spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

IN MEMORIAM JŰRGEN HABERMAS (1929-2026)

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM TANGGAL 14 Maret 2026 filsuf Jerman, Jürgen Habermas (2029-2026) telah meninggal dunia dalam usia 97 tahun di rumah kediamannya di Starnberg, Jerman. Jagad filsafat kontemporer mengenal Habermas sebagai pemikir dengan kajian filosofis yang memiliki spektrum luas, termasuk bidang politik dan agama. Tidak ada keraguan bahwa Habermas  termasuk pemikir paling berpengaruh pada zaman kontemporer ini.

Tetapi bukan tentang pemikirannya yang sudah amat sering dibahas oleh banyak orang lagi dan lagi baik di bidang  akademis murni maupun bidang praktis. Melainkan sisi pribadi kemanusiaannya amat menarik. Saya sendiri mengalami dua moment perjumpaan dengan beliau yang memperlihatkan sisi ini.

Pertama, pada musim Semi 2003 kami sekitar 15 mahasiswa S3 pada Universitas Goethe, Frankfurt, diundang hadir dalam sebuah pertemuan dua hari bersama Habermas di semacam guest house milik Universitas Frankfurt. Dalam sebuah pembicaraan pada acara minum kopi saat rehat, Habermas yang mengetahui saya berasal dari Indonesia, berkata, bahwa ia baru saja mengunjungi China (2001), negeri Asia, yang telah mengundangnya berbicara di beberapa universitas dan politisi di sana. “Apa Anda berminat juga ke Indonesia, jika ada undangan nanti untuk acara serupa?” tanya saya kepadanya, sambil memikirkan kemungkinan ini dalam kerja sama STF dan Goethe Institut Jakarta di masa depan.

Baca Juga:  Paus Mengenang Banyak umat Kristen di Timur Tengah yang Menderita Bersama Kristus selama Pekan Suci

Habermas menjawab, bahwa ia kuatir, sang istri, Ute Wesselhoeft yang biasa menemani perjalanannya, tidak akan tahan dengan kelembaban udara (humiditas) yang tinggi di negara tropis, termasuk Indonesia. Jarang diketahui, bahwa menyangkut hidup pribadinya, Habermas adalah seorang family man yang memberikan nilai tinggi pada kehidupan keluarga. Mereka sudah membangun hidup rumah tangga sejak 1955 dan telah dikaruniai tiga anak dari perkawinan itu. Habermas memberi perhatian kepada keadaan kesehatan pasangan hidupnya ini. (Ute Habermas, sang istri, meninggal sembilan bulan yang lalu, Juni 2025) .

Kedua, bertahun-tahun kemudian, saat sudah lama kembali dari Jerman, bulan Desember 2023, kami melayangkan email kepada Habermas seraya memohon kesediannya untuk merayakan 300 lahirnya Kant (1724-1804) dalam rangka kerjasama STF dengan Goethe Institut dengan menyelenggarakan seminar di Jakarta.

Baca Juga:  Cara Paroki Gamping Merayakan Minggu Palma

Lama sekali email itu tidak dijawab. Baru 12 Februari 2024 (tanpa sengaja – ini tanggal wafatnya Kant 220 tahun lalu!) Habermas mengirimkan balasannya, bahwa dia sungguh minta maaf tidak bisa ke Indonesia lantaran keadaan fisiknya tidak memungkinkannya. Kami sebenarnya sudah punya Plan B berupa seminar zoom. Tetapi rencana ini kami urungkan, karena kemudian kami ketahui bahwa di bulan Desember 2023, saat email kami dilayangkan, Habermas ternyata baru saja mengalami kehilangan putrinya, Rebekka Habermas, seorang profesor sejarah pada universitas Gottingen, yang telah meninggal dunia. Ini berarti: Dalam waktu 1,5 tahun, Habermas telah kehilangan dua orang yang amat dikasihinya sebagai Bapak Keluarga: Putri sulungnya, Rebekka (Desember 2023) dan istrinya sendiri, Ute (Juni 2025). Tentu dua peristiwa sedih ini menyebabkan ratapan jiwanya.

Baca Juga:  Cara Paroki Gamping Merayakan Minggu Palma

Sang Pencerah dari Jerman itu, J. Habermas, menyusul mereka berdua dan meninggalkan dunia ini dalam usia 97 tahun. Tubuh dan jiwanya pergi, tetapi warisan  pemikirannya tinggal tetap.

Pastor S.P. Lili Tjahjadi, Ketua STF Driyarakara, Jakarta, Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles