HIDUPKATOLIK.COM – Basilika Santo Petrus tampak hening dan sakral, menanti kedatangan Paus Leo XIV dan para petugas liturgi yang memasuki altar utama basilika. Paus Leo XIV memimpin perayaan meriah Hari Raya Pentakosta pada 24 Mei 2026, pukul 10.00 pagi waktu Roma. Setengah jam sebelumnya, umat diajak berdoa Rosario, sebuah tradisi di Vatikan sebelum dimulainya perayaan Ekaristi.
Para petugas koor menyambut kedatangan Paus Leo dengan nyanyian antifon pembukaan yang merdu, yakni “Spiritus Domini replevit orbem terrarum, alleluia”, yang dalam bahasa Indonesia berarti: “Roh Tuhan memenuhi seluruh dunia, alleluia.” Lagu ini merupakan antifon pembukaan khusus untuk perayaan Pentakosta, dengan teks yang diambil dari Kitab Kebijaksanaan 1:7. Nyanyian ini merupakan salah satu karya Gregorian yang paling dikenal, yang merayakan turunnya Roh Kudus atas para rasul.
Dalam homilinya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa Masa Paskah mencapai puncaknya pada Hari Raya Pentakosta. Ia mengajak umat untuk merenungkan karya luar biasa Roh Kudus dalam kehidupan para rasul. Bapa Suci mengajak umat untuk merenungkan Injil, ketika para murid diliputi rasa takut dan mengurung diri. Namun Yesus datang dan berdiri di tengah mereka, meskipun pintu-pintu tertutup, serta memenuhi mereka dengan sukacita dengan menyapa: “Damai sejahtera bagi kamu” (Yoh 20:19). Setelah itu, Ia menghembuskan Roh Kudus kepada para murid.
“Pentakosta adalah perayaan Paskah dan perayaan Tubuh Kristus, yang oleh kasih karunia kita semua menjadi bagian darinya,” kata Paus Leo.
Dalam homilinya, ia memfokuskan perhatian pada tiga aspek karya Roh Kudus, yakni Roh Damai, Roh Misi, dan Roh Kebenaran.
Pada aspek Roh Damai, Paus Leo menegaskan bahwa melalui Misteri Paskah-Nya, Kristus memulihkan perdamaian antara Allah dan umat manusia, dan Roh Kudus mencurahkan damai itu ke dalam hati kita serta menyebarkannya ke seluruh dunia.
“Damai ini berasal dari pengampunan dan menuntun kita kepada pengampunan,” kata Paus Leo.
Damai itu dimulai dari pengampunan yang diberikan oleh Yesus sendiri, yang telah kita khianati, kita hukum, dan kita salibkan, namun Ia tetap mengasihi kita dan berkata: “Jika kamu mengampuni dosa siapa pun, dosa mereka diampuni.” Dengan kata-kata ini, Yesus melibatkan kita dalam karya ilahi, karena hanya Allah yang dapat mengampuni dosa.
Selanjutnya, pada aspek misioner Roh Kudus, Paus mengutip sabda Injil: “Seperti Bapa telah mengutus Aku, demikian pula Aku mengutus kamu.”
Dengan demikian, kita ditarik ke dalam misi Yesus, Dia yang berasal dari Allah dan kembali kepada Allah melalui kuasa Roh, yang berasal dari Bapa dan Putra, serta disembah dan dimuliakan bersama mereka sebagai satu Allah. Roh Kudus adalah kasih Kristus yang hidup yang memenuhi, mendorong, dan menopang kita dalam misi Gereja.
“Saudara-saudari terkasih, kita sungguh rekan kerja Injil: seluruh Gereja adalah pelaku utama, bukan sekadar penjaganya,” kata Paus Leo.
Misi ini dimulai dengan pewartaan kebenaran tentang Allah dan manusia, karena Roh dari Yang Bangkit adalah Kebenaran.
Paus Leo mengatakan bahwa Roh Kudus, yang telah berbicara melalui para nabi, selalu mendorong persatuan dalam kebenaran karena Ia menanamkan dalam diri kita pengertian, harmoni, dan keselarasan hidup. Seperti diajarkan Santo Agustinus, “Roh Kudus menghendaki agar hal ini menjadi tanda kehadiran-Nya.”
Ia juga menegaskan bahwa Sang Penghibur melindungi kita dari segala sesuatu yang menghalangi pemahaman ini, termasuk keberpihakan, kemunafikan, dan arus zaman yang mengaburkan terang Injil. Kebenaran yang diberikan Allah menjadi sabda yang membebaskan bagi semua bangsa, sebuah pesan yang mengubah setiap budaya dari dalam.
Sebelum menutup homilinya, Paus Leo mengajak umat beriman untuk berdoa memohon Roh Kudus agar menyelamatkan umat manusia dari kejahatan perang, yang tidak diatasi oleh kekuatan, tetapi oleh kemahakuasaan kasih.
“Marilah kita berdoa agar Ia membebaskan umat manusia dari penderitaan, yang ditebus bukan oleh kekayaan yang tak terukur, melainkan oleh karunia yang tak habis-habisnya.”
Ia juga mengajak umat untuk berdoa agar Allah menyembuhkan kita dari luka dosa melalui keselamatan yang diwartakan kepada semua bangsa dalam nama Yesus.
“Inilah rahmat yang menanamkan keberanian pada para rasul; semoga Ia juga menanamkannya pada kita, hari ini dan selalu, melalui perantaraan Maria, Bunda Gereja,” katanya mengakhiri homilinya.
Setelah perayaan Ekaristi yang meriah, Paus Leo XIV memimpin doa Regina Caeli di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Ia muncul dari jendela tengah di lantai dua Istana Apostolik. Meskipun cuaca cukup panas, ribuan umat beriman tetap setia menunggu di Lapangan Santo Petrus.
Sr. M. Angela Siallagan FCJM, Kontributor dari Vatikan





