HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 15 Februari 2026. Hari Minggu Biasa VI. Sir.15:15-20; Mzm.119:1-2.4-5.17-18.33-34; 1Kor. 2:6-10; Mat.5:17-37 (panjang) atau Mat.5:20-22a, 27-28, 33-34a, 37 (pendek)
BENANG merah dari bacaan Kitab Suci Minggu ini adalah tentang bagaimana sikap hidup keagamaan atau lebih tepatnya sikap hidup beriman yang benar di hadapan Allah. Jika disebut hidup keagamaan itu lebih kental nuansa konsep manusiawinya, lebih-lebih jika agama disebut sebagai sesuatu yang didirikan oleh manusia.
Bisa dimengerti jika kemudian terjadi bahwa cara beragama sering disalahartikan oleh pengikutnya. Maka tekanan utama kita dalam renungan ini adalah tentang cara beriman yang benar. Selalu menarik bahwa antara apa yang dimaksud Allah dengan apa yang dipahami manusia sering berbeda. Antara apa yang dikehendaki Allah dan apa yang dilakukan manusia sering tidak nyambung atau tidak sinkron. Gagal paham di pihak manusia ternyata sudah dari dulu. Israel menjadi contoh utamanya dan kini giliran kita, Gereja.
Mari kita lihat bersama dalam ketiga bacaan Minggu ini. Dari Putra Sirakh kita belajar tentang taat pada hukum Tuhan, yakni selalu setia melaksanakan kehendak Tuhan laksana memilih hidup atau mati. Jika bijaksana orang akan memilih hidup; jika tidak ia akan mendapat mati. Tuhan melarang orang menjadi fasik dan berbuat dosa. Bangsa Israel mustinya sudah kenyang dengan pengalaman ini. Taat berarti Tuhan selamatkan dan tidak taat berarti Tuhan biarkan. Kita, Gereja juga bisa bernasip sama dengan Israel. Jika tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, Gereja bisa salah arah dan menyimpang.
Di injil Yesus sangat mengecam para pengikut-Nya jika hidup keagamaan mereka tak ada bedanya dengan para Farisi dan Ahli Taurat. Zaman itu cara hidup Ahli Taurat dan Farisi digunakan sebagai standar tertinggi. Siapa bisa menandingi mereka? Tapi ternyata oleh Yesus dipakai sebagai standar minimal.
Kalau kamu sama saja dengan mereka, kamu tidak akan masuk kerajaan sorga. Nah, malah tidak masuk sorga? Yesus menuntut lebih hebat dari mereka; karena ikut Yesus memang harus berbeda, musti dengan kualitas di atas rata-rata. Standarnya bukan kaleng-kaleng tetapi punya contoh sempurna dari manusia ilahi sendiri. Dia itu Penyempurna hukum Taurat supaya tidak lagi jadi hukum yang mati, tetapi hukum yang hidup, yang konkret dan nyata.
Dari Paulus kita tahu tentang hikmat yang dari Allah, yang tak lain adalah Yesus sendiri. Hikmat yang jauh berbeda dengan hikmat manapun, sekalipun itu milik penguasa hebat di dunia. Hikmat itu rahasia dan tersembunyi. Jika dulu diketahui, orang tidak akan menyalibkan Tuhan, kata Santo Paulus. Tetapi jika sekarang juga tidak dipahami dengan benar bahkan orang Katolik pun bisa menyalibkan Tuhan sekali lagi.
Kita bisa membuat Yesus kembali tersalib jika kita menghentikan Kristus hanya dalam Gereja. Jika kita membuat Yesus tidak pernah sampai kepada sesama; jika kita membuat wajah belas kasih Yesus tidak pernah dikenal oleh orang yang sebetulnya sangat membutuhkan, yakni mereka yang ditunjuk Yesus sebagai saudara-saudara-Nya yang paling hina.
Jadi, kita tidak boleh terjebak oleh salah sangka dan salah memilih standar. Keliru jika hidup beriman itu dikira sudah selesai dalam tata ibadah lahiriah dan formalitas di seputar tempat ibadah dan dalam persekutuan internal. Itulah sebabnya mengapa euforia hidup keagamaan di Indonesia sering berbanding terbalik dengan perilaku sehari-hari? Orangnya rajin ibadah tetapi hidupnya tidak beres. Orangnya rajin sembahyang tetapi tidak bermasyarakat atau anti sosial. Bangsanya sangat agamis, tetapi negaranya jorok dan sampah di mana-mana. Pejabatnya terlihat saleh tetapi korupsi merajalela. Kesejahteraan umum masih jauh dari harapan.
Mari kita revolusi mentalitas hidup beriman kita, supaya iman kita semakin berbuah dalam hidup sehari-hari untuk kebaikan semua orang.
Jika sekarang juga tidak dipahami dengan benar bahkan orang Katolik pun bisa menyalibkan Tuhan sekali lagi.
Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 07/Tahun ke-80, Minggu, 15 Februari 2026






