spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Paskah dan Laku Ugahari

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – “MENGAPA cinta setulus ini kau tinggalkan, sementara kau jeratkan dirimu pada cinta lain yang hanyalah impian? Mengapa kau buat cinta yang tulus itu bersedih, sedang kau disiksa oleh bayang cinta yang masih suram?” (Sindhunata, 2022: 373). Pertanyaan getir yang diungkapkan Sukrosono, sosok anti-hero dalam novel Anak Bajang Mengayun Bulan (2022) karya Sindhunata, mengantarkan saya bukan pada pikiran bagaimana lebih berkuasa, melainkan harapan bagaimana menjaga tetap manusiawi.

Dalam novel itu, Sindhunata sungguh mengisahkan persoalan ambisi manusiawi. Sebuah kisah yang berporos pada penggambaran sosok Sukrosono yang buruk rupa, kecil dan tampak lemah, yang selalu diremehkan oleh sosok Sumantri yang mengidealkan heroisme. Betapa menyedihkan membayangkan si Sumantri yang digerakkan oleh kehendak buta mencari gelar kepahlawanan, tetapi menolak berada di dekat Sukrosono, adiknya sendiri, yang memiliki wajah buruk rupa. Namun, Sukrosono, sang adik, bersikukuh untuk menyertai perjalanan kakaknya, hingga ia mati terbunuh oleh anak panah kakaknya sendiri.

Kemanusiaan yang Rapuh

Mengenai kesetiaan sampai mati, iman umat Kristen punya akar dalam figur Yesus. Rasul Paulus merefleksikan Yesus sebagai imam besar yang turut merasakan kelemahan-kelemahan manusia dan tidak mengambil kehormatan bagi dirinya sendiri, tetapi mempersembahkan hidup-Nya hingga menjadi sumber keselamatan (Bdk. Ibr 4:15; 5:7-9).

Bagi umat Kristen, momentum Paskah adalah perayaan tentang keselamatan bahwa Yesus telah bangkit dan hidup! Namun, Paskah tidak mungkin tanpa sesuatu yang lebih mendasar, yaitu kerelaan Yesus mengambil jalan salib.

Baca Juga:  Menggali Daya Imajinasi Melalui Latihan Koor

Jalan salib adalah kenyataan mengerikan yang padanannya saat ini adalah realitas ketidakadilan, kekerasan, dan hilangnya martabat manusia. Kita sungguh sedih menyaksikan di sekitar kita, tindak korupsi yang memiskinkan manusia, terorisme yang mendatangkan trauma, hingga perang yang merenggut nyawa sesama. Namun, dalam wajah dunia yang seperti itulah, Paskah tetap mengingatkan kita bahwa Yesus tidak pergi meninggalkan umat manusia, tetapi tetap berjalan dalam dunia.

Paus Fransiskus

Mendiang Paus Fransiskus, sosok yang mengesankan bagi banyak orang di seluruh dunia, pernah menekankan dalam Bulla Kepausan (spes non confundit) di tahun 2025 bahwa “pengharapan tidak mengecewakan” (Rom 5:5). Dari sini, pengharapan bukan dibaca sebagai penghindaran, tetapi tantangan yang akan memberdayakan kita. Kita melihat tantangan itu tidak lain adalah banyaknya kekerasan dan penghinaan, baik dalam keluarga maupun negara kita. Tetapi, bukan tidak mungkin untuk mencapai perdamaian itu semua.

Paus Leo XIV dalam pesan Prapaskah pertamanya yang dirilis pada 13 Februari di Vatikan mengajak kita lebih membangun kata-kata harapan dan damai daripada kata-kata yang melukai sesama. Dalam pesannya ini, melanjutkan Anjuran Apostolik Dilexi te (Oktober 2025), Paus mengajak kita menyadari bahwa “keadaan orang miskin adalah jeritan yang, dalam sejarah manusia, terus-menerus menggugah hidup kita, masyarakat kita, sistem politik dan ekonomi, dan—tidak kalah penting—juga Gereja.” Kita diajak tidak meninggalkan kerapuhan dunia yang masih sama, tetapi berupaya mencari jalan-jalan yang memberdayakan kita.

Baca Juga:  Uskup Victorius: Memiliki Terang Berarti Memiliki Kehidupan, Keselamatan, dan Masa Depan

Merajut Ugahari

Aristoteles, seorang filsuf Yunani Kuno (384 SM – 322 SM) mengatakan bahwa manusia arif bertindak mengejar kebaikan (Nicomachean Ethics buku I, 7). Namun, menjadi baik diperlukan habituasi berdeliberasi yang tepat dalam situasi konkret. Dalam rangka ini, sikap mawas diri sangat penting membantu manusia arif untuk menghitung dengan tepat  hal baik yang bisa diraih.

Paskah menjadi momentum untuk bertumbuh menjadi pribadi manusia yang arif. Seperti Yesus yang terlibat dalam situasi konkret manusia dan menebarkan harapan perdamaian yang mengatasi kekerasan dan penghinaan manusia, kita juga diajak menempuh cara-cara itu. Kita diajak untuk menimbang apakah keputusan pribadi, komunal, dan negara kita sudah dijiwai kearifan kata-kata dan tindakan.

Paus Leo XIV

Salah satu upaya menjadi pribadi-pribadi arif pada zaman ini adalah melakukan pertobatan ekologis. Seperti kata Ignatius Kardinal Suharyo dalam Surat Gembala Prapaskah 2026 lalu, pertobatan ekologis berarti memperbaiki relasi kita dengan alam. Menurutnya, relasi dengan lingkungan hidup tidak dipisahkan dari relasi kita dengan manusia lain. Ajaran sosial Gereja ini ingin melanjutkan pandangan Santo Fransiskus Asisi, bahwa setiap orang di Bumi memang terhubung satu sama lain dan memikul tanggung jawab universal merawat bumi sebagai warga dunia (Global Citizenship).

Dalam zaman yang ditandai oleh musim kekuasaan, Paskah Yesus justru mengingatkan tentang pentingnya keugaharian. Keugaharian bukan sekadar prinsip hidup tahu batas, tetapi selalu berkaitan dengan persoalan menundukkan nafsu manusiawi dan keinginan bahagia.

Baca Juga:  BUKAN MANAJER, BUKAN DONATUR

Laku ugahari bisa dimulai dengan memperbaiki relasi dengan orang-orang terdekat dan mewujudkan kedermawanan. Di tingkat pemerintahan, keugaharian dapat dimaknai lewat upaya mewujudkan tujuan negara berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 dengan jalan politik yang bersih serta komunikasi baik antara pemerintah dan warganya. Dalam kerja sama negara-negara di dunia, laku ugahari mungkin dicapai dengan perhatian lebih pada wilayah-wilayah vital kemanusiaan, seperti mementingkan infrastruktur pendidikan dan kesehatan daripada produksi fasilitas perang yang jelas memakan korban jiwa. Kita tidak ingin menambah orang tidak bersalah menjadi korban kekerasan.

Merasakan kematiannya akan tiba oleh karena perbuatan keras kakaknya sendiri, Sukrosono masih sempat bertanya kepada Sumantri, “kakakku, dulu kau pukuli aku dengan gandewa pemberian ayah itu. Benarkah sekarang engkau hendak menghabisi aku dengan anak panahnya?” Sukrosono mati, tetapi pada saat yang sama ia menumbuhkan benih kesadaran dalam diri Sumantri tentang kebablasannya, tentang cinta dan ambisi lain yang suram.

Akhirnya, kisah ini mengantarkan kita untuk ugahari dan percaya bahwa kasih (Sukrosono) itu membangkitkan ketika kekerasan (Sumantri) berujung kematian. Dua figur kakak-adik ini, Sumantri dan Sukrosono, adalah satu dalam diri kita. Paskah mengajak kita membuat kasih daripada kekerasan, baik dalam keluarga maupun negara.

Beda Holy Septianno, SJ
STF Driyarkara, Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles