Bir Adalah Bukti Kasih Tuhan demi Kebahagiaan Kita: Kisah Gereja Jopen di Haarlem Belanda

536
Jopen Kerk tampak dari luar
5/5 - (5 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – CEREVISIA ARGUMENTUM ES DEI AMORIS NOSTRI VOLENTIS NOS FELICES ESSE (Bir adalah bukti kasih Tuhan demi kebahagiaan kita). Demikianlah sebuah kalimat berbahasa Latin tertulis pada bagian altar Jopen Kerk (Gereja Jopen) yang terletak di Kota Haarlem, Belanda bagian utara.

Bagian dinding altar dari Jacob Kerk yang kini menjadi Jopen Kerk.

Barangkali sekilas kalimat ini menimbulkan kesan yang sangat kontroversial apalagi terpampang pada dinding altar sebuah gereja. Untuk memahaminya, baiklah kita untuk mengetahui banyak hal yang melatarbelakanginya.

Sekilas tentang Kota Haarlem dan situasi Kekatolikan di Belanda

Sejak abad pertengahan, Haarlem dikenal sebagai kota penghasil bir terbesar di Belanda. Diketahui bahwa pada masa 1620-1640 terdapat 52 pabrik pengolahan bir (brewery) di sana. Puncaknya, di tahun 1648 Haarlem tercatat memproduksi 67,5 juta liter bir dalam setahun.

Hal ini dapat dipahami mengingat Belanda merupakan negara 4 musim yang membutuhkan bir atau minuman alkohol lainnya untuk menghangatkan badan, terlebih ketika musim dingin. Pada abad ke-18 produksi bir di Haarlem menurun drastis akibat mahalnya pajak bir serta meningkatnya popularitas kopi dan teh. Tahun 1916, Het Scheepje menutup pabriknya dan berakhirlah produksi bir di Haarlem. Tradisi pembuatan bir di Haarlem seperti hilang lenyap.

Bar dan tabung pembuatan bir di Jopen Kerk dengan dinding merah dan mozaik peninggalan dari Jacob Kerk.

Ketika merayakan ulang tahun ke-750 pada 11 November 1994, masyarakat Haarlem kembali menghidupkan tradisi pembuatan bir dengan menggunakan resep Hoppenbier yang digunakan sejak 1501 dan menamakan produksi bir tersebut Jopenbier. Hop merupakan bahan pembuat bir yang memberikan rasa pahit. Jopen merupakan sebutan tong kayu yang menampung 112 liter bir yang diangkut di Sungai Spaarne.

Dari sejarah singkat ini, kita bisa memahami bahwa bir telah menjadi bagian hidup masyarakat Haarlem, baik sebagai tradisi maupun sebagai sumber penghasilan.

Pada abad pertengahan pun terdapat banyak penganut Katolik di Belanda, sehingga tidaklah heran jika terdapat banyak gereja termasuk di Haarlem. Kala itu, mereka sangat menghormati Santo Maarten sebagai pelindung pembuat bir di Haarlem. Sedangkan saat ini, dengan jumlah umat Katolik yang hanya 21% banyak gereja telah ditutup dan beralih fungsi menjadi berbagai fasilitas publik, misalnya tempat praktek dokter, apartemen, gedung arsip atau bar dan restoran. Hal ini bukan hanya terjadi di Kota Haarlem, namun juga di banyak kota lainnya di Belanda, salah satunya di Kota Amstelveen. Lihat artikel sebelumnya “Dari Altar Menjadi Bar“ Dari Altar Menjadi Bar: Kisah Pilu Gereja Santa Anna Amstelveen Belanda | HIDUPKATOLIK.com

Salah satu hal yang menjadi alasan umat Katolik di Belanda atau beberapa negara Eropa lainnya meninggalkan Gereja Katolik adalah besarnya kewajiban membayar pajak gereja. Seseorang baru bisa mendapat layanan sakramen apabila tercatat sebagai umat di salah satu paroki dan itu artinya mereka berkewajiban membayar pajak Gereja. Apabila tidak, mereka tidak dapat menerima layanan sakramen. Sistem ini diatur oleh pemerintah, bukan sepenuhnya diatur Gereja.

Mengapa masyarakat di Belanda mengubah fungsi (bangunan) Gereja menjadi fungsi lain? Mereka berpikiran bahwa tidak ada yang sia-sia dan bahwa segala sesuatu dapat menghasilkan pendapatan yang memberi manfaat bagi kehidupan. Sehingga lebih baik mengalihfungsikan daripada membiarkan bangunan Gereja yang kosong menjadi tua dan hancur. Pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan perihal regenerasi bangunan bersejarah. Mengingat kebanyakan Gereja di Belanda merupakan bangunan tua yang bernilai historis, maka jangan sampai dihancurkan, tetapi tetap dipelihara kondisinya dengan pengalihan fungsi.

Jopen Kerk (Gereja Jopen) di Haarlem Belanda

Saya berkesempatan datang ke Jopen Kerk (Gereja Jopen) di Haarlem Belanda dan menemukan slogan pada bagian altar CEREVISIA ARGUMENTUM ES DEI AMORIS NOSTRI VOLENTIS NOS FELICES ESSE (Bir adalah bukti kasih Tuhan demi kebahagiaan kita). Anda janganlah mengira bahwa ini sebuah gereja untuk beribadah. Jopen Kerk adalah sebuah bar kebanggaan Kota Haarlem yang menawarkan berbagai jenis bir dari resep Hoppenbier.

Mengapa bar tersebut bernama Jopen Kerk? Dahulu adalah Jacob Kerk (Gereja Jacob). Gereja ini telah ada sejak abad pertengahan dan terletak di jantung Kota Haarlem dan digunakan untuk peribadatan umat Katolik. Seiring menurunnya jumlah umat Katolik di Belanda menyebabkan banyak Gereja kehilangan umatnya. Sejak 2010 Jacob Kerk dialihfungsikan menjadi bar dan restoran yang memproduksi dan menjual produk bir Jopen. Masyarakat Haarlem ingin mengembalikan tradisi bir dalam kehidupan mereka ke tengah jantung Kota Haarlem yang secara geografis ditunjukkan dengan terletaknya Jacob Kerk. Kini Jacob Kerk telah berubah nama menjadi Jopen Kerk.

Bagian fasad Jopen Kerk merupakan bangunan Gereja bergaya gothik dengan dinding bata merah dan model bingkai pintu dan jendela yang menguncup serta mozaik warna-warni. Dinding bagian dalam didominasi warna merah. Interior yang tampak sama sekali tidak meninggalkan kesan bahwa dahulu di sini adalah Gereja. Bagian dalam telah dipenuhi tabung-tabung pengolahan bir berwarna perak dan tembaga. Meja bar panjang dan besar memenuhi ruangan. Di lantai atas didesain sebagai restoran yang didominasi karpet mewah.

Berbagai jenis bir yang ditawarkan di Jopen Kerk

Pilihan menu bir yang ditawarkan memiliki nama yang berkesan spiritual, seperti Triple Trininy (Tritunggal) – alkohol 9%, Heavy Cross (salib yang berat) – kadar alkohol 10%, Doubting Thomas (Thomas yang ragu) – kadar alkohol 10%, dan bir unggulan mereka yang dinamakan Gospel Spirit (semangat Injil).

Yang paling menarik bagi saya adalah slogan yang tertulis pada bagian dinding altar. Dari slogan tersebut, CEREVISIA ARGUMENTUM ES DEI AMORIS NOSTRI VOLENTIS NOS FELICES ESSE (Bir adalah bukti kasih Tuhan demi kebahagiaan kita). Jopen Kerk adalah sebuah bukti nyata sebuah pengurbanan. Gedung gereja yang ditinggalkan umatnya lalu dijadikan „kurban“ untuk sebuah kebangkitan perekonomian masyarakat Haarlem.

Sebuah Refleksi

Dari peristiwa ini kita dapat mengambil beberapa makna. Pertama, memelihara iman jauh lebih penting daripada memelihara rumah ibadah. Jika kita tidak menginginkan gereja semakin hari semakin kosong, maka diperlukan pemeliharaan yang baik. Misalnya, menghilangkan aturan yang menyusahkan umat (aturan pajak yang tinggi, birokrasi yang rumit, dll), adanya para imam yang baik (bukan yang melakukan kekerasan atau pelecehan seksual), pemeliharaan keluarga (mendidik anak-anak dalam iman Katolik).

Kedua, aturan yang menyiksa akan ditinggalkan orang. Sebagaimana ketika usaha bir hilang dari Haarlem akibat pajak yang tinggi, juga terjadi ketika gereja ditinggalkan umat akibat pajak yang tinggi. Mungkin hal ini tidak terjadi pada Gereja Indonesia, tapi terkadang birokrasi yang sulit bisa jadi penyebab umat meninggalkan Gereja. Maka penting bagi Gereja untuk selalu mengevaluasi dan memperbaharui diri.

Ketiga, berusaha memahami dan berpikir positif daripada menghakimi. Ketika Gereja banyak dialihfungsikan sebagai fasilitas publik lainnya, tentu kita akan lebih mudah memahami dan menerima ketika mengetahui alasannya. Bir atau minuman alkohol yang dianggap tidak lazim bagi masyarakat Indonesia, bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Eropa. Di Indonesia orang lebih terbiasa dengan teh atau kopi karena merupakan negara tropis, sedangkan di Eropa orang membutuhkan alkohol pada musimnya. Pada abad pertengahan, para rohaniwan memiliki kebiasaan menenggak bir seusai menjalani masa puasa yang ketat dan banyak biara-biara yang memiliki sumber penghasilan dari pembuatan bir.

Keempat, cinta yang terbesar adalah dengan memberikan nyawa. Jopen Kerk adalah bukti pengorbanan cinta Gereja yang membiarkan rumah ibadahnya dijadikan sesuatu yang dapat kembali menghidupkan manusia lewat perekonomian. Cinta bukan soal kepada siapa saya memberi, melainkan apa yang saya berikan. Sebagaimana kisah orang Samaria yang baik hati, ia menolong dengan penuh totalitas tanpa mempedulikan apakah orang yang ditolongnya dari sukunya sendiri atau dari kelompok lawan.

Salam dari Haarlem Belanda!

Sr. Bene Xavier, MSsR (Kontributor di Wina, Austria)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here