HIDUPKATOLIK.COM – Perayaan Ekaristi memperingati Dies Natalis ke-94 Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero dipimpin langsung oleh Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD. Perayaan yang berlangsung penuh khidmat dan sarat refleksi mendalam ini terjadi pada sore Jumat, 17 April 2026, bertempat di Aula St. Thomas Aquinas, Kampus I, IFTK Ledalero.
Di bawah tema perayaan “Kebijaksanaan yang Membebaskan”, Mgr. Budi bersama puluhan imam berarak menuju altar tepat pukul 16.00 WITA.
Dalam homilinya, ia merefleksikan urgensi kebijaksanaan dalam diri manusia zaman ini.

Uskup mengatakan bahwa kebijaksanaan sejati mesti memiliki daya yang membebaskan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas. “Kebijaksanaan mesti membebaskan diri kita, sekaligus melepaskan dunia dan bangsa kita dari berbagai bentuk keterbelengguan,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, saat ini dunia tidak kekurangan orang pintar, kaya, atau berkuasa, melainkan kekurangan ruang bagi orang-orang bijaksana. Pandangannya ini berangkat dari realitas sosial di mana, panggung publik lebih mudah diakses oleh kelompok yang pintar, kaya, dan berkuasa, bukan oleh orang-orang yang bijaksana.
Padahal, menurut Mgr. Budi, kebijaksanaan tidak dapat diidentikkan dengan banyaknya pengetahuan, kuatnya pengaruh politis, atau berlimpahnya harta seseorang. “Bijaksana berarti mampu merenungkan pengetahuan yang dimiliki. Bijaksana berarti mampu menguasai kekayaan, bukan sebaliknya dikuasai olehnya. Bijaksana berarti mampu menghormati orang lain, sekalipun Anda berkuasa” tegasnya.
Lebih jauh, ia juga menyoroti kebutuhan mendesak akan pribadi-pribadi bijak dalam berbagai bidang kehidupan. Misalnya, dalam bidang politik, dibutuhkan pemimpin yang tidak mempertaruhkan nasib banyak orang demi mengejar ambisi pribadi. Atau, dalam bidang pembangunan, dibutuhkan sosok yang tidak hanya mengejar ilusi kesejahteraan ekonomi, tetapi mampu menyadari bahaya eksploitasi alam yang mengabaikan keberlanjutan dan kohesi sosial. “Keinginan akan kesejahteraan yang dibangun dengan merusak alam dan menghancurkan relasi sosial adalah kesejahteraan semu yang menyembunyikan petaka,” ujarnya.
Berangkat dari urgensi pribadi-pribadi bijaksana di atas, ia menawarkan tiga jalan menuju kebijaksanaan. Pertama, memelihara ingatan. Kebijaksanaan menuntut kemampuan untuk belajar dari sejarah – baik keberhasilan maupun kegagalan. “Bijaksana berarti berani mengingat masa lalu bukan untuk terjebak dalam nostalgia atau luka, tetapi untuk menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan hari ini” katanya.
Kedua, mempertajam visi. Ia merujuk pada kisah Injil tentang Yesus memberi makan lima ribu orang sebagai simbol solidaritas dan berbagi, demikian orang bijak mesti mampu melihat kesulitan saat ini dan tidak terperdaya oleh kesuksesan sesaat. Tindakan berbagi, menurutnya, tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga membangun masa depan yang penuh harapan.
Ketiga, menempuh jalan pertobatan. Kebijaksanaan menuntut keberanian untuk berubah dan berpihak pada mereka yang menderita. Ia mengajak civitas akademika untuk terlibat aktif dalam isu-isu sosial seperti ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, dan perdagangan manusia. “Kita dipanggil untuk menjadi bagian dari solusi, sekecil apa pun langkah yang bisa kita ambil,” ujarnya.

Di akhir perayaan Ekaristi, Prof. Otto Gusti Madung selaku Rektor IFTK Ledalero menyampaikan beberapa hal mengenai arah perjalanan institusi ini ke depan. Menurut Guru Besar bidang Filsafat Politik ini, ke depannya IFTK Ledalero berfokus pada pembangunan mutu akademik dan penguatan reputasi nasional serta internasional.
Sementara itu, perayaan Dies Natalis ini turut dihadiri pula oleh berbagai tokoh dan undangan, antara lain para pejabat Kementerian Pendidikan Tinggi, pejabat LLDIKTI Wilayah XV, Ketua Yayasan Persekolahan Santo Paulus Ende, Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Preses Seminari Diosesan St. Petrus Ritapiret, para dosen dan tenaga kependidikan, para alumni, serta seluruh mahasiswa IFTK Ledalero.

Laporan Chia Benu, mahasiswi di IFTK Ledalero, Maumere






