HIDUPKATOLIK.COM – Ziarah Paus Leo XIV ke empat negara Afrika menyoroti kekuatan rakyat yang telah lama dibebani oleh kuk kolonialisme dan mengajak kita untuk turut serta membangun masa kini dan masa depan yang lebih adil, bersaudara, dan penuh kasih sayang

Perjalanan Paus di Afrika mengajak kita untuk membuka mata dan memperbarui hati kita, mendesak kita untuk bertindak agar kemanusiaan dapat menunjukkan wajah yang lebih sejati.
Saat ini, ribuan orang menunggu dan menemani Bapa Suci, berkumpul di sepanjang jalan tanah merah berdebu dan jalan-jalan kota. Seringkali, di balik pembatas, terdapat rumah-rumah beratap seng dan bangunan-bangunan yang usang dan rapuh; namun mata orang-orang dipenuhi dengan sukacita, dan senyum muncul begitu pandangan bertemu dengan sapaan.

Banyak yang menunggu berjam-jam hanya untuk melihat mobil Paus atau iring-iringan yang menyertainya, berharap mendapatkan foto atau kenangan abadi. Mereka bernyanyi, menari, mengibarkan bendera dan ranting, dan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Kunjungan ini adalah perjalanan ke dalam luka dan harapan orang-orang yang sering diabaikan, tetapi juga merupakan undangan bagi semua orang: untuk mengubah perspektif, untuk tidak berpaling, dan untuk membangun ikatan persaudaraan dan hubungan yang tulus tanpa menyerah pada rasa takut atau pasrah.
Afrika yang dikunjungi Paus Leo menunjukkan vitalitas dan energi yang luar biasa, serta kapasitas yang besar untuk masa depan. Pada saat yang sama, beban pengaruh kolonial yang berkelanjutan tetap terlihat jelas, karena kekuatan global terus membatasi dan mengendalikan potensi ini.
Di tempat-tempat di mana sumber daya diekstraksi, tanah dirusak oleh limbah beracun, dan konflik, perpecahan, dan korupsi dipicu, yang diambil oleh kekuatan politik dan ekonomi bukanlah hanya kekayaan, tetapi juga masa kini dan masa depan seluruh generasi.
Di planet yang ditandai oleh perang dan kekerasan, Penerus Petrus justru berupaya membangun jembatan, mendorong pertemuan, rekonsiliasi, kesadaran, persatuan, dan perdamaian.
Hal ini terlihat, misalnya, di kota Bamenda di barat laut Kamerun, yang telah terhubung kembali dengan seluruh negara selama kunjungan tersebut. Karena kekerasan yang terkait dengan krisis separatis—yang menyebabkan ribuan pengungsi dan banyak kematian—jalan-jalan sebagian besar telah hilang, dan bandara tidak dapat digunakan selama delapan tahun. Kedatangan Paus telah membantu memulai kembali tidak hanya rekonstruksi fisik, tetapi juga pembaruan harapan.

Melalui perjalanannya, Paus juga menyoroti realitas yang berbeda dari negara-negara yang dikunjunginya, menantang kecenderungan untuk memperlakukan Afrika sebagai satu kesatuan daripada benua yang beragam. Ia menunjukkan persatuan dalam keragaman dan martabat bersama keluarga manusia, di mana setiap orang adalah anak Allah. Ia menunjukkan kekayaan berbagai suara Gereja, yang dipanggil untuk membagikan pesan Injil, yang, ketika dihayati, menumbuhkan kreativitas dan membantu membangun masyarakat yang lebih adil, bersaudara, dan saling mendukung.
Paus menyerukan tanggung jawab bersama dan, dari Afrika, berbicara kepada seluruh dunia. Ia mengajukan pertanyaan mendasar yang mengajak kita masing-masing untuk bergerak menuju orang lain: untuk bertemu mereka, mengampuni mereka, mendukung mereka, dan berjalan bersama, mengambil tanggung jawab untuk membangun masa depan bersama. Di dunia yang sering dibentuk oleh perpecahan, kesombongan, dan ancaman, Bapa Suci menghadirkan wajah Kristus, yang memanggil setiap orang untuk berubah dengan menghayati komitmen itu dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui perjalanan ini, Leo membantu menghubungkan kembali umat manusia, mengembalikan martabat dan kebebasan untuk tumbuh dan berkembang kepada masyarakat, serta menantang klaim dominasi dan kontrol. (Vatican News/fhs)







