spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

NAPAK TILAS PERAN PROFETIS ISKA MENGHADAPI TANTANGAN JAMAN

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Pada tanggal 11 – 14 September 2026, Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (PP ISKA) akan menyelenggarakan Musyawarah Nasional (MUNAS ke- XVII) di Balikpapan Kalimantan Timur.  Kegiatan ini akan diikuti selain Pengurus (Presidium) Pusat juga delegasi dari Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang di seluruh Indonesia.  Baik Panitia Pengarah maupun Panitia Pelaksana telah dan sedang bekerja keras dan cerdas mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan penyelenggaraan kegiatan penting ini.  Beberapa narasumber ahli baik dari kalangan hirarki, akademisi maupun birokrasi hendak hadir untuk turut berpartisipasi memberikan aneka masukan yang diharapkan obyektif, konstruktif untuk arah perjalanan bangsa dan negara di masa-masa yang akan datang.

Sebagai bagian kecil dari perhelatan besar ini, saya dan mungkin banyak kalangan terutama internal cendikia Katolik tentu berharap ISKA bukanlah sekedar organisasi kemasyarakatan Katolik yang hanya memiliki nama besar, memiliki jaringan yang luas dan strategis baik skala regional, nasional bahkan international.  ISKA yang diisi oleh para cendikia Katolik harus membuktikan dirinya untuk sungguh-sungguh dapat memberikan konstribusi yang maksimal bagi arah perjalanan bangsa dan negara.   Bila Pemerintah telah menjalankan kebijakan secara baik bagi kemaslahatan bersama ISKA tentu turut bersyukur dan berterima kasih memberikan apresiasi secara proporsional. Sebaliknya ketika terdapat kebijakan negara atau pemerintahan yang mungkin belum baik atau belum optimal dirasakan masyarakat yang mendambakan,  ISKA semestinya secara cepat dan tepat berbasis data memberikan respon keberpihakannya pada masyarakat.  Inilah salah satu bentuk nyata peran profetis (kenabian) di tengah tantangan jaman yang semakin rumit dan tidak mudah untuk mengurainya. Bonnum Commune bukanlah sekedar kata-kata indah penghias bahan kampanye atau pidato untuk capaian kedudukan/kekuasaan di organisasi, tetapi sebuah ajakan yang sangat dalam untuk mewujudkannya.

Tak dapat dipungkiri telah banyak kegiatan yang dilaksanakan oleh jajaran kepengurusan di semua tingkatan, baik yang sekedar ceremonial (upacara) saat Dies Natalis, Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS), Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS), solidaritas sosial bagi korban bencana, ziarah rohani, kelompok diskusi membahas aneka isu aktual sosial kemasyarakatan,  penulisan buku-buku ilmiah populer yang relevan dengan karya nyata dari beberapa Pengurus ISKA, pendampingan bagi kaum muda/mahasiswa Katolik untuk masalah kebangsaan, menghadiri forum International of Catholic Movement for Intelectual and Cultural Affair (ICMICA) anggota PAX ROMANA, menjadi narasumber di beberapa forum serta beberapa pernyataan, memoramdum kemasyarakatan terkait masalah ekonomi, ketahanan pangan, ketahanan energi, kejahatan lingkungan, korupsi, kepastian dan penegakan hukum, moralitas politik, kualitas demokrasi, intoleransi beragama yang masih terjadi dan lain sebagainya.

Kegiatan yang baik tersebut harus tetap dijalankan sembari secara simultan terus meningkatkan kualitas sumber daya baik bagi para pengurusnya maupun anggotanya.   Perbedaan pandangan dan mungkin juga pilihan politik tak terbantahkan bisa saja terjadi, tetapi perbedaan itu adalah keniscayaan yang akan semakin indah bila ditanggapi secara bijaksana.  Pelangi itu indah karena ada  perbedaan warna, ia tampil saat cuaca pasca hujan atau masih mendung, atau rintik-rintik dikala menjelang senja.  Pun demikian dengan ‘cuaca’ sosial politik, ekonomi yang akhir-akhir ini tidak selalu cerah, perbedaan pandangan adalah hal yang biasa sejauh dapat memberikan solusi terbaiknya.  Dimanapun tempat para pengurus atau anggota ISKA  di lintas institusi baik sebagai aparatur negara, perusahaan swasta ataupun sebagai pelaku usaha (UMKM), ia dapat berkonstribusi yang terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara. Terus menjalankan solidaritas sosial tanpa sekat di manapun berada. Dengan kematangan spiritualitas, intelektualitas dan pengalamannya mereka semestinya juga dapat memberikan warna perubahan sosial yang lebih baik.

