HIDUPKATOLIK.COM – Seperti dilansir LifeSiteNews, Kota Erbil di Irak telah menjadi sasaran lebih dari 100 drone dan rudal sejak awal konflik dengan Iran pada 28 Februari, dengan Iran dan milisi Irak sekutunya mengklaim bertanggung jawab atas banyak serangan tersebut.
Keuskupan Agung Katolik Kaldea Erbil di Irak mengalami serangan pesawat tak berawak di kompleks apartemen tempat beberapa keluarga Kristen tinggal.
Pada tanggal 4 Maret pukul 20.00 waktu setempat, serangan pesawat tak berawak merusak bangunan di Ankawa, pinggiran Kota Erbil di Irak, kata keuskupan agung tersebut.
Tidak ada korban jiwa atau luka-luka dalam serangan itu. “Untungnya, bangunan tersebut sebagian besar telah dievakuasi beberapa hari sebelumnya karena kedekatannya dengan Bandara Internasional Erbil,” kata otoritas Keuskupan dalam sebuah pernyataan. Bangunan itu adalah tempat tinggal para pekerja Keuskupan dan keluarga-keluarga Kristen muda yang mengungsi akibat serangan sebelumnya di wilayah tersebut.
Bangunan itu didanai oleh Knights of Columbus sebagai pusat bagi pengungsi Kristen yang mengungsi selama perang dari tahun 2014 hingga 2018. Sebuah biara terdekat dari Kongregasi Putri Maria Imakulata dari Kaldea juga rusak akibat serangan tersebut.
“Kita sekarang berada di masa di mana kita sekali lagi berdoa untuk solidaritas dan dukungan dari saudara-saudari kita di seluruh dunia, agar masa-masa kekerasan dan perang ini segera berakhir, dan agar orang-orang yang menderita di antara kita masih memiliki kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan yang damai dan bermartabat,” kata Uskup Agung Erbil, Mgr. Bashar Warda dalam sebuah pernyataan.
Keuskupan menyerukan kepada umat Kristen di seluruh dunia “mengingat dan mendoakan banyak orang yang terpinggirkan di Irak, termasuk minoritas Kristen yang kecil dan masih terancam yang berjuang untuk tetap tinggal di tanah air mereka.”
Erbil diguncang oleh beberapa ledakan dahsyat pada Rabu malam setelah sistem pertahanan udara mencegat sejumlah drone di atas kota, menyebabkan puing-puing berjatuhan di daerah pemukiman, dan melukai setidaknya satu orang, menurut media berita Kurdi setempat, 964 media.
Organisasi militan Islam pro-Iran Irak, Saraya Awliya al-Dam (Penjaga Darah), mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kelompok itu mengatakan telah meluncurkan “sejumlah drone” yang menargetkan “pangkalan pendudukan Amerika di bandara Erbil” dan menambahkan bahwa operasi tersebut dilakukan “untuk memenuhi kewajiban agama kami dan sebagai pembalasan atas darah pemimpin yang gugur, Ali al-Husseini Khamenei, dan sebagai tanggapan atas agresi yang menyebabkan gugurnya tiga pejuang perlawanan muda Irak.”
Erbil telah menjadi sasaran lebih dari 100 drone dan rudal sejak dimulainya perang Iran pada 28 Februari, dengan Iran dan milisi Irak sekutunya mengklaim bertanggung jawab atas banyak serangan tersebut. (LifeSiteNews/fhs)










