HIDUPKATOLIK.COM – Aula Lantai 4 Grha Pemuda Kompleks Katedral Jakarta sesaat berubah menjadi hening. Semua mata tertuju ke atas panggung yang berhiaskan bendera Merah-Putih di sisi kanan dan kiri. Di sana, Sang Gembala Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Kardinal Ignatius Suharyo, tengah menceritakan sebuah kisah penuh makna tentang merawat bumi, rumah bersama semua insan dari berbagai latar belakang agama.
Tema tersebut tak lepas dari Arah Dasar (Ardas) KAJ tahun ini, yakni Keutuhan Alam Ciptaan. KAJ sendiri telah mendalami lima pokok Ajaran Sosial Gereja sejak tahun 2022. Sejak saat itu, setiap tahun, umat Katolik di keuskupan ini mendalami tema-tema berbeda. Pertama, Penghormatan Martabat Manusia (2022). Kedua, Kesejahteraan Bersama (2023). Ketiga, Solidaritas-Subsidiaritas (2024). Keempat, Kepedulian Lebih pada yang Lemah dan Miskin (2025). Kelima, Keutuhan Alam Ciptaan (2026).
Isu itu pula yang diangkat oleh Komisi Hubungan Antar-Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) KAJ untuk sebuah program reguler bertajuk “Dialog Ramadan”. Kardinal Suharyo adalah salah satu narasumber untuk kegiatan bertema “Peran Strategis Tokoh Agama Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan” yang digelar pada Selasa, 3 Maret 2026, ini.
Narasumber lainnya adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Timur, Didi Supandi.
Turut hadir pada pertemuan yang dihadiri oleh lebih dari 200 tokoh agama dan aliran kepercayaan serta perwakilan dari berbagai Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), majelis agama, dan paroki adalah Menteri Agama, Nasaruddin Umar.
“Saya hanya mau menceritakan kisah ini karena saya yakin yang namanya kisah itu juga warisan keutamaan,” ujar Kardinal Suharyo.
Dalam kisah tersebut, ada satu pohon yang sangat besar dan rindang. Pohon ini menjadi pelindung bagi berbagai macam jenis burung, termasuk nuri. Mereka merasa sangat nyaman bersarang di pohon ini. Terik matahari dan curah hujan bahkan tak mampu menembus celah dedauan nan hijau.
Sayang, kenyamanan ini tak berlangsung lama. Suatu hari seorang pemburu yang tengah mengejar seekor kijang merusak pohon itu.
“Dikejar tidak tertangkap. Sampai akhirnya kijang itu lelah, dan kijang yang lelah itu terduduk di bawah pohon yang rindang itu. Pemburu itu berpikir, ‘Sekarang tiba waktunya. Pasti kijang itu akan kena anak panah saya.’ Busur ditarik, anak panah dilepaskan. Yakin bahwa kijang itu akan kena. Ternyata, kijang itu melompat ke samping. Tidak kena. Yang kena adalah pohonnya. Padahal anak panah itu beracun,” imbuh Kardinal Suharyo.
Pohon itu pun perlahan-lahan layu. Daun-daunnya menguning. Dahan-dahannya mengering. Aneka macam burung yang berlindung di balik kerimbunannya satu per satu mulai meninggalkannya. Hanya tersisa satu burung nuri. Ia tak mau pergi.
“Lewatlah seorang pengembara. Pengembara itu melihat ke atas dan bertanya kepada burung nuri itu: ‘Burung nuri, kenapa kamu tidak seperti teman-temanmu, pergi mencari tempat yang nyaman, tidak tinggal di atas pohon yang kering seperti ini?’ Burung nuri itu menjawab begini: ‘Bapa, bagaimana mungkin saya pergi dari tempat seperti ini? Kakek-nenek saya tinggal di sini, orang tua saya lahir di sini, cucu-cucunya lahir di sini. Bagaimana mungkin saya pergi dari tempat ini? Saya akan tinggal di sini sampai kapan pun,’” ujar Kardinal Suharyo.
Jawaban burung nuri membuat si pengembara terkagum-kagum. Ia meminta burung nuri untuk menyampaikan satu permintaan. Ia bahkan berjanji akan mengabulkan permintaannya.
Hanya ada satu keinginan. Burung nuri ingin pohon itu tumbuh kembali dan menjadi rindang seperti semula. Permintaan ini pun dikabulkan oleh si pengembara, yang ternyata adalah seorang mahadewa.
Akhirnya satu per satu aneka macam burung kembali ke pohon itu.
“Silakan menarik kesimpulan sendiri-sendiri. Itulah tugas utama para pemuka agama untuk menjadi nuri-nuri,” ungkap Kardinal Suharyo.
Ekologi Integral
Terkait penyelamatan lingkungan, Kardinal Suharyo juga menegaskan soal ekologi integral.
“Kalau kita bicara tentang kerusakan, tentang luka, yang terluka bukan hanya alam. Kemanusiaan ikut terluka. … Paus Fransiskus bicara mengenai ekologi integral. Artinya apa? Kalau kita hanya berpusat pada alam yang harus kita rawat, dan manusia-manusia yang mendiami bumi ini tidak terawat, atau terluka, bagaimana mungkin manusia terluka bisa merawat alam? Manusia itu kan bukan makhluk yang abstrak, tetapi manusia itu yang menyelenggarakan ekologi, misalnya,” ujarnya.
“Maka pertanyaannya, salah satu dari yang dijelaskan oleh Paus Fransiskus, ekologi integral itu antara lain ada di dalam ekologi. Sekarang ekologi kita apa? Kapitalis, persaingan bebas. Kalau persaingan bebas, pasti yang kuat akan menang, yang lemah pasti akan kalah. Kalau ekologi seperti ini, orang tidak akan bisa hidup sederhana.”
Dengan demikian, ungkapnya, upaya untuk memelihara bumi harus memperhatikan berbagai macam ekologi.
“Ekologi kebudayaan. Apakah kebudayaan kita – saya dari Yogyakarta – orang Jawa, yang terumus dalam Bahasa Jawa itu ekologi yang bagus? Dalam Bahasa Jawa ada tiga lapis bahasa: krama inggil, krama madya, ngoko. Saya ambil contoh, dalam Bahasa Jawa, kata Anda ada tiga kata. Untuk yang tinggi disebut panjenengan, ada empat suku kata. Artinya penguasa. Tingkat tengah, sampeyan, tiga suku kata. Artinya, kaki. Untuk bawah, kowe, dua suka kata. Artinya anak kera,” imbuhnya.
Maka, sekali lagi, Kardinal Suharyo mengajak para pemuka agama dan semua umat beragama untuk menjadi seperti burung nuri yang sungguh-sungguh memiliki rasa setia kawan dengan bumi dan sesama karena, dengan demikian, mereka sedikit banyak mewujudkan apa yang disebut dengan ekologi integral.
Pesan Kuat
Selain menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dalam program baru-baru ini tersebut, peserta juga menyanyikan Mars Ardas KAJ 2026 berjudul “Keutuhan Alam Ciptaan”. Bait terakhir lagu ini berbunyi: “Satukan tekad dan semangat, bangun pertobatan ekologis menjadi pembawa berkat bagi Indonesia pertiwi”.
Bahkan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menemukan inspirasi dalam lagu tersebut.
“Saya memberikan dukungan dan apresiasi terhadap Mars Ardas KAJ. Mudah-mudahan bisa menjadi lagu wajib kami di Kementerian Agama. Kalau kita menyimak lagu ini sangat bagus. Jadi menarik, ada pertobatan ekologis,” ujarnya.
Ia juga berharap program reguler yang digagas oleh Komisi HAAK KAJ tersebut dapat disebarluaskan oleh media supaya pesannya dapat tersampaikan dengan baik.
“Pesannya sangat kuat karena tidak ada yang bisa melestarikan lingkungan ini seefektif bahasa agama. Ini pesan Paus di Vatikan. Bahasa agama paling efektif untuk menyelamatkan lingkungan. Bukan bahasa pemerintah, bukan bahasa budaya, bukan bahasa yang lain. Yang punya bahasa yang paling berwibawa adalah bahasa agama karena agama memperkenalkan. Saya kira semua agama meyakini bahwa alam ini amanah bagi semua,” imbuhnya.
Harapan yang sama disampaikan oleh Ketua Komisi HAAK KAJ, Pastor Antonius Suyadi.
“Mudah-mudahan apa yang disampaikan para narasumber bisa dibawa untuk dikembangkan di tempat masing-masing sehingga bersama-sama bisa memberikan inspirasi bagaimana melestarikan keutuhan alam ciptaan dan nilai-nilai yang diperjuangkan. Tidak bisa hanya umat Katolik saja. Namun umat Katolik mudah-mudahan menjadi pendorong bagi masyarakat untuk dapat mengembangkan atau menyebarluaskan pelestarian alam,” ujarnya.
Menurut Pastor Suyadi, Komisi HAAK KAJ telah menyelenggarakan program Dialog Ramadan sejak tahun 2016.
“Tujuannya untuk mempererat persaudaraan dalam kehidupan bersama ini dan tentunya juga memaknai momen-momen keagamaan sebagai sarana untuk membangun hidup yang lebih baik lagi antara satu dan lain dan nilai-nilai yang ada di dalamnya untuk kehidupan bersama ini,” imbuhnya.
Katharina Reny Lestari