Barangkali adagium ” Fortiter in re, suaviter in modo,  (keras dalam prinsip-prinsip dasar, elegan dalam cara) sangat relevan menjadi salah satu cara bagi para pengurus ISKA dan anggota di semua tingkatan untuk berkarya secara nyata menuju pada tujuan keberadaan ISKA. Kehadiran ISKA bertujuan mengoptimalkan peran Sarjana/Cendekia Katolik meningkatkan iman dan ilmu pengetahuannya, secara berkesinambungan, demi kebaikan sesama manusia dalam pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa, Negara dan Gereja.

 

Tak dapat dipungkiri pula masih terdapat kritik dan saran bagi ISKA, hendaknya kitapun mau membuka diri dan berpikir positif untuk hal tersebut.  Menuju ke arah yang lebih baik, lebih optimis, lebih peduli, lebih cepat merespon masalah sosial kemasyarakatan, lebih akomodatif terhadap perbedaan pandangan dan lain sebagainya.  Maka disinilah salah satu tantangan mempraktekkan kepemimpinan di organisasi ISKA.

Pemimpin dalam konteks ISKA tentu tidaklah sekedar figur personal dengan deretan gelar yang disandangnya atau mungkin jabatan, pencapaian atau posisi strategis diberbagai organisasi profesi diluar ISKA.

Organisasi ISKA di tingkat nasional membutuhkan pemimpin yang sungguh-sungguh terpanggil, menyediakan waktu secara proporsional, mau mendengarkan pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal organisasi.  Pemimpin yang rendah hati, mau melayani dan rela berkorban untuk tujuan organisasi.Servant leadership adalah tantangan kepemimpinan untuk menjalankan roda organisasi ISKA secara nasional 4 (empat) tahun kedepan.

Napak tilas kepemimpinan ISKA di masa-masa awal pendirian ISKA sejak 22 Mei 1958 perlu juga kembali kita refleksikan bersama, kita pelajari kembali,  kita hayati dan laksanakan sesuai dengan tantangan jaman saat ini.  Hal-hal yang baik perlu terus dijalankan, hal-hal yang kurang baik harus dikoreksi, dibenahi dengan semangat retret dan perutusan. Sinergi/kolaborasi lintas bidang serta menggalang dukungan para pemangku kepentingan secara berintegritas perlu pula dijajagi dan dijalankan penuh dedikasi dan loyalitas.   Di masa lalu sekitar tahun 1990 an sangat terkenal istilah     ‘2 M dan 2 D’ (Mandiri, Missioner, Daya Pikat dan Daya Tahan) nampaknya masih relevan pula untuk kita refleksikan dan jalankan sesuai dengan talenta atau  kompetensi kita masing-masing.

Semoga penyelenggaraan Musyawarah Nasional (MUNAS) ISKA semakin mempererat semangat pesaudaraan, memicu dan memacu semangat pelayanan lintas sekat, perutusan tugas mulia tak sebatas memproduksi aneka narasi, namun menghadirkan pembaharuan dengan aksi nyata yang elegan untuk kemanusiaan, kesetaraan dan kemaslahatan bersama berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.  Vox clamantis in deserto, semoga bukan bagaikan teriakan di padang pasir !!!

Wahyu Handoko

Penulis mantan Ketua ISKA Jakarta tahun 2000 – 2003 dan Wakil Sekjend. PP ISKA tahun 2022 – 2026.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles