HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Minggu, 12 Juli 2026, Hari Minggu Biasa XV, Yes.55:10-11; Mzm.65:10abcd, 10e-11, 12-13, 14; Rm.8:18-23; Mat.13:1-9 (panjang) atau Mat.13:1-9 (singkat)SABAR itu tidak mudah. Dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, ada orang dengan mudah mengucapkan “sabarlah”. Namun kiranya semua setuju betapa beratnya bertahan saat mengalami kegagalan, penolakan atau hati terluka. Sabar bukan berarti tidak menangis, tak pernah kecewa atau merasakan kelelahan. Sabar adalah pilihan untuk tetap percaya kepada Tuhan kendati keadaan belum seperti diharapkan.
Selama beberapa minggu ke depan, Yesus mengajarkan perihal Kerajaan Allah. Pada hari minggu ini kita mendengar perumpamaan (mashal) tentang benih. Allah menabur dan terus menabur benih Sabda tentang Kerajaan Allah. Bermacam-macam kendala menghalangi bertumbuh dan berbuahnya benih itu. Namun benih Sabda yang ditaburkan itu tetap menghasilkan buah berlimpah (Mat. 13:8; Yes 55:11).
Prakarsa datang dari Allah Bapa. Ialah awal yang memberikan daya pertumbuhan kepada Kerajaan Allah itu. Bukan manusia melainkan Allah sendiri. Tanggung jawab manusia ialah membuka diri untuk menerima Kerajaan itu, memberinya peluang untuk bertumbuh dan setia menghasilkan buah dalam dan melalui dirinya. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat. 13:9).
Saat ini kita hidup dalam dunia yang berkembang lewat kendali kuasa dan keinginan manusia. Masa depan dunia dilukiskan seolah-olah semua akan serba mudah dan nyaman. Dengan ilmu dan teknologi manusia dapat menciptakan dunia baru tanpa campur tangan Allah. Namun di sisi lain pada waktu yang sama, manusia tak berdaya menghadapai apalagi meniadakan berbagai bencana, penyakit bahkan kehancuran atau ”lenyapnya” bumi yang dihuni manusia sendiri. Atas nama kemajuan, bumi dihancurkan karena isinya dikeruk habis-habisan melalui industri tambang, perkebunan, pertanian dan pelbagai bentuk eksploitasi alam tanpa kendali “demi kemakmuran dan kenyamanan” hidup manusia di bumi ini.
Bukanlah porsi manusia untuk membangun Kerajaan Allah di bumi ini. Manusia tak mampu menyelamatkan bumi dan dirinya dengan kekuatan diri sendiri. Hal utama dan pertama yang harus dikerjakannya ialah membuka diri, membangun suatu ruang bagi Allah dan mendengarkan Sabda-Nya.
Pada saat seorang imam mengurapi orang sakit, si sakit mengulurkan dan membuka kedua tangannya. Imam membubuhkan tanda salib pada telapak tangan si sakit dengan mengoleskan minyak. Dengan membuka dan mengulurkan kedua tangan dirinya siap menerima kesembuhan dari Allah. Dengan tangan kita menerima dan memberi, bekerja dan berdoa, sibuk dengan seribu satu hal. Tetapi kita bisa juga memberikan kesempatan kepada tangan itu untuk mengaso.
Yesus mengajarkan bahwa penabur keselamatan bukan manusia melainkan Allah. Keselamatan adalah pemberian, anugerah Allah. Ia terus menaburkan benih. Tak pernah berhenti menaburkan benih. “Bapa-ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Kegagalan dan kesulitan bukan halangan bagi-Nya. Ada burung-burung lapar yang memakan benih itu, ada tanah kering berbatu-batu, kekeringan mengakibatkan kecambah benih layu dan mati. Banyak faktor menghambat pertumbuhan benih. Tetapi bila benih jatuh di tempat yang tepat, di tanah yang subur dan terpelihara, satu benih itu menghasilkan sepuluh kali lipat bahkan seratus kali lipat.
Allah sendiri terus menaburkan di tengah-tengah manusia, sebagai undangan , panggilan dan tantangan. Adakah kita membiarkan benih itu tumbuh dan berakar? Panen macam apa yang lahir dari padanya? Marilah memberi kesempatan kepada Yesus hari ini untuk menyampaikan sabda-Nya. Mari kita menyambutnya dengan penuh kehangatan. Berikan kesempatan untuk berakar dan bertumbuh hingga menghasilkan panen yang melimpah dan indah.
Kugarapkah hidupku menjadi tanah subur dan terjaga untuk menghasilkan buah seratus kali lipat untuk kemuliaan Allah dan keselamatan sesama dan bersama?
“Bapa-ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh.5:17).





