HIDUPKATOLIK.COM – Suasana penuh sukacita dan kebersamaan terlihat di Paroki Hati Tersuci Maria Katedral Manado, Sabtu (18/4/2026). Pada hari itu, Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu, MSC menahbiskan 10 diakon menjadi imam. Masing-masung tujuh diosesan dan tiga dari Tareka Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC)
Mereka adalah Pastor Ftederic Leonardo Ze (Paroki Sta Maria Bunda Penolong Abadi Beteleme Sulteng), Pastor Marcelino Ronaldo (Paroki Hati Kudus Yesus Tanawangko Sulut), Pastor Michael Mefri Kewo (Paroki Hati Kudus Yesus Keroit), Pastor Jecklin Carol Mononimbar (Paroki Hati Kudus Yesus Keroit Sulut), Pastor Beato Dionesius Pasalin (Paroki St. Clemens Kolaka Sultra), Pastor Wandelinus Gleko (Quasi Paroki Benedictus Abas Lalundu Sulteng), Pastor Christiano Mandagi (Paroki Sta Perawan Ratu Rosari Sinisir Sulut), Pastor Jenner Bernardus Senduk MSC (Paroki Bunda Hati Kudus Woloan Sulut), Pastor Yofalandus Lintong MSC (Paroki St. Thomas Modo Buol Sulteng) dan Pastor Yohanes Jeng MSC (Paroki St. Thomas Modo Buol Sulteng). Tak kurang dari 1000 umat hadir.

Ada sejumlah umat dan keluarga imam baru yang harus berdatangan untuk mengikuti peristiwa istimewa/penting tersebut dengan menempuh perjalanan darat ribuan kilometer dan menyeberang lautan, bahkan ada yang menggunakan kapal laut dan pesawat tapi dengan penuh semangat dan suasana hati yang gembira.
Mgr. Rolly mengungkapkan apresiasi dan rasa senangnya atas semangat yang ditunjukkan keluarga imam baru dan umat dari paroki imam baru tersebut.
Ia lantas menyebut kehadiran mereka, yang dari tempat yang jauh baik yang masuk di wilayah keuskupan Manado seperti Sangihe, Talaud, Luwuk Banggai, dari keuskupan lain seperti Toraja (Sulaweai Selatan), Ende dan Maumere (Nusa Tenggara Timur).
Setelah mengumumkan penempatann tempat bertugas para imam baru, Uskup menjelaskan seputar awal panggilan imamat yang dimulai dari keluarga.
Keluarga, menurut Uskup adalah seminari dasar. Yang dilanjutkan oleh para pembina di seminari-seminari mulai seminari menengah hingga seminari tinggi termasuk tahun diakonal, tahun pastoral di mana di saat tahun pastoral para pastores mendampingi. Kisah itu dilanjutkan oleh umat yang mendampingi mereka hingga mereka sampai pada apa yang dirindukan oleh kita semua (jadi imam).
“Juga, oleh doa-doa dari umat, pastores, oleh biarawan/biarawati, para suster, bruder, frater, semuanya mendukung perjalanan imamat mereka,” ujarnya.
Dikemukakan, mereka jadi begini (imam) karena kasih Allah yang begitu besar kepada mereka. Begitu besar kasih Allah bagi mereka. Kasih Allah tersebut tidak dapat diukur dengan persentasi.
Kalau mau diukur, 99 persen itu kasih Allah sementara satu persen adalah jawaban mereka (imam baru) terhadap panggilan Tuhan itu. Dan kita mengambil bagian dalam jawaban itu.
Mereka bisa jadi begini karena keterlibatan kita semua. Karena mereka bercermin di dalam keluarga-keluarga, umat termasuk imam-imam yang lebih senior dari mereka.
Uskup mengajak kepada para imam baru untuk bercermin kepada sejumlah senior-senior yang bahkan sudah berumur 80-an ktahun. Lewat kehadirian imam-imam senior ini, kita bercermin bahwa ini betul-betul pastor yang setia,
Dengan perjalanan imamat ini, kata Uskup, kita juga patut bersyukur karena ini adalah pemberian Tuhan kepada kita sekalian, yang luar biasa dan sulit diukur dengan cara manusia menilai yang memberi indeks nilai prestasi.
Provinsial MSC Indonesia Pastor.Hironimus Ronny Dahua, MSC dalam sambutannya mengingatkann para imam-imam baru untuk merawat imamat dengan sebaik-baiknya.
Lexie Kalesaran (Manado)








