HIDUPKATOLIK.COM – Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional IV Tahun 2027 di Manado, Sulawesi Utara, mulai memasuki tahap persiapan resmi. Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan kepanitiaan penyelenggara melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1179 Tahun 2026.
Penyerahan keputusan tersebut berlangsung dalam rapat persiapan Pesparani IV di Gedung Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, yang dipimpin Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik A.M. Adiyarto Sumardjono.
Momentum ini menjadi awal bagi panitia dan seluruh pihak yang terlibat untuk mematangkan penyelenggaraan Pesparani yang akan mempertemukan umat Katolik dari berbagai daerah di Indonesia.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur Sulawesi Utara Victor Mailangkay, Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) RD Nikasius Jatmiko, Ketua Umum Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) Muliawan Margadana, serta sejumlah pejabat Kementerian Agama dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Pesparani sejak awal tidak hanya ditempatkan sebagai ajang perlombaan seni suara. Di dalamnya terdapat dimensi iman, budaya, persaudaraan, dan kebangsaan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengarahkan agar Pesparani 2027 menjadi lebih dari sekadar perhelatan seni dan kemeriahan. Kegiatan ini diharapkan menjadi perayaan iman yang mampu memperkuat spiritualitas umat, persaudaraan, toleransi, dan semangat hidup dalam keberagaman.
Dengan demikian, panggung Pesparani bukan hanya menjadi tempat umat Katolik menunjukkan kemampuan bernyanyi, tetapi juga ruang untuk merawat perjumpaan dan persaudaraan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Sekretaris Eksekutif KWI RD Nikasius Jatmiko mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap berbagai kegiatan Gereja Katolik, termasuk penyelenggaraan Pesparani 2027.
“Gereja Katolik Indonesia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas dukungan yang diberikan. Juli lalu, Gereja mendapat dukungan pada saat kegiatan FABC. Gereja Katolik tentu sangat bergembira. Semoga dukungan ini menjadi hal yang baik bagi Gereja untuk terus mengambil bagian dalam membangun bangsa dan negara,” ujar RD Nikasius.

Ketua Umum LP3KN Muliawan Margadana melihat Pesparani memiliki setidaknya tiga makna penting bagi umat Katolik Indonesia.
Pertama, Pesparani menjadi ruang pembinaan iman umat. Kedua, kegiatan ini menjadi sarana mengangkat kekayaan sosial dan budaya Indonesia dalam konteks liturgi. Ketiga, Pesparani menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan kebersamaan.
Kekayaan budaya Nusantara menjadi salah satu kekuatan Pesparani. Berbagai daerah dapat membawa kekhasan budaya masing-masing ke dalam ekspresi musik dan perayaan iman.
“Pesparani ini bukan hanya soal menyanyi. Ada pembinaan iman, ada kekayaan budaya, dan ada persaudaraan,” kata Muliawan.
Semangat tersebut juga terlihat dalam proses kepanitiaan. Penyelenggaraan Pesparani melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang agama berbeda.
Pesparani IV direncanakan melibatkan peserta dari 38 provinsi dengan perkiraan sekitar 10 ribu orang. Seluruh uskup di Indonesia juga diharapkan terlibat dalam perhelatan tersebut.
Dipilihnya Manado sebagai tuan rumah membuat Pesparani IV sekaligus menjadi kesempatan untuk mempertemukan umat Katolik dari berbagai wilayah dengan masyarakat Sulawesi Utara.
Selain dimensi keagamaan, kegiatan berskala nasional ini diharapkan memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Kehadiran ribuan peserta dan pendamping akan membuka ruang interaksi antara komunitas umat, pelaku usaha, masyarakat, dan berbagai unsur daerah.
Di sisi lain, Pesparani juga menjadi ruang pengembangan talenta musik dan paduan suara umat Katolik Indonesia. Potensi tersebut diharapkan tidak berhenti pada perhelatan nasional, tetapi dapat terus dikembangkan hingga ke tingkat yang lebih luas, termasuk panggung internasional.
Penetapan kepanitiaan melalui KMA Nomor 1179 Tahun 2026 kini menjadi pijakan bagi seluruh unsur penyelenggara untuk bergerak menuju Pesparani IV.
Di Manado pada 2027 nanti, ribuan umat Katolik dari berbagai penjuru Indonesia tidak hanya akan membawa suara dan talenta mereka. Mereka juga membawa kekayaan budaya daerah, pengalaman iman, dan semangat untuk berjumpa sebagai bagian dari satu Gereja dan satu bangsa.
Pesparani IV diharapkan menjadi perayaan yang mempertemukan iman, budaya, dan persaudaraan, sekaligus menunjukkan kontribusi umat Katolik dalam merawat kebersamaan di tengah keberagaman Indonesia.






