Kesaksian Seorang Sahabat: Mgr. Frans Sinaga dan Titik Nol

105
Pastor Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga (kanan) bersama penulis saat merayakan Misa Perdana di Katedral Sibolga, 23 Februari 2003. (Foto: Dok RD Hans Jeharut)

HIDUPKATOLIK.COM – SABTU, 6 Maret 2021 pukul 18.00 WIB, Pastor Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga diumumkan menjadi Uskup Keuskupan Sibolga, Sumatera Utara. Pengumuman ini saya ikuti melalui live streaming di chanel Youtube Paroki St. Maria Bunda Para Bangsa, Gunungsitoli. Pastor Ch. Sebastian Sihombing, Administrator Diosesan, membacakan surat keputusan. Begitu mendengar nama Frans disebut saya tidak melanjutkan menonton live streaming. Aneka perasaan muncul. Gembira, bangga dan bahagia. Teman seangkataku jadi uskup!

Ingatan saya kembali ke tahun 1994, ketika pertama kali bertemu dengan (waktu itu) Fr. Frans Sinaga. Frans duduk di tingkat satu ketika saya masuk Tahun Orientasi Rohani (TOR). Satu tahun kemudian kami bergabung bersama di Seminari Tinggi St. Petrus, Sinaksak, Pematangsiantar.

Kebersamaan yang berlanjut sampai kami ditahbiskan menjadi imam. Tahun 1998 kami menjadi “satu angkatan”. Tahun itu, karena alasan pribadi, Frans memutuskan untuk berhenti studi sementara. Sebuah keputusan yang tidak mudah karena justru sedang berkonsentrasi untuk menyelesaikan pendidikan Strata Satu di STFT St. Yohanes.  Di situ saya melihat keseriusan dan ketekunan Frans menghidupi panggilan imamatnya.

Setelah satu semester cuti, ia kembali melanjutkan proses pendidikan dan pembinaan di Seminari.  Sebagai frater, Frans dikenal tekun, saleh, dan sederhana. Tidak pernah terdengar kata kasar atau umpatan darinya. Ada kesan pendiam bagi yang tidak mengenalnya secara dekat. Penampilannya sederhana namun rapi. Di tahun terakhir di Seminari, dia terpilih sebagai Ketua Presidium, ketua di antara para frater yang berasal dari enam keuskupan di Sumatera. Olahraga kegemarannya jogging. Biasanya di kompleks Seminari atau di perkampungan sekitar Seminari.

Sebagai mahasiswa calon imam kami bergumul dengan tugas-tugas kuliah di satu sisi dan pembentukan (formatio, demikian istilahnya) ‘menjadi’ imam di sisi lain. Tidak selalu mudah menjaga keseimbangan di antara keduanya. Idealnya kedua sisi ini berjalan seimbang. Pada akhirnya orang harus menemukan apakah mantap pada pilihan sebagai imam atau memilih panggilan hidup yang lain. Frans termasuk yang bisa menjaga keseimbangan di antara keduanya.

Tahun Orientasi Pastoral (TOP) kami jalani pada kurun waktu yang sama. Frans di Paroki Salib Suci, Nias Barat bersama para imam dan frater dari Ordo Salib Suci. Saya di Paroki Keluarga Kudus, Tarutung Bolak. Dari sharing pengalaman, Frans senang dan gembira menjalaninya. Saat TOP kami diminta mempelajari bahasa daerah dengan intensif. Saya, yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) belajar Bahasa Batak. Frans belajar Bahasa Nias. Belajar bahasa berarti masuk dalam budaya orang lain dengan seluruh cita rasanya.

Saya yakin pengalaman itu yang membuat Frans mengatakan ia bahagia, merasa diterima. Ketika kita mampu menggunakan bahasa yang bisa dimengerti, menangkap nilai-nilai yang terungkap dalam bahasa, jarak antara pembawa pesan dan penerima terjembatani. Lebih dari sekadar kemampuan verbal, Frans memiliki “bahasa kalbu”, ketulusan hati. Itu yang membuatnya diterima dan dicintai.

Lauderis Domine Deus Meus

Mgr. Frans mengambil moto episkopat dari Gita Sang Surya, “Lauderis Domine Deus Meus”, kata-kata yang juga mengilhami Ensiklik “Laudato Si” dari Paus Fransiskus. Ketika menjelaskan pilihan moto episkopat dan logo, ia menyampaikan terima kasihnya kepada para pendahulu, para misionaris Kapusin dan dua uskup terdahulu, tentu juga dua administrator yang pernah memimpin Keuskupan Sibolga.

Pada sisi ini saya menemukan dasar yang membentuk spiritualitas kekatolikan dan imamat Mgr. Frans. Hidupnya dekat dengan penggembalaan para Fransiskan, begitu juga pengalaman pastoralnya. Perjumpaan dengan yang lain, seperti para imam OSC, juga membentuk semangat pastoralnya. Pilihan moto sangat personal,  ungkapan dari nilai-nilai dan pengalaman spiritual pribadi. Namun saya yakin terima kasih terbaik kepada para pendahulu adalah melanjutkan cita-cita dan kerja keras mereka, mewujudkannya menjadi kenyataan.

Di berbagai kesempatan Mgr. Frans mengungkapan ia bahagia berkarya di Keuskupan Sibolga. Ia merasa diterima dan dicintai umat. Ini modal yang sangat baik. Dengan segala hal baik dan menggembirakan itu, Mgr. Frans harus menerima kenyataan bahwa tantangan pastoral sebagai uskup tidak mudah. Tanggal 29 April 2020 Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024 (Perpres No. 63 Tahun 2020). Di daftar Provinsi Sumatera Utara, empat kabupaten di Pulau Nias masuk kategori tertinggal. Mayoritas umat Keuskupan Sibolga, sekitar (139.483 dari total 203.307 jiwa, data tahun 2020) berada di Pulau Nias. Mencintai umat berarti siap mewujudkan dengan sungguh-sungguh mimpi dan cita-cita menjadi Gereja yang ‘mandiri, solider, dan membebaskan.

Mgr. Frans menjadi uskup ketiga untuk Keuskupan Sibolga, sejak wilayah ini ditetapkan sebagai Keuskupan (1980) setelah sebelumnya menjadi Perfektur Apostolik (1959). Dua pendahulunya adalah Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap (1979-2004) dan Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap (2007-2018).

Mgr. Anicetus selama hampir dua puluh lima tahun meletakkan dasar bagi Keuskupan. Banyak karya yang dikembangkan. Dalam bidang pastoral fokusnya pada ketersediaan pelayan tertahbis (imam). Ketika Mgr. Anicetus menjadi uskup, satu-satunya kongregasi religius imam yang berkarya di Keuskupan Sibolga adalah imam-imam Kapusin. Setelah ia menjadi uskup kemudian para imam Serikat Xaverian (SX), Ordo Salib suci (OSC), dan Serikat Sabda Allah (SVD) mulai berkarya di Keuskupan Sibolga. Tarekat-tarekat biarawan dan biarawati juga bertambah. Visi menyediakan imam semakin intensif dengan dibukanya Seminari Menengah St. Petrus, Aek Tolang. Guru-guru agama dan katekis juga dipersiapkan di STP Dian Mandala, yang sebelum mandiri menjadi filial dari IPI Malang. Pembangunan gereja juga banyak dilakukan.

Mgr. Ancetus mendorong keterlibatan awam, bukan hanya dalam liturgi tetapi juga dalam bidang sosial politik kemasyarakatan. Mgr. Frans dalam salah satu wawancara dengan Komsos Keuskupan Sibolga mengakui dalam bidang sosial politik kemasyarakatan secara kuantitatif umat di wilayah Dekanat Nias lebih banyak terlibat dibandingkan Dekanat Tapanuli. Ukuran kuantitatif ini seharusnya berbanding lurus terhadap peningkatan kualitas hidup umat dan masyarakat umumnya di segala bidang kehidupan

Mgr. Ludovikus terpilih menjadi uskup tahun 2007. Dua tahun sebelumnya Pulau Nias luluhlantak dihantam gempa tektonik berkekuatan 8,7 skala richter. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) menghabiskan waktu empat tahun, 2005-2009, untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Namun pemulihan menyeluruh membutuhkan waktu lebih lama dari itu. Di bawah Mgr. Ludovikus terselenggara dua kali Sinode Keuskupan. Visi Gereja Keuskupan Sibolga dirumuskan “menjadi Gereja yang mandiri, solider, dan membebaskan”. Visi dan misi yang masih  relevan sampai hari ini. Tugas Mgr. Frans dan mewujudkannya.

Jika dihitung sejak penahbisan Mgr. Anicetus B. Sinaga, 6 Januari 1981, maka tahun ini genap 40 tahun Keuskupan Sibolga memiliki uskup. Selama 40 tahun telah dua uskup memimpin, dua Administrator Diosesan, Pastor Barnabas Winkler (2004-2007) dan Pastor Ch. Sebastian Sihombing (2020- 2021). Mgr. Anicetus juga menjadi Administrator Apostolik (2018-2020).

Empat puluh tahun adalah angka yang sangat simbolis. Perjalanan selama empat puluh tahun meninggalkan jejak panjang hidup menggereja keuskupan di Pantai Barat Sumatera ini. Bukan kebetulan pula bahwa pada tahun 2022 Seminari Tinggi St. Petrus, tempat para calon imam diosesan enam keuskupan di Sumatera dipersiapkan, merayakan ulang tahun ke-40. Gereja Katolik (di) Sumatera telah menunjukkan pertumbuhan yang baik, dalam hal penambahan umat maupun penambahan tenaga pastoral tertahbis. Mgr. Frans adalah orang kedua yang menjadi uskup dari ladang persemaian imam diosesan ini. Kehadirannya juga menunjukkan cita-cita dan kerja keras para misionaris serta para uskup pendahulu telah berbuah baik. Harapan optimis kita letakkan di pundaknya membangun masa depan keuskupan  dan Gereja yang lebih baik.

Titik Nol

Tanggal 25 Maret 2016 Presiden Joko Widodo meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Barus, Tapanuli Tengah. Barus juga tempat komunitas Kristen pertama di Nusantara, yakni sejak abad ke-7, walaupun jejak-jejak umat Kristen Perdana tidak banyak. Menempatkan “titik nol” di Barus bermakna sangat dalam. Barus jadi titik perjumpaan awal, setidak-tidaknya bagi dua agama di Nusantara: Islam dan Kristen. Perjumpaan ini  mengingatkan kita akan fakta keragaman, panggilan untuk dialog dan kerja sama membangun kehidupan bersama yang lebih baik.

Mgr. Frans sangat terinspirasi oleh St. Fransiskus Asisi. Fransiskus adalah  santo pelindungnya. Moto kegembalaannya pun ditimba dari semangat St. Fransiskus. Kiranya teladan Fransiskus yang peduli pada kaum miskin papa, yang terbuka pada dialog, yang mencintai lingkungan hidup sungguh-sungguh terwujud dalam penggembalaan episkopat Mgr. Frans. Kamis 17 Juni 2021  (Ditunda karena Covid-19,https://www.hidupkatolik.com/2021/06/09/54098/untuk-kedua-kalinya-tahbisan-uskup-sibolga-ditunda-kondisi-kesehatan-uskup-membaik.php), hari penahbisanmu menjadi uskup, menjadi ‘titik nol’, titik awal untuk langkah-langkah berikutnya. Di bawah penggembalaanmu “Lauderis Domine Deus Meus”, semoga Engkau Ya Tuhan Dipuji dan Dimuliakan.

Pastor Frans (paling kanan) dan Pastor Purwo OSC (tengah) mengunjungi penulis di Belitung, 2012. (Foto: Dok. RD Hans Jeharut)

RD Hans Jeharut, Sahabat Mgr. Frans. Berkarya di Keuskupan Pangkalpinang

HIDUP, Edisi No.24, Tahun ke-75, Minggu, 13 Juni 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here