spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC: Menjadi Pribadi Gaudete

Rate this post

Minggu, 14 Desember 2025 Hari Minggu Adven III. Yes.35:1-6a, 10; Mzm.146:7,8-9a,9bc-10; Yak.5:7-10; Mat.11:2-11

SETIAP orang pernah mendapat undangan untuk menjadi tamu di suatu acara atau pernah kedatangan tamu baik yang diundang ataupun yang tak diundang. Pada umumnya orang bersukacita karena diundang menjadi tamu atau karena kedatangan tamu. Akan tetapi, tak jarang ada undangan yang membuat kita gelisah atau ada tamu yang membuat hati kita susah. Kalau yang datang adalah orang yang dinantikan, hati kita akan berbunga-bunga. Jika ternyata yang hadir itu adalah orang yang tidak diharapkan, jantung kitapun berdebar-debar karena takut. Maka, bagaimana perasaan kita menjadi atau menerima tamu tergantung siapa yang mengundang dan siapa yang datang?

Antifon pembukaan misa Minggu Adven III adalah “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat” (Flp. 4: 4-5) Minggu Adven ke-3 ini disebut Minggu Gaudete, yaitu Minggu sukacita karena yang datang adalah yang diharapkan, yaitu Tuhan yang membawa sukacita. Pada hari ini kita pantas bersukacita karena kelahiran Yesus sudah makin dekat; rahmat keselamatan sudah ada di antara kita. Sukacita itu juga digambarkan dengan kasula berwarsa rose (pink), yaitu campuran antara warna tobat insani (ungu) dan warna kemuliaan ilahi (putih).

Baca Juga:  Ribuan Umat Hadiri Misa Syukur Tahbisan Imam Baru, Pastor Lorensius Novensus

Bacaan I mengajak kita untuk bersukacita sebab Allah sendiri datang menyelamatkan. Yesaya memaparkan suasana Gaudete, yaitu sukacita tak terhingga: “Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita.” (Yes. 35: 1-2).

Ada kehidupan yang indah dan suasana semarak karena orang melihat kemuliaan Allah. Yesaya mau membangun harapan dalam diri umat yang baru pulang dari penderitaan (pembuangan) untuk menyongsong zaman baru yang ditandai oleh keselamatan. Hal ini terbukti melalui berbagai penyembuhan ajaib. “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara….” (Yes. 35 5-6) Warta ini bukanlah cara untuk menina-bobokan umat, melainkan untuk membangun harapan umat dalam mengatasi penderitaan dengan cara memberi tempat pada Tuhan untuk menyelamatkan.

Baca Juga:  Estafet Perjuangan PMKRI Denpasar: Menuju Organisasi yang Adaptif, Kritis, dan Reflektif di Tengah Tantangan Zaman

Melalui murid-muridNya, Yohanes bertanya apa harapan dan impian Yohanes tentang Yesus sebagai Mesias, Juruselamat sebagaimana dijanjikan Kitab Perjanjian Lama tercapai? Yesus tidak menjawab bahwa Ia adalah Mesias atau bukan, tetapi menegaskan bahwa diriNya adalah Pribadi Gaudete di mana buah dari kehadiran-Nya membawa sukacita seperti yang telah disampaikan Yesaya, di mana “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Mat. 11: 5-6).

Bagaimana dengan kehadiran kita? Apakah kedatangan kita dinantikan keluarga atau komunitas kita; umat dan masyarakat? Hal ini tergantung sejauh mana kita memberi efek positif, yaitu membawa harapan dan sukacita pada mereka yang kita datangi; tergantung juga sedekat apa kita dengan Tuhan sumber sukacita.

Baca Juga:  Paus Leo: Jika Seseorang Mengkritik Saya karena Mewartakan Injil, Biarlah Ia Melakukannya dengan Jujur

Semoga kita mampu menghadirkan Yesus yang murah hati dan penuh belaskasih, yang membawa sukacita bagi semua orang. Bukankah, perjumpaan kita dengan Kristus membawa sukacita injil? (lihat Evangelii Gaudium 1) Dengan begitu, orang yang berjumpa dengan kita akan mengalami “gaudete“. Paulus menasihati kita bahwa jika kita mau bersukacita, kita harus sadar dan sabar mengikuti proses yang baik dan benar seperti dikehendaki Tuhan, bukan mengambil jalan pintas, hingga apa yang kita harapkan dapat tercapai bagai petani yang sadar dan sabar menantikan panen.

Semoga perjumpaan kita dengan Yesus membuat kita menjadi pribadi ‘gaudete’, yaitu orang yang memberi harapan dan membawa sukacita.  

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.50, Minggu, 14 Desember 2025

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles