HIDUPKATOLIK.COM – Perayaan Malam Paskah di Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius, Merauke, berlangsung penuh khidmat dan membawa pesan transformatif yang kuat bagi umat Katolik di Papua Selatan. Misa Vigili Paskah ini dipimpin langsung oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, dengan didampingi oleh Sekretaris Jenderal Keuskupan, Pastor John Kandam, dan Pastor Yohanis Elia Sugianto.

Dalam homilinya yang tajam dan reflektif, Mgr. Mandagi mengajak umat untuk tidak sekadar bersukacita atas kebangkitan Kristus, melainkan menjadikannya momentum pertobatan nyata di tengah dunia yang makin rentan terhadap “budaya kematian” dan kebohongan.
Analogi Realitas Sosial dan Kemenangan Salib
Mengawali khotbahnya dengan sentuhan humor dan pengamatan sosial-politik terkini, mulai dari isu harga BBM, konflik Timur Tengah, hingga dinamika politik nasional,
Uskup menyoroti bagaimana kejahatan sering kali dimanfaatkan demi keuntungan sekelompok orang. Ia mengontraskan intrik duniawi tersebut dengan kisah sengsara Yesus.
“Kuasa yang paling ditakuti oleh manusia, yakni kematian, dikalahkan dengan kebangkitan… Allah lebih kuat dari setan. Kebaikan lebih kuat dari kejahatan,” tegas Mgr. Mandagi.

Uskup menguraikan bagaimana rentetan pengkhianatan Yudas, ketidakadilan penguasa seperti Pilatus, dan fitnah yang menimpa Yesus, pada akhirnya runtuh oleh kuasa kebangkitan. Hal ini menjadi fondasi pengharapan agar umat Katolik tidak gentar menghadapi kuasa-kuasa gelap di sekitar maupun di dalam diri mereka sendiri.
Kritik Tajam Terhadap Budaya Kemunafikan dan Dusta
Lebih jauh, Mgr. Mandagi memberikan otokritik yang relevan terhadap kondisi sosial masyarakat, khususnya di Papua Selatan. Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kerap diiringi kesombongan, ia memperingatkan tentang merajalelanya kuasa jahat yang kini mewujud dalam “budaya tipu” dan kemunafikan.

Uskup secara lugas mengkritik fenomena kepura-puraan di masyarakat, di mana pembelaan terhadap daerah sering kali ditunggangi oleh kepentingan finansial dan ujung-ujungnya bermuara pada uang. Selain itu, beliau juga menyoroti peran media elektronik yang kerap memperlebar budaya dusta dengan membesar-besarkan hal kecil untuk menciptakan kekacauan.
“Kebenaran pasti menang. Dan dusta pasti kalah… Kita harus bergembira, tetapi juga kita harus berubah. Jangan sampai orang Katolik di Papua Selatan semakin banyak, tetapi kualitas imannya semakin merosot,” pesan Bapa Uskup.
Meneladani Carlo Acutis dengan Menjadi Terang di Era Digital
Menjawab tantangan zaman modern, Mgr. Mandagi mengajak umat untuk membaharui diri dan tampil sebagai “lilin-lilin Paskah” di rumah tangga, sekolah, dan lingkungan kerja. Secara khusus, ia mengangkat sosok Beato Carlo Acutis, seorang remaja ahli IT yang hidup di era modern, sebagai teladan.
Meskipun bergaul layaknya remaja pada umumnya, Carlo Acutis mampu menjadi terang dan tidak jatuh dalam pergaulan bebas, dengan menempatkan Ekaristi sebagai “jalan tol menuju surga”. Uskup mengingatkan bahwa Ekaristi adalah tanda nyata kehadiran Kristus yang bangkit di tengah-tengah umat saat ini.
Menutup permenungannya, Mgr. Mandagi menyoroti perkembangan luar biasa umat Katolik di berbagai belahan dunia, dari Asia, Afrika, hingga wilayah-wilayah yang sebelumnya tak terbayangkan. Ini adalah bukti nyata bahwa Kristus bangkit di mana-mana. Ia berharap kebangkitan yang sama juga mewujud melalui kesaksian hidup umat yang baik di Provinsi Papua Selatan.
Merujuk pada pesan kepausan, Uskup menutup homilinya dengan sebuah peneguhan: “Di tengah dunia yang dipenuhi kesedihan dan keputusasaan, kebangkitan Yesus mengingatkan bahwa yang putus asa disembuhkan… Kejahatan tidak akan menang.”
Pastor Roy Sugianto (Merauke)








