43 Tahun Yayasan Diannanda Sekolah Katolik Santo Kristoforus: Rise and Shine!

244
Pastor Adelbertus Serfi Maria Fangohoi, MSC (tengah), Handojo Tanjung (kiri), dan Sutiono Teguh (kanan) saat menggunting pita (HIDUP/Katharina Reny Lestari)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Yayasan Diannanda Sekolah Katolik Santo Kristoforus, yang berada di bawah naungan Paroki Grogol, Jakarta Barat, merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-43 pada hari ini, Kamis (06/6/2024), dengan Perayaan Ekaristi Syukur dan pemberkatan gedung baru Sekolah Santo Kristoforus Kampus I.

Tari Edan-Edanan yang dibawakan oleh dua penari di kompleks sekolah mengawali rangkaian acara, sementara prosesi petugas liturgi dan empat imam yang diawali oleh empat penari Cucuk Lampah menyusul kemudian. 

Dua penarih menampilkan Tari Edan-Edanan sebagai pembuka rangkaian acara (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

Setiba di depan pintu masuk gedung baru, Ketua Dewan Pembina Yayasan Diannanda, Pastor Adelbertus Serfi Maria Fangohoi, MSC beserta Ketua Yayasan Diannanda, Handojo Tanjung, dan Direksi PT. Mega Mitra Konstruksi (MIKON), Sutiono Teguh melakukan pengguntingan pita, yang disusul dengan pelepasan enam burung merpati.

Rangkaian acara berlanjut dengan Perayaan Ekaristi yang dirayakan secara konselebrasi oleh Pastor Serfi, sapaan akrabnya, dan Pastor Johnny Luntungan, MSC; Pastor Stephanus Berty Tijow, MSC; dan Pastor Bernardus Teguh Raharjo, MSC; pemberkatan gedung baru dengan pemercikan air suci, penandatanganan prasasti pemberkatan gedung baru, dan ramah-tamah.

“Ini gedung baru. Sebelumnya sudah ada gedung SD dan SMP. Gedung baru akan digunakan untuk SD dan SMP. Gedung lama SD akan dirobohkan, dan gedung lama SMP akan tetap dipakai karena masih ada SMA,” ujar I Made Darsana, Ketua Panitia dan Kepala Bagian Sekretariat Yayasan Diannanda, kepada HIDUPKATOLIK.COM.

Empat imam memimpin Perayaan Ekaristi (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

Menurut Made, gedung baru berlantai empat tersebut memiliki 18 ruang kelas SD dan 11 ruang kelas SMP serta beberapa fasilitas, seperti laboratorium komputer, perpustakaan, ðan ruang guru. 

Mengutip tema perayaan, “Rise and Shine,” ia berharap gedung baru tersebut menjadi pengingat bagi semua stakeholder untuk bangkit dan bersinar. 

“Jadi gedung baru ini menjadi penanda bahwa Sekolah Santo Kristoforus semakin bangkit dan semakin bersinar ke depan di dunia pendidikan,” ungkapnya.

Makna dan Safety First 

Sementara itu, Handojo menjelaskan dalam sambutannya tentang makna Diannanda. 

“Dian adalah pelita, nanda artinya kebahagiaan. Jadi Diannanda adalah pelita untuk kebahagiaan,” ujarnya. “Kalau Ibu dan Bapak melihat patung Santo Kristoforus yang menggendong seorang anak di pundaknya … artinya anak-anak kita didik untuk menambah ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Ia juga menyinggung soal sejarah singkat Yayasan Diannanda Sekolah Katolik Santo Kristoforus. Ia membaginya ke dalam tiga bagian: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Pastor Adelbertus Serfi Maria Fangohoi, MSC menandatangani prasasti pemberkatan (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

“Masa lalu: 43 tahun waktu sudah berlalu, pada waktu pintu TK Santo Kristoforus I dibuka oleh Romo Titus Rahail, MSC dengan syahdu. Masa sekarang: Santo Kristoforus sedang maju di bawah bimbingan para guru yang bermutu dengan sistem digital yang sangat bagus. Masa depan: Sekolah Santo Kristoforus tetap maju. Maka dibangunlah gedung Santo Kristoforus I yang baru dengan harapan Sekolah Santo Kristoforus akan menjadi sekolah nomor satu,” imbuhnya.

Ketika ditemui HIDUPKATOLIK.COM di sela-sela acara, Handojo mengatakan pembangunan gedung baru mengutamakan safety first. 

“Jadi kami tidak terlalu mengedepankan estetika, kami lebih mengutamakan keamanan, terutama buat anak-anak. Gedung tidak pakai plafon. Kami juga punya fire pump, exit evacuation system, fire alarm system, sound system untuk evacuation. Jadi kami lebih mementingkan safety first,” ungkapnya. 

Terkait latar belakang pembangunan gedung baru, ia menjelaskan bahwa pembangunan gedung baru Sekolah Santo Kristoforus seiring dengan keberadaan gereja Paroki Grogol yang baru. 

“Gereja memerlukan lahan parkir, sedangkan kami punya tanah kosong. Maka kami bangun gedung baru. Pertama, kami mendukung kegiatan Gereja. Kedua, kami lebih meningkatkan kualitas daripada sarana dan prasarana karena gedung lama dibangun tahun 1980-an,” ujarnya.

Kasih 

Dalam homilinya, Pastor Serfi menggarisbawahi pentingnya kasih.

Para imam dan perwakilan stakeholder berfoto bersama seusai penandatanganan prasasti pemberkatan (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

“Maka dalam perayaan syukur ini, saya mau mengajak kita, mari kita ingat supaya kita yang ada sekarang bersukacita dengan segala sesuatu yang ada sekarang ini. Jangan pernah melupakan apa yang dulu menjadi keprihatinan bersama, apa yang dulu menjadi kesedihan yang membawa Pastor Titus untuk mendirikan sekolah yang kemudian kita sebut Sekolah Santo Kristoforus yang sekarang memiliki karyawan, tenaga guru, tenaga pendidik, karyawan sebesar 250 orang,” ujarnya.

“Kalau kita merayakan perayaan syukur ini, apa yang pantas kita kenang bersama sebagai satu keluarga, Sekolah Santo Kristoforus? Yang kita kenangkan adalah semua orang yang sudah berjasa mendirikan sekolah ini, mereka yang sudah pergi meninggalkan kita maupun mereka yang masih hidup. Kita kenang mereka dalam doa-doa kita, kita kenang mereka semua. Kita lihat jasa-jasa mereka, dan kita doakan mereka yang sudah berpulang. Pastor Titus meninggal bulan Desember tahun lalu dalam usia yang sangat tua.” 

Katharina Reny Lestari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here