spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Mandagi: Jadilah Pintu Damai, Bukan Perampok

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Peringatan Hari Minggu Paskah IV yang bertepatan dengan Hari Minggu Panggilan Sedunia di Gereja Katedral Merauke menjadi momentum refleksi kritis bagi umat Katolik.

Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus C. Mandagi, MSC tidak sekadar memberikan homili normatif, melainkan melontarkan otokritik yang tajam dan seruan kenabian yang menyentuh akar permasalahan sosial: mulai dari keangkuhan penguasa global, kehancuran institusi keluarga, friksi sosial di Papua, hingga kemunafikan di dalam hierarki Gereja itu sendiri.

Menelanjangi “Perampok” Berkedok Pemimpin Dunia

Berangkat dari metafora Injil tentang “Yesus sebagai Pintu”, Mgr. Mandagi membuka homilinya dengan sebuah kontras yang tajam antara Gembala Sejati dan para “Pencuri”. Di ranah global, Uskup Agung menyoroti bagaimana panggung politik dunia kerap diisi oleh figur-figur yang mengeksploitasi kekuasaan.

Ia menyentil praktik negara-negara adidaya dan para pemimpin dunia yang menggunakan kekuatan finansial dan militer bukan untuk menyejahterakan, melainkan untuk menghancurkan pihak lain demi mempertahankan supremasi. Mereka digambarkan sebagai sosok yang rakus, yang hanya mementingkan “keselamatan duniawi” bagi diri dan kelompoknya sendiri, namun membinasakan orang-orang yang tidak berdosa.

Di tengah narasi perang dan keangkuhan politik, Mgr. Mandagi mengangkat sosok Bapa Suci Paus Leo XIV sebagai antitesis. Paus tanpa lelah terus mewartakan pengampunan dan damai tanpa memandang bulu, entah kepada narapidana, umat beda agama, maupun bangsa-bangsa yang berkonflik. Kepemimpinan sejati menurut standar Kristus tidak ditentukan oleh suku, faksi politik, atau kekuatan senjata, melainkan pada keberanian untuk membawa sukacita dan damai sejahtera yang melimpah.

Baca Juga:  Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni: Menjadi Gembala yang Baik

Tragedi “Perampok” di Dalam Rumah Tangga

Kritik Uskup Agung kemudian menukik tajam ke ranah yang paling intim: keluarga. Ia membongkar ilusi bahwa “perampok” hanya ada di jalanan atau di gedung parlemen. Sering kali, perampok kedamaian itu justru bertahta di meja makan keluarga.

Mgr. Mandagi dengan gamblang menyebutkan fenomena orang tua yang menelantarkan anak karena terjerat egoisme. Figur ayah yang gemar mabuk-mabukan atau orang tua yang mencari keuntungan diri sendiri tanpa memedulikan penderitaan batin anak-anaknya adalah wujud nyata dari “serigala” di dalam rumah. Anak-anak menjadi korban yang kehilangan masa depan karena tidak menemukan sosok gembala di rumah mereka.

Ia menyoroti pasangan yang tidak saling menghadirkan rasa aman. Kehadiran suami yang temperamental, diibaratkan dengan “muka singa” yang terus menekan batin atau istri yang tidak mendukung, mengubah rumah yang seharusnya menjadi surga kecil menjadi neraka yang penuh tekanan. Uskup mengingatkan bahwa panggilan pernikahan adalah panggilan untuk saling menyelamatkan dan menjadi “pintu” kasih sayang satu sama lain.

Berhenti Menghancurkan Sesama Demi Ambisi

Secara spesifik, Mgr. Mandagi menarik sabda Injil ke dalam konteks lokal realitas sosial masyarakat Papua. Ia menyuarakan keprihatinan yang mendalam atas hilangnya rasa persaudaraan dan empati di tengah masyarakat.

Uskup menyoroti iklim kompetisi tak sehat di Papua, di mana orang rela saling menghancurkan dan mengorbankan kedamaian hanya demi ambisi dan ego pribadi. Sikap rakus, kikir, dan sombong telah membutakan nurani, membuat manusia merasa terancam dengan keberadaan sesamanya.

