HIDUPKATOLIK.COM – Perempuan merupakan sosok sentral yang memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan. Tanpa mengabaikan peran kaum pria, Perempuan adalah penjaga kebijaksanaan, motor perubahan, dan sumber inspirasi lintas generasi. Perempuan menjadi “rahim peradaban”, karena mereka tidak sekadar melahirkan buah hati, tetapi juga mendidik dan mengantar generasi muda berdasarkan nilai-nilai moral dan spiritual yang kokoh. Untuk itulah peran perjuangan Perempuan beserta sejarah perjuangan organisasi-organisasinya perlu kembali diangkat, dicatat, dan terus dikumandangkan agar diakui dan tidak terabaikan.
Bagaimana dengan organisasi Perempuan? Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) adalah organisasi federasi terbesar dan tertua di Indonesia. Dengan usianya menjelang satu abad ini, KOWANI telah menghimpun organisasi-organisasi hebat yang berkarya dalam berbagai bidang, merambah hingga ke akar rumput bahkan mendunia. Ada 3 organisasi pendiri yang hingga saat ini masih terus berjuang dan eksis yakni Wanita Taman Siswa yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta; Wanita Katolik didirikan pada 26 Juni 1924 di Yogyakarta oleh RA Maria Soelastri Darmosaputro Sosroningrat; serta, Aisyiyah yang didirikan Muhammadiyah 19 Mei 1917 oleh Nyai Ahmad Dahlan. Bertambahnya anggota dalam tubuh KOWANI, menunjukkan bahwa perempuan akan semakin kuat ketika Bersatu dan berkolaborasi.
Sejarah Perjuangan Perempuan
Pada 7 April 2026, KOWANI menyelenggarakan Webinar Nasional dalam rangka KOWANI Goes to UNESCO, Memories of the World. Webinar ini merupakan bagian dari serangkaian kegiatan sistimatis dan berkesinambungan dalam mengumpulkan dokumen, data, rekaman perjuangan Perempuan di Indonesia. Nannie Hadi Tjahjanto, Ketua Umum KOWANI dalam sambutannya menegaskan bahwa sebagai rumah besar Perempuan Indonesia, memasuki 100 tahun, KOWANI tidak lagi hanya berfungsi sebagai wadah koordinatif. Lembaga dengan 119 organisasi anggota, tampil sebagai Architect of Civilization; Engine of National Transformation; dan Global Cultural Diplomacy Platform. KOWANI memiliki tanggung jawab dalam menyiapkan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045, dan membangun fondasi abad kedua terhadap Peradaban Perempuan Indonesia. Terkait dengan Kowani Goes to UNESCO ini, Nannie Hadi Tjahjanto mengakui bahwa program tersebut adalah gerakan strategis nasional serta merupakan instrument diplomasi budaya Indonesia. Untuk itu akan dibentuk Program Management Office (PMO) Nasional yang meliputi antara lain bidang arisip dan dossier UNESCO, Komunikasi strategis, bidang diplomasi global dan bidang kemitraan.
Webinar Nasional ini menampilkan 4 narasumber yang diharapkan dapat memberi masukan terhadap perjuangan menuju UNESCO. Mereka adalah Mego Pinandito (Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia); Yosepha Sri Suari; Inayah Rohmaniyah (Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga); Amany Lubis (Guru Besar Program Studi Hukum Tata Negara UIN Syarif Hidayatulah Jakarta). Nursyahbani Katjasungkana, seorang ahli Hukum dan aktivis pejuang HAM perempuan, turut melengkapi substansi materi terkait dengan perjuangan Perempuan Indonesia dalam membangun peradaban bangsa dan dunia. Webinar yang dipandu oleh Mathilda AMW Birowo, Ketua Yayasan Sinergi Perempuan Indonesia (SPI), berfokus pada ketahanan nasional, pencatatan sejarah perjuangan perempuan, membangun peradaban yang inklusif, serta kolaborasi dalam meretas kekerasan terhadap Perempuan.
Warisan Dunia
Mego Pinandito dalam topik Sejarah Perjuangan Perempuan Indonesia sebagai memori pustaka bangsa menyatakan bahwa KOWANI memenuhi persyaratan dalam mengajukan catatan sejarah untuk diakui dunia. Tujuannya membangun basis data peninggalan dokumenter Indonesia sebagai bagian dari warisan dunia, mendorong upaya peningkatan akses universal, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap wasiat dokumenter yang awalnya hanya diketahui secara terbatas, guna menjadi pengetahuan masyarakat Indonesia dan dunia. Untuk itu, organisasi-organisasi anggota KOWANI sangat perlu mendukung upaya Goes to UNESCO dengan turut menyumbangkan data dan dokumen sejarah akurat yang dimiliki.

Yosepha Sri Suari membahas Peran Organisasi Perempuan dalam Meningkatkan Ketahanan Nasional. Alumni Program Pendidikan Regular (PPRA) Lemhannas RI ini menjelaskan antara Asa dan Realitas, wahana retrospektif dan kontemplatif. Ketahanan Nasional dibentuk melalui individu dalam hal ini keluarga sebagai basis dalam masyarakat, kemudian komunitas, melebar dalam organisasi, yang pada akhirnya berdampak untuk bangsa dan negara. Beberapa label yang diberikan kepada Perempuan menunjukkan betapa perempuan berperan penting mulai dari perempuan sebagai rahim penerus kehidupan, perempuan pembangun keluarga hingga perempuan sebagai tiang negara. Sehingga segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri, apakah saya sudah mengambil peran dan merealisasinya? Sebagai organisasi dan dalam organisasi sangat penting melakukan kolaborasi sebagaimana istilah lazim yang disebut Woman Support Woman. Untuk mewujudkan ketahanan individu, perlu dilakukan ketahanan keluarga yang berdampak pada membangun ketahanan komunitas. Lebih jauh lagi ketahanan organisasi akan memperkuat ketahanan nasional. Berkomtemplatif dan berrestrospektif adalah hal yang perlu dilakukan, namun terpenting lagi Adalah bagaimana membangun komitmen dan menyusun rencana aksi, lalu melakukan aksi nyata.
Detektor Dini
Inayah Rohmaniyah menyinggung Dialog Lintas Iman sebagai Peran Perempuan dalam Membangun Peradaban Inklusif. Penerima Australia Award bidang Interfaith Women Leaders ini mengemukakan tantangan eksternal dalam membangun inklusifitas. Tantangan dari luar diantaranya konservatisme digital yang menyangkut narasi popular di media seputar nikah muda sebagai solusi untuk tidak berzinah, atau poligami itu sunnah. Isu lain adalah pergeseran peran keluarga, politisasi agama, dan konservatisme masyarakat, seperti gerakan keulamaan perempuan dianggap agenda Barat, formalisasi syariah dan kekuatan patriarki. Sedangkan tantangan internal, mencakup hal dimana banyak perempuan merasa tidak layak disebut ulama/tokoh agama, atau pimpinan perempuan tidak didukung oleh perempuan. Disamping itu adanya fenomena Queen Bee yaitu perempuan yang memiliki kekuasaan atau menjadi pemimpin di lingkungan yang didominasi laki-laki, dinilai memberlakukan bawahan perempuan lebih buruk ketimbang bawahan laki-laki.

Inayah Rohmaniyah mengemukakan hal-hal pokok yang perlu dilakukan perempuan adalah ‘detektor dini’ (early warning system) terbaik di komunitas. Pertama, intervensi komunitas. Data dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) sering menyoroti bahwa perempuan yang berdaya secara ekonomi dan intelektual cenderung lebih mampu melindungi keluarganya dari infiltrasi paham ekstrem. Kedua, dialog berbasis aksi dimana perempuan cenderung melakukan dialog lintas iman melalui aksi nyata seperti bakti sosial bersama, koperasi lintas agama, daripada sekadar debat teologis-kultur.
Amany Lubis membawa topik Organisasi Perempuan Bergandeng Tangan Meretas Kekerasan dan Perdagangan Manusia. Ia menjelaskan bahwa kurangnya perlindungan terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negeri, dan masih dibutuhkan shelter-shelter untuk menampung mereka yang bermasalah. Masalah ini menurutnya dapat diatasi jika terjalin kerjasama yang baik, apakah itu masyarakat, ormas maupun pemerintah. Hal yang memprihatinkan menurutnya adalah banyaknya anak perempuan yang harus bekerja di luar rumah tanpa perlindungan. Perdagangan orang seringkali tak kita sadari, perbudakan dijaman modern dalam bentuk bekerja tetapi tak ada perlindungan. Mulai dari perekrutan, pengangkutan, eksploitasi dimana gaji tak dibayar. Tak sedikit yang disiksa secara fisik, paspor ditahan sehingga tak dapat melakukan apapun.

Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Periode (2019-2023) ini menyebutkan beberapa faktor penyebab perdagangan orang antara lain ketimpangan, kemiskinan, ketidaksetaraan gender. Peran KOWANI sangat besar karena secara bersama bersatu melakukan edukasi, sosialisasi terhadap masalah yang dihadapi, secara global kita berupaya untuk mengatasi permasalahan ini. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus dalam bentuk kampanye melawan kekerasan, agar anak-anak paham saat mereka mengalami kekerasan dan bersuara untuk keselamatannya. Organisasi perempuan seyogyanya melakukan pemberdayaan ekonomi perempuan untuk mengangkat martabatnya. Selain itu, adanya Gerakan bersama dalam bentuk hotline pengaduan, rumah aman, dan perlindungan hukum.
Kerja Kolektif
Nursyahbani Katjasungkana dari negeri Belanda menyampaikan materinya menyangkut perempuan dalam hubungannya dengan peradaban dunia. Selama berabad-abad, sejarah peradaban dunia sering ditulis dari sudut pandang yang sempit yakni maskulin, elitis, dan mengabaikan kerja-kerja kolektif yang dilakukan oleh perempuan. Padahal, jika kita jujur membaca sejarah, kaum Perempuan, baik secara individu maupun melalui organisasi, di desa maupun di kota, berpendidikan tinggi atau hanya belajar dari pengalaman di komunitasnya, telah menjadi fondasi penting dalam membangun nilai, merawat kehidupan, dan menjaga keberlanjutan lingkungan hidup dan masyarakatnya. Menengok sejarah bangsa, kita akan menemukan bahwa gerakan perempuan Indonesia memiliki akar yang sangat kuat. Salah satu tonggak penting dalam sejarah tersebut adalah Kongres Perempuan Indonesia Pertama pada tahun 1928 di Yogyakarta. Sebuah peristiwa bersejarah yang menandai lahirnya kesadaran kolektif perempuan Indonesia untuk bersatu, memperjuangkan hak pendidikan, hak sosial, dan martabat perempuan, bahkan panggilan untuk ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan, melenyapkan kolonialisme dari bumi Pertiwi dan bahkan dunia.

Dari perjuangan melawan kolonialisme dan feodalisme, hingga perjuangan atas hak pendidikan, hak kesehatan, hingga hak atas tubuh dan ruang hidup, organisasi perempuan selalu hadir di garis depan, bahkan ketika mereka tidak diakui. Peristiwa Kongres 1928 itu bukan hanya pertemuan organisasi perempuan, tetapi juga merupakan deklarasi keberanian serta awal dari gerakan nasional perempuan Indonesia. Dari kongres tersebut kemudian lahir sebuah kekuatan organisasi yang terus berkembang hingga hari ini, yaitu KOWANI. Selama hampir 100 tahun telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa baik dalam masa perjuangan kemerdekaan, pembangunan nasional, maupun dalam upaya memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan.

Mathilda AMW Birowo (Kontributor, Jakarta)







