spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Nada Bumi, dari Panggung ke Aksi Nyata

5/5 - (6 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Lampu panggung Aula sekolah Tarakanita Citra Raya meredup perlahan. Tepuk tangan masih bergema, seolah menahan malam agar tidak segera usai. Di atas panggung, rangkaian orkestra, tari, dan paduan suara telah mencapai penutupnya dalam Konser Amal bertajuk “Nada Bumi: Suara Ciptaan.” Namun yang tersisa bukan hanya kesan artistik, melainkan jejak makna—tentang iman yang bergerak menjadi tindakan.

Konser ini bukan sekadar agenda seni tahunan. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara pendidikan, refleksi iman, dan kepedulian sosial. Dana yang terkumpul dari kegiatan ini dipersembahkan untuk pembangunan Gereja St. Albertus Agung di Solear, Kabupaten Tangerang—sebuah kebutuhan nyata umat yang dijawab melalui gerakan bersama.

Di balik panggung yang tertata rapi, ada gagasan yang lahir dari permenungan. Ketua panitia, Agatha Gorenti Kismiyanti, menyebut bahwa kegiatan ini berangkat dari refleksi Aksi Puasa Pembangunan (APP) Keuskupan Agung Jakarta 2026: “Pertobatan untuk Merawat Bumi, Rumah Kita Bersama.” Ia menegaskan bahwa semangat tersebut juga berakar pada Arah Dasar (Ardas) Keuskupan Agung Jakarta, yang mendorong umat untuk tidak berhenti pada refleksi, tetapi melangkah ke aksi nyata.

Baca Juga:  TANAH INI MILIK SIAPA

“Pertobatan tidak cukup berhenti pada doa. Ia harus hadir dalam tindakan—dalam cara kita merawat sesama dan dunia yang dipercayakan kepada kita,” ujarnya. Dari kesadaran itu, konser ini dirancang bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi sebagai pengalaman belajar yang utuh.

Yang membuatnya berbeda, konser ini dibangun di atas kolaborasi yang luas. Siswa dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA tampil bersama dalam satu panggung yang sama—sebuah gambaran tentang keberagaman yang dipersatukan. Di balik layar, guru dan karyawan bekerja dalam ritme yang tak kalah harmonis. Forum Komunikasi Komite Sekolah dan Kelas (FKKSKM) turut mengambil peran, memperlihatkan bahwa orang tua bukan sekadar pendukung, melainkan bagian dari gerakan. Dukungan sponsor melengkapi jejaring ini, menjadikan konser tidak hanya mungkin terlaksana, tetapi juga berdampak.

Baca Juga:  Uskup Malang Tahbiskan 19 Diakon

Di tengah proses itu, para siswa belajar sesuatu yang tak selalu diajarkan di ruang kelas. Kartika Putri Silaban mengaku bahwa panggung malam itu menghadirkan lebih dari sekadar rasa gugup. “Ada rasa haru karena apa yang kami lakukan bisa berarti bagi orang lain,” katanya.

Dari sisi penonton, resonansi yang sama terasa. Dearista Verysia menyebut konser ini bukan hanya menghibur, tetapi menyentuh dimensi yang lebih dalam. “Ini bukan sekadar pertunjukan. Ada pesan yang terasa—tentang kepedulian dan kebersamaan. Kita tidak hanya menonton, tetapi diajak ikut merasakan,” ujarnya.

Pastor Felix Supranto, SSCC, Kepala Pastor Paroki Citra Raya, melihat kegiatan ini sebagai bagian dari pendidikan iman yang konkret. “Kepedulian tidak cukup diajarkan. Ia harus dialami. Ketika anak-anak terlibat, mereka belajar mencintai melalui tindakan,” katanya.

Puncak acara tiba pada momen yang ditunggu sekaligus menggetarkan. Panitia mengumumkan total dana yang terkumpul sebesar Rp177.380.901. Donasi tersebut kemudian diserahkan secara simbolis oleh Sr. Laurentina, CB, bersama Agatha Gorenti Kismiyanti, dan Cecilia Dewi Wulandari, kepada perwakilan pembangunan Gereja St. Albertus Agung di Solear. Dari pihak penerima, Antonius Paimo hadir mewakili panitia pembangunan. Seremoni itu berlangsung singkat, namun sarat makna—sebuah peralihan dari niat baik menjadi kontribusi nyata.

Baca Juga:  Imamat yang Tahan Guncangan

Di titik itu, konser menemukan maknanya yang paling jernih. Seni tidak lagi berhenti sebagai ekspresi, tetapi berubah menjadi aksi. Pendidikan tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kepekaan. Dan iman tidak lagi tinggal dalam kata-kata, melainkan hadir dalam perbuatan.

Di tengah riuh tepuk tangan penutup, tersisa satu kesadaran yang pelan namun kuat: bahwa ketika banyak tangan bersatu, kasih menemukan jalannya—diam-diam, tetapi nyata, dan menghidupkan.

Tim Jurnalis Belia SMA Tarakanita Citra Raya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles