Direktur Perkumpulan Strada, Romo Odemus Bei Witono, SJ: Jangan Sampai Anak Menjadi Korban dari “Maksud Baik”

127
Romo Odemus Bei Witono, SJ (paling kanan) bersama staf Perkumpulan Strada menemui Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo dalam rangka 97 Tahun Perkumpulan Strada. (Foto: Dok Yustus Saleh)

HIDUPKATOLIK.COM – Ikut berproses dan melayani di tengah orang muda, membuat Romo Odemus Bei Witono SJ, — akrab disapa Romo Bei — belajar banyak tentang karakter orang muda. Dia pun belajar cara mendampingi mereka dalam menghadapi perkembangan zaman.

Romo Bei mengamati bahwa di tengah zaman yang serba maju, anak terkepung oleh berbagai informasi melalui internet, kawan-kawan, juga dari teman-teman di dunia virtual. Sangat berbeda dengan zaman sebelumnya, anak hanya berinteraksi dengan orangtua, teman-teman sekelas dan guru-guru tertentu.

Dalam arti tertentu menurut Romo Bei, di dalam kepungan tersebut, banyak orang muda sulit menentukan orientasi hidupnya. “Kalau tidak hati-hati, ada orang muda yang kehabisan energi karena salah arah,” ujar Direktur Perkumpulan Strada ini ketika dijumpai di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 4/6/2021.

Saat melayani beberapa tahun sebelumnya di Civita Youth Camp, ia membantu anak-anak muda memiliki semangat yang koheren dengan semangat Injili, yakni menjadi terang dan garam dunia. “Garam itu jangan tawar lalu dibuang dan diinjak-injak orang. Atau jangan menjadi terang yang berada bawah gantang, tapi di atas kaki dian. Yang dibutuhkan bukan hanya pengalaman, tetapi juga pengetahuan yang baik agar bisa mendampingi anak dengan baik,” tandas Romo Bei.

Menurut Romo Bei, untuk sampai pada kesadaran dan pembatinan visi tersebut, formasi yang baik tidak bisa diabaikan. “Formasi itu penting, baik di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Pembentukan orang muda itu penting agar mereka memiliki prinsip-prinsip hidup yang jelas sehingga tidak mudah goyah,” ujarnya.

Menurutnya, mereka yang lebih senior perlu memberi diri untuk membantu dan mendamping orang muda menemukan arah yang tepat di zaman yang cepat berubah. Kalau zaman cepat berubah sementara manusia tidak siap, maka mereka akan tergerus. Maka sebaiknya, sejak kecil memiliki visi misi pribadi.

Romo Bei lebih menyukai diksi “mendampingi” dibanding “mengarahkan”. Istilah mendampingi menurutnya lebih cocok karena dengan itu orang muda memiliki keyakinan diri untuk melakukan sesuatu. Mereka didampingi melihat masa depan dengan visi yang terlebih dahulu dimiliki oleh pendamping. Oleh karena itu, para pendamping; orangtua, guru atau yang lainnya sebaiknya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai.

Lima Sifat Penting

Romo Bei menengarai, ada lima sifat yang sangat perlu untuk orang muda, yakni Pertama, otentik. Seseorang harus memiliki “keaslian” atau otensitas sebab dia adalah citra Allah. Dalam keasliannya, manusia bisa jatuh, tapi tetap saja selalu diundang untuk bertobat dan menjadi lebih baik dan kembali kepada otensitas sebagai citra Allah.

Kedua, seseorang itu diajak untuk memiliki empati. Empati adalah sebuah energi dalam diri manusia untuk ikut merasakan yang dirasakan orang lain dan terlibat di dalamnya. Bei menunjuk contoh, kalau ada banjir atau bencana alam, anak ikut terlibat ambil bagian membantu orang yang kesulitan dengan penuh kesadaran. Atau di Civita, ada kegiatan yang disebut Exposure. Di saat itu, peserta berkeliling ke kampung-kampung untuk membantu. Di SMP Strada Budi Luhur ada “Aksi 24” untuk membantu murid-murid yang kekurangan. Pada setiap tanggal 24 anak-anak mengumpul sebagian uang jajan mereka untuk membantu teman-teman mereka yang membutuhkan.

Ketiga, respect. Harus diupayakan membangun respect untuk anak-anak muda. Menurut Romo Bei, dalam masyarakat yang anonim, atau anomali, orang bisa saja kembali pada dirinya secara absolut sehingga sangat egoistis dan susah sekali peduli dengan orang lain. “Maka perlu menaruh hormat kepada Tuhan, lingkungan, sesama dan diri sendiri. Respect pada diri sendiri misalnya, bagaimana pola hidup, pola makan dan lain sebagainya. Bagaimana potensi yang ada dalam jiwa dan tubuhnya bertumbuh dengan baik,” jelasnya dengan semangat.

Keempat, konfrontasi diri. Manusia harus berani berhadapan dari muka ke muka, mengenal kelemahan diri dan berusaha memperbaikinya. Konfrontasi diri ini harus disertai kejujuran sehingga bisa menemukan kelemahan dan keunggulan diri. “Ini tantangan orang muda untuk berani bercermin,” jelasnya.

Dan, yang kelima, ada perwujudan diri yang semakin sempurna. Romo Bei mendasarkan pandangannya ini pada pada Matius 5:48: “Hendaklah engkau sempurna seperti Bapamu di surga”. Menurut Romo Bei, orang menjadi “sempurna” karena selalu berinteraksi dengan sesama untuk kebaikan. Dalam interaksi itu ada saling menegur dan mengingatkan. “Kalau itu terjadi sejak muda, orang akan bertumbuh dengan baik. Untuk menjadi excellent itu adalah upaya manusiawi kita untuk memberikan yang terbaik bagi sesama. Ini karena kita makhluk pembelajar terus,” jelasnya.

Romo Odemus Bei Witono, SJ (Foto: Emanuel Dapa Loka)

Dalam mendampingi orang muda, Romo Bei mengingatkan harus ada batasan-batasannya. Pendamping tidak boleh masuk terlalu jauh agar tidak merusak perkembangan anak. “Perhatikan bakat-bakatnya juga. Kalau dia berbakat main catur, jangan paksa kasih yang lain. Tawarin buku catur, mau gak? Prinsipnya, jangan paksakan.”

Dalam mendidik anak di zaman ini jelas Romo Bei lagi, pengalaman tanpa pengetahuan yang memadai belum cukup. Di sinilah letak pentingnya kerjasama antara orang tua dan sekolah. “Yang bahaya adalah pengalaman nggak punya, pengetahuannya nggak ada, tapi sangat protektif pada anak. Anak itu selalu dilindungi dan difasilitasi sehingga formasinya tidak terbentuk. Karena orang tua berpikir ‘dulu saya susah jangan sampai anak saya juga susah’, lalu kasih fasilitas aja terus.  Ini yang bahaya,” tegas Romo Bei.

Kalau model pendampingan tersebut yang terjadi ujarnya, anak menjadi korban sebuah “maksud baik”. Dengan proteksi yang berlebihan, anak tidak pernah mengalami sakit dan kesempatan mereguk nilai dari perjuangan dan kerja keras.

“Saya kira yang baik adalah orangtua dan sekolah bermitra. Itu yang ideal. Jadi komunikasi dua arah antara orang tua dengan sekolah, termasuk saling bertanya kalau ada kesulitan,” tuturnya.

Romo Bei mengharapkan sekolah-sekolah pandai memanfaatkan waktu yang ada. “Perlu menyiasati waktu yang terbatas dengan kualitas pendampingan,” kata Romo Bei.

Jelasnya, kalau waktu yang ada hanya 15 menit, gunakan untuk mangafirmasi atau mengapresiasi anak. “Sapa dengan ‘Hei apa kabar hari ini? Wah anda mantap, saya percaya hari ini anda bisa sukses’. Itu kata-kata hanya butuh 1-2 menit, tapi diingat sepanjang pelajaran. Anak membatin ‘ternyata saya dapat afirmasi. Guru sangat mengasihi saya’. Itu kan mengubah,” ungkapnya memberi contoh.

Kualitas sapaan itu menurut Romo Bei sangat penting, maka perlu benar-benar dipertimbangkan. “Jangan sampai baru datang, langsung berkata ‘kamu ngapain!’ Kalau begini, kesempatan bertemu hanya 5 menit, tapi sudah stress duluan,” tambahnya lagi memberi contoh.

Di sekolah-sekolah Strada, kualitas sapaan itu dikonkretkan dalam formula Senyum, Sapa, dan Sopan Santun atau salam AMDG (Ad Maiorem Dei Gloriam). “Kami menyentuh anak-anak juga dengan lima nilai dasar Pelayanan, Kejujuran, Disiplin, Kepedulian dan Keunggulan. Kami ajak mereka untuk unggul dan berjuang bersama,” ungkap imam yang pandai bermain catur dan menulis puisi ini.

Target 100 Master

Mengelola dan membesarkan Perkumpulan Strada dengan 73 buah sekolah, bukan hal mudah untuk Romo Bei. Dia menyadari perlunya kualitas manusia dan strategi yang baik. Untuk itu, Perkumpulan berjuang meningkatkan kualitas SDM-nya melalui berbagai latihan, kursus dan kuliah. Saat ini, sudah 22 gurunya yang menyelesaikan pendidikan di tingkat Master. Saat ini, 43 orang guru sedang menempuh studi S2 dengan biaya dari Strada dan dari lembaga mitra. “Target kami, tahun 2024 mencapai 100 Master, setelah itu 150 dan 23 Master. Di Strada ini ada 273 orang yang berpotensi ambil kuliah Master,” jelas Romo Bei.

Sambil mengupayakan kualitas dengan berbagai cara, Romo Bei mengatakan bahwa Strada selalu ingat pada keunggulan yang sekaligus misinya, yakni melayani orang-orang ekonomi kelas menengah ke bawah. “Kita juga berprinsip, ‘Jangan sampai ada anak yang keluar atau dikeluarkan karena alasan biaya’. Kata Santo Laurensius: Kekayaan Gereja adalah orang-orang yang tidak punya.”

Dalam semangat itu, Perkumpulan Strada memikirkan 6.528 siswa yang tidak mudah membayar SPP. “Kami bisa bantu dengan memberi beasiswa atau membantu mencarikan bantuan seperti ASAK. Pokoknya, kami layani semua dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.

Emanuel Dapa Loka (Kontributor, Jakarta)

BIODATA
Romo Odemus Bei Witono, SJ
Lahir di Jakarta, 31 Juli 1973
Pendidikan

  • S1 Ekonomi Manajemen Perusahaan Universitas Terbuka
  • Studi Filsafat dan Theologi di STF Driyarkara
  • Pernah mengikuti program-program pelatihan di Filipina, Thailand, Kamboja dan Spanyol.

Pengalaman Kerja

    • Moderator Kolese Le Cocq d’Armandville 2008-2013
    • Direktur Civita Youth Camp 2013-2019
    • Direktur Perkumpulan Strada 2019-sekarang

(HIDUP, Edisi No. 24, Tahun ke-75, Minggu, 13 Juni 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here