Baca Juga:  Legio Maria adalah Karya Roh Kudus

Selain itu, ia memberikan apresiasi kepada pejabat, tentara, dan polisi yang baik, namun juga memberi peringatan keras. Aparatur negara tidak boleh menjadi sosok pemeras darah rakyat atau alat kekerasan yang membuat rakyat menderita. Mereka dituntut memegang prinsip keadilan sekaligus pengampunan.

Menolak Kemunafikan Awam hingga Hierarki

Sebagai perayaan Hari Minggu Panggilan, Uskup tidak segan-segan “membersihkan halaman rumah sendiri.” Beliau menuntut otentisitas dari seluruh umat Katolik tanpa kecuali.

Ia melayangkan teguran keras terhadap para imam atau biarawan yang tidak setia pada panggilan hidupnya. Beliau menyindir keras fenomena klerus yang pemalas atau melanggar janji selibat, seperti memiliki hubungan gelap. Ini adalah bentuk kebohongan publik dan pengkhianatan terhadap komitmen sebagai gembala.

Di sisi lain, umat awam juga dikritik tajam. Uskup mengecam fenomena “Katolik KTP”: Katolik sekadar disiram air baptis di kepala namun hidupnya hancur-hancuran, malas beribadah, atau bersikap membangkang terhadap hierarki Gereja. Ia mendesak umat agar memiliki kepatuhan dan integritas; Katolik yang sejati adalah mereka yang taat pada Kristus dan berpadu dengan Gereja.

Ia menekankan prinsip kepemimpinan pastoral yang klasik: Tegas dan kukuh dalam memegang prinsip moral (keadilan/kebenaran), namun tetap lembut, penuh kasih, dan beradab dalam penyampaian serta tindakannya.

Kuasa Roh Kudus vs Filososfi Kafir “Si Vis Pacem Para Bellum”

Baca Juga:  Wanita Katolik RI Luncurkan LASKAR TANNA: 100 Perempuan Pelopor Perlindungan dari Seluruh Indonesia Berkumpul di Jakarta

Pada puncaknya, homili Uskup meruntuhkan filosofi sekuler mengenai perdamaian dan memberikan kesaksian hidup yang heroik.

Mgr. Mandagi mengecam pepatah klasik “Si vis pacem, para bellum” (Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang). Beliau dengan tegas menyebut ini sebagai “pepatah kafir”. Kekristenan sejati menolak gagasan bahwa damai bisa diciptakan dari ujung laras senapan. Damai hanya bisa datang dari pertobatan hati dan teladan hidup.

Uskup membagikan pengalaman pribadinya yang sangat emosional dan menegangkan saat menjadi Uskup Amboina di tengah konflik sektarian Maluku yang berdarah. Meski dihina, diancam dibunuh, dan ditolak, beliau tetap berdiri sebagai agen perdamaian. Keberanian itu, akunya, bukan dari kekuatan manusiawi, melainkan karena kuasa Roh Kudus yang hidup di dalam hatinya melalui doa yang hening dan Ekaristi. Tanpa Ekaristi, manusia akan dikuasai roh jahat dan berubah menjadi pembunuh.

Mengakhiri khotbahnya, Uskup menyoroti fenomena menggembirakan di mana ribuan anak muda di Prancis, Amerika, Australia, Singapura, dan Malaysia berbondong-bondong memeluk iman Katolik. Ini membuktikan bahwa di tengah zaman modern yang lelah dengan egoisme dan kekerasan, kesaksian damai dari umat Katolik tetap menjadi mercusuar harapan.

 Melalui homili yang masif ini, Uskup mengajak umat Keuskupan Agung Merauke untuk bangun dari tidur rohani. Menjadi pengikut Kristus di era modern berarti harus siap menjadi martir perdamaian, menjadi pintu yang membawa kehidupan, bukan perampok yang membinasakan.

 

Pastor Roy Sugiyanto (Merauke)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles