web page hit counter
Jumat, 27 Februari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap: Membiarkan Sabda-Nya Membentuk Keputusan Kita

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 1 Maret 2026 Minggu Prapaskah II, Kej.12:1–4a; Mzm.33:4-5, 18-19, 20, 22; 2Tim.1:8b–10; Mat.17:1–9

PEMBACA terkasih dalam Kristus! Semoga Tuhan memberi adan damai dan kebaikan.   Minggu Prapaskah II membawa kita pada satu undangan rohani yang sangat mendasar: belajar mendengarkan dan membiarkan Sabda Allah membentuk keputusan hidup kita. Di Gunung Tabor, suara Bapa bergema dengan jelas: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Ini bukan sekadar ajakan untuk mendengar dengan telinga, tetapi panggilan untuk membuka hati dan menyerahkan arah hidup kepada Sabda-Nya. Inilah salah satu wujud terdalam dari pertobatan sejati.

Mendengarkan Yesus berarti membiarkan Sabda-Nya membentuk cara kita memilih, cara kita mencintai, dan cara kita memikul salib. Pertobatan bukan hanya menjauhi dosa, tetapi keberanian untuk mengganti pusat keputusan hidup kita—dari ego dan perhitungan manusiawi, kepada kepercayaan penuh pada kehendak Allah. Prapaskah adalah waktu rahmat untuk belajar kembali mendengarkan Tuhan dengan hati yang taat.

Bacaan Pertama menampilkan Abraham sebagai teladan iman yang tak tergantikan. “Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu.” Allah tidak memberi Abraham peta lengkap, tidak merinci langkah-langkah, tidak menjanjikan jalan yang mudah atau aman. Allah hanya memberi Sabda dan janji. Abraham membiarkan Sabda itu membentuk keputusannya. Ia meninggalkan rasa aman, kebiasaan lama, dan kepastian manusiawi, demi mempercayakan hidupnya sepenuhnya kepada penyelenggaraan ilahi. Karena itulah Abraham menjadi bapa iman—bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia taat mendengarkan.

Baca Juga:  Yang Terbaru dari Majalah HIDUP Edisi Nomor 09

Mazmur hari ini meneguhkan sikap iman itu: “Mata Tuhan tertuju kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya.” Pengharapan lahir bukan dari kepastian situasi, tetapi dari relasi dengan Allah yang setia. Abraham berharap bukan karena tahu ke mana ia pergi, tetapi karena tahu siapa yang menuntunnya. Inilah iman yang memerdekakan.

Namun sikap Abraham justru sangat kontras dengan mentalitas banyak orang di zaman ini. Kita sering takut membiarkan suara Allah membentuk keputusan hidup kita. Kita mau taat jika semuanya jelas, terukur, dapat diprediksi, dan menguntungkan. Kita menyusun rencana sendiri—lengkap dengan target, metode, dan keuntungan—lalu melibatkan Tuhan hanya untuk “memberkati” rencana itu. Paus Fransiskus dengan tajam mengingatkan bahwa iman semacam ini bukan iman yang berjalan, melainkan iman yang mengendalikan Tuhan. Padahal Injil mengajak kita melakukan yang sebaliknya agar membiarkan diri dituntun, bukan mengatur Tuhan.

Baca Juga:  Menyoal "Surat Edaran Wali Kota Medan", Mencari Pemimpin Bijak yang Pancasilais

Injil hari ini menunjukkan bahwa para murid Yesus pun berada dalam proses yang sama. Mereka dipanggil untuk meninggalkan ambisi pribadi, mimpi tentang kemuliaan, dan rencana mereka sendiri. Di Tabor mereka melihat kemuliaan Yesus, tetapi Yesus tidak mengizinkan mereka tinggal di sana. Mereka harus turun, kembali ke jalan yang menuju Yerusalem dan salib. Terang Tabor bukan untuk kenyamanan, melainkan untuk membentuk keputusan setia di saat sulit. Proses menjadi murid adalah proses panjang membiarkan Sabda Yesus mengubah cara pandang dan cara memilih.

Bacaan Kedua meneguhkan hal ini melalui Rasul Paulus. Ia mengajak Timotius untuk tidak malu bersaksi dan tidak takut menderita demi Injil. Paulus sendiri telah membiarkan Sabda Kristus membentuk seluruh hidup dan keputusannya—bahkan ketika itu berarti penderitaan. Paus Fransiskus sering menegaskan bahwa Prapaskah adalah waktu untuk bertanya dengan jujur: “Apakah aku membiarkan Tuhan menuntun hidupku, atau aku hanya mencari Tuhan untuk meneguhkan rencanaku sendiri?”

Baca Juga:  Ajang Cici-Koko Domsavian "Menumbuhkan Sikap Toleransi"

Membiarkan Sabda-Nya membentuk keputusan kita bukanlah sikap pasif, melainkan keberanian iman. Itu berarti berani memilih yang benar meski tidak populer, berani mengampuni meski terluka, berani setia meski berat, dan berani berjalan meski masa depan tidak sepenuhnya jelas. Itulah pertobatan sejati yang diundang dalam Prapaskah ini.

Semoga dalam Prapaskah ini kita belajar dari Abraham, dibentuk oleh Sabda Kristus, dan dikuatkan oleh Roh Kudus, sehingga keputusan-keputusan hidup kita—besar maupun kecil—semakin mencerminkan iman, harapan, dan kepercayaan kepada Allah yang setia. Amin.

Proses menjadi murid adalah proses panjang membiarkan Sabda Yesus mengubah cara pandang dan cara memilih.

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No.09, Minggu, 1 Maret 2026.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles