2022 kami sempatkan berkunjung ke salah satu taman belajar,” tutur Adi.

Kelahiran Tasimalaya ini menjelaskan bahwa Paroki membuat  “Cathedral Charity, Walk, Run and Bike 2022. “Dari charity, kami mengajak umat mengumpulkan dana beasiswa bagi anak-anak yang kesulitan biaya sekolah. Kami mengajak umat berpartisipasi dan memperhatikan pendidikan anak karena kita juga bertanggung jawab atas keberlangsungan masa depan mereka,” terangnya.

Bonaventura Ady Hartanto

Begitu juga dengan hasil penjualan merchandise 100 Tahun Katedral, menurut Ady selaku Ketua Panitia 100 Tahun Paroki Katedral Bandung, keuntungan dari penjualan ini akan pakai untuk memulai program ASAK (Ayo Sekolah, Ayo Kuliah).

ASAK merupakan sarana umat untuk membantu pendidikan bagi anak yang kurang mampu. Hal ini berangkat dari melihat banyak anak yang terdampak karena pandemi. Bagi Ady, ini merupakan kesempatan bagi Katedral untuk mensosialisasikan bahwa Gereja hendaknya siap membantu keberlangsungan pendidikan anak.

“Di ulang tahun ke 100 ini, tema yang diusung adala “Bertumbuh dalam Masyarakat”. Tahun ini fokus kami untuk charity, mengajak umat berdonasi. Katedral sudah dari dulu yang hidup di tengah masyarakat sampai detik ini. Tahun yang istimewa, kami mengajak umat untuk berperan nyata dalam masyarakat. Tidak perlu cari yang susah-susah, mulai membantu anak-anak, masa depan bangsa,” jelas Ady.

Harapannya, Katedral bisa selalu bertumbuh. Momen 100 tahun ini mengingatkan kembali apa saja yang sudah dilakukan dan bisa ditingkatkan kembali.

Karina Chrisyantia/Felicia Permata Hanggu (Bandung)

HIDUP, Edisi No. 08, Tahun ke-76, Minggu, 20 Februari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here