HIDUPKATOLIK.COM – Di tengah masifnya berbagai proyek strategis dan dinamika sosial yang terjadi di tanah Papua, Umat Katolik diajak untuk kembali masuk ke dalam keheningan dan mendengarkan suara hati nurani. Seruan ini bergema kuat dalam homili Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, pada perayaan Ibadah Jumat Agung di Gereja Katedral Katedral St. Fransiskus Xaverius, Merauke.
Dalam perayaan liturgi agung yang khusyuk tersebut, Mgr. Mandagi didampingi oleh Sekretaris Jenderal Keuskupan Agung Merauke, Pastor John Kandam, serta Pastor Yohanis Elia Sugianto. Di hadapan umat yang memenuhi katedral, Uskup menyoroti fenomena “kebisingan” duniawi yang kian menulikan telinga batin manusia dari Suara Allah.
Bahaya “Kebisingan” di Tanah Papua dan Keluarga
Mgr. Mandagi membuka homilinya dengan menggarisbawahi berbagai bentuk kebisingan yang saat ini hadir di Papua, khususnya di Merauke. Ia menyebutkan kebisingan proyek strategis nasional seperti kelapa sawit, cetak sawah, hingga tebu, serta masalah sosial kemasyarakatan seperti kemabukan.
“Akibat dari kebisingan-kebisingan ini, Suara Allah yang ada dalam hati manusia tidak didengar lagi. Allah akhirnya terlempar dari hidup manusia,” tegas Bapa Uskup.

Lebih lanjut, Mgr. Mandagi merefleksikan kisah Sengsara Yesus, secara khusus menyoroti sosok Pontius Pilatus. Pilatus sejatinya menyadari dalam hati nuraninya bahwa Yesus tidak bersalah. Namun, suara hatinya telah tumpul akibat desakan suara politik, ketakutan akan kehilangan kekuasaan, dan intimidasi massa.
“Suara kebenaran dikorbankan demi suara politik dan kekuasaan,” tambahnya, mengingatkan umat agar tidak jatuh ke dalam kelemahan yang sama.
Suara Hati yang Tumpul di Berbagai Lini Kehidupan
Bapa Uskup menguraikan bagaimana matinya suara hati ini terjadi secara nyata dalam berbagai aspek kehidupan umat saat ini:
Dalam Kehidupan Berkeluarga: Suami istri kerap mengabaikan seruan kesetiaan karena lebih mendengarkan “suara keenakan dan kesenangan dunia,” yang berujung pada perceraian dan perselingkuhan. Orang tua yang terlalu sibuk dengan diri sendiri sering abai mendidik anak-anaknya agar menjauhi hal buruk seperti minuman keras.
Dalam Kehidupan Orang Muda: Generasi muda dan remaja sering kali mengabaikan panggilan untuk menjaga kesucian dan kemurnian, dan justru mendengarkan “suara setan” yang menjerumuskan.
Dalam Dunia Pemerintahan dan Politik: Banyak pejabat dan politisi yang mengabaikan suara hati untuk melayani masyarakat. Mereka tergelincir dalam korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan keserakahan akibat lebih mendengarkan godaan kekuasaan.

Uskup juga menyinggung dampak hilangnya suara hati pada skala global, merujuk pada konflik dan kekerasan di Timur Tengah, sembari mengapresiasi seruan perdamaian dari Bapa Suci Paus yang perlahan mulai membawa dampak positif bagi meredanya peperangan.
Menghidupkan Kembali Suara Allah
Meski dunia penuh dengan kebisingan, Mgr. Mandagi memberikan peneguhan bahwa Suara Allah yang adalah suara Roh Kudus dalam hati nurani, perlu mati dan selalu bisa dihidupkan kembali.
Uskup memberikan empat langkah konkret bagi umat untuk mempertajam kembali suara hati:
- Tekun dalam berdoa.
- Setia merayakan Ekaristi.
- Rajin membaca dan merenungkan Kitab Suci.
- Menjalankan Adorasi atau Devosi.
Sebagai penutup yang reflektif, Mgr. Mandagi mengutip beberapa tokoh dunia untuk menekankan pentingnya keheningan batin. Ia mengutip penyanyi George Michael yang mengatakan, “Kamu tidak akan pernah menemukan ketenangan batin sampai kamu mendengarkan hatimu,” serta filsuf Yunani Pythagoras yang mengingatkan, “Orang bodoh dikenal dari ucapannya, tetapi orang bijaksana dikenal dari diam dan kedalaman hatinya.”
Melalui perayaan Jumat Agung ini, umat Keuskupan Agung Merauke diajak untuk tidak takut kembali ke dalam keheningan, menyingkirkan kebisingan dunia, dan membiarkan Suara Allah kembali memandu setiap langkah kehidupan.
Pastor Roy Sugianto (Merauke)







