spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Pentingnya Menggemakan Pedagogi Kecerdasan Etis di Era Digital Ini

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Setiap 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hardiknas adalah sebuah momen bagi bangsa ini untuk menghormati jasa Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional yang lahir pada 2 Mei 1889. Penetapan ini diatur dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959, pada tanggal 16 Desember 1959. Tujuannya bersifat luhur, yakni  mengenang perjuangan Ki Hajar Dewantara  bagi pengembangan pendidikan di republik ini di era kolonial.

Sebagaimana tercatat dalam berbagai literatur sejarah pendidikan, Ki Hajar Dewantara, nama lengkapnya Raden Mas Soewardi Soeryaningrat,  mendirikan satu sekolah di masanya bernama Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Pendirian lembaga pendidikan tersebut adalah upaya  untuk memberikan akses pendidikan bagi rakyat Indonesia di masa itu.

Ki Hajar Dewantara adalah seorang tokoh yang memiliki filosofi hidup yang mendasar. Filosofi hidupnya itu dituangkan dalam ungkapan yang terkenal, yakni  Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Maknanya bagi pendidikan cukup mendalam, dan menurut hemat penulis, dalam konteks pendidikan di Indonesia, ungkapan ini mengandung makna pedagogik yang bersifat kultural, namun sarat dengan makna etis.

Kecerdasan Etis

Jika digali secara cermat, filosofi Ki Hajar Dewantara demikian sesungguhnya bermuara pada satu pesan penting, yang menurut penulis menjadi inti hakiki dari pendidikan itu sendiri, yakni kecerdasan etis. Apa yang dimaksudkan dengan kecerdasan etis? Seperti dikatakan oleh Bruce Weinstein dalam Ethical Intelligence (2011), “ethical intelligence talks what the right thing to do, what should you do. It differs from emotional intelligence”.

Dalam ungkapan di atas, Bruce mau menjelaskan bahwa kecerdasan etis berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membedakan mana yang benar, dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta apa yang harus dilakukan karena itu adalah pantas, dan apa pula yang harus dihindari karena itu tidak layak dan tidak pantas.

Singkatnya, kecerdasan etis merupakan kesadaran orang secara maksimal untuk hidup di jalur dan jalan yang benar sesuai dengan koridor nilai-nilai mendasar sebagai manusia.

Baca Juga:  LITURGI KITA DAN BUDAYA BISING, TIDAK SEMUA HARUS DIUCAPKAN

Definisi dari Bruce Weinstein adalah hal yang sangat mendasar dalam pendidikan. Dan seperti penulis sudah sebutkan, kecerdasan etis merupakan inti dari pendidikan itu sendiri. Secara lain dapat dikatakan, pendidikan merupakan kesempatan bagi seseorang  untuk mengembangkan kecerdasan etisnya.

Bagi bangsa Yunani, pendidikan adalah wadah bagi pembentukan manusia untuk memiliki arete, yakni manusia-manusia yang bermutu unggul. Keunggulan dimaksudkan tidak saja pada kemampuan berpikir semata, tetapi menyentuh aspek kepribadian peserta didik secara menyeluruh. Karena itu humaniora dijadikan sebagai sasaran pendidikan bagi Yunani klasik.

Posisi dan peran role model

Hal yang menarik dari ungkapan Ki Hajar Dewantara adalah pentingnya role model, dan posisi role model itu sendiri. Ki Hajar Dewantara seorang role model memainkan tiga peran besar dengan posisi yang berbeda-beda, namun demikian beraras pada satu tujuan, yakni membentuk pribadi yang bermutu.

Tiga peran dan posisi yang dimaksudkan adalah di belakang, di tengah dan di depan. Role model di belakang menjadi pendorong atau penopang bagi mereka yang berada dalam proses formasi atau pembentukan diri. Asumsi yang mendasari posisi dan peran demikian adalah persis seperti dalam benak Socrates, yakni bahwa setiap orang perlu disadarkan bahwa dirinyalah yang menjadi subjek yang berperan besar. Namun ia perlu didukung oleh mereka yang sudah berpengalaman yang menjadi sandaran bagi mereka yang sedang berada dalam proses formasi kepribadian itu.

Role model di tengah menempati posisi sebagai rekan dan partner berjalan bersama, tidak merasa diri paling hebat, tetapi ia merasa yang lain bagian dari dirinya, demikian sebaliknya, ia juga merasa bagian dari peserta didik yang dalam masa formasinya sama-sama belajar. Meminjam metode pendidikan Socrates, di posisi tengah, role model hanyalah sebagai fasilitator, yang menggugah, membangkitkan, namun menjadi teman berjalan bersama. Socrates menyebut metode demikian dengan maieutika tekne atau teknik kebidanan.

Baca Juga:  Uskup Mandagi: Jadilah Pintu Damai, Bukan Perampok

Sedangkan di depan, role model memberi teladan. Ia memberi contoh terhadap mereka yang sedang berada dalam proses pembentukan diri. Tentu role model tidak menjadi segala-galanya, atau menggurui semata, tetapi melalui praktik hidup yang nyata. Meminjam Stephen R Covey, role model menghidupi satu sikap penting, yakni kongruen, sejalan antara perkataan dan perbuatannya. Ia menghidupi konsistensi. Kualitas pribadi ini bahkan menjadi contoh dan tiruan bagi seorang yang berada pada tahap formasi diri alias dalam pendidikan.

Ketiga posisi dengan peran yang berbeda sesungguhnya bermuara pada satu tujuan mulia, yakni menanamkan  dan menghidupkan kecerdasan etis, dalam proses pendidikan. Karena itulah Benjamin S Bloom sangat tepat menempatkan tiga aspek penting, yakni aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai bagian esensial  dalam pendidikan.

Reaktualitas taksonomi Bloom

Pengelolaan aspek kognitif mengisyaratkan perlunya pola berpikir yang terstruktur, dan pembentukan pola berpikir demikian terjadi melalui serapan pengetahuan dan pembentukan nalar. Pengetahuan memang penting karena pengetahuan itu dapat menjadi dasar untuk menilai dan mengadakan evaluasi terhadap sesuatu, lebih-lebih pengetahuan tentang apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang benar dan apa yang salah seperti diajarkan oleh Aristoteles.

Selain sebagai dasar untuk menilai, pengetahuan menjadi modal hidup bagi anak-anak. Orang Latin menyebutnya dengan semboyan, non scholae sed vitae discimus, artinya, orang belajar bukan untuk mendapatkan nilai (angka) semata, tetapi lebih-lebih untuk modal hidup di kemudian hari.

Menarik bahwa pendidikan tidak saja pengelolaan pikiran, tetapi juga pengelolaan hati dan batin peserta didik. Benjamin menyasar aspek afektif ini karena ia sadar bahwa manusia punya hati dan emosi, yang justru sangat penting dalam pembentukan kepribadian peserta didik. Afektivitas bagi manusia adalah soal pengelolaan emosi dan rasa kemanusiaannya. Bagi Bloom, manusia tidak saja memiliki pikiran, tetapi juga hati, yang juga tidak kalah pentingnya perlu mendapat perhatian dalam pendidikan. Perhatian pada dimensi afektif mengisyaratkan bahwa bukan hanya isi otak perlu dibentuk, tetapi juga kualitas hati perlu dibangun secara baik.

Baca Juga:  Episkopat dalam Misteri Gereja: Tinjauan Teologis, Kanonik, dan Pastoral atas Suksesi Apostolik serta Dinamika Pemilihan Uskup

Dimensi terakhir, yakni dimensi psikomotorik, menyasar sesuatu yang hidup dan dinamis. Perlu ada gerakan-gerakan konkret yang menjadi titik implementasi apa yang diketahui dan apa yang dimaknai secara kuat dalam batin dan kehendaknya. Ini persis sejalan dengan “tut wuri handayani”, di depan menjadi teladan.

Narasi di atas sangat jelas mau menyatakan bahwa pendidikan sesungguhnya membentuk seseorang menjadi manusia bermutu. Dan hal yang paling mendasar dalam mutu manusia ialah bahwa seorang yang terdidik memiliki kecerdasan etis dan menghidupi kecerdasan etis itu dalam kehidupan keseharian. Kecerdasan etis itu kokoh karena berbasis pada tiga pilar pribadi manusia yang mumpuni, yakni daya nalar yang baik, hidup batin yang terjamin, dan praksis hidup keseharian sebagai implementasi pengetahuan dan pembiasaan sikap etis.

Di tengah perkembangan teknologi digital dewasa ini, nampaknya pesan Ki Hajar Dewantara semakin relevan,  diperkuat dengan taksonomi Benjamin S Bloom dengan memberikan porsi seimbang di antara ketiganya. Seyogianya sasaran utama pendidikan ada pada formasi dan kebangkitan kecerdasan etis demikian.

Karena itu menumbuhkan kepekaan terhadap situasi orang lain, kemampuan mengelola diri dengan berbekal pengetahuan yang memadai, serta bertindak elegan dengan menempatkan nilai-nilai kemanusiaan di urutan pertama semakin mendesak mendapat perhatian dalam dunia pendidikan. Paulo Freire dalam Pedagogy of Freedom: Ethics, Democracy and Civic Courage ( 2025), bahkan mengingatkan kita bersama bahwa apatisme kita atas kecerdasan etis membuat dunia pendidikan tidak berarti apa-apa bagi manusia.

Realitas demikian telah menghilang dari dunia dewasa ini. Ini menjadi tantangan yang berat dalam pendidikan. Komitmen semua pihak  untuk menggemakan pedagogi kecerdasan etis menjadi modal dasar yang diperlukan. Semoga.

Kasdin Sihotang, Dosen Filsafat Moral di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta/Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